Categories
Syarah Asmaul Husna

Kesalahan-Kesalahan Berkaitan Al-Asma’ Al-Husna

Kesalahan-Kesalahan Berkaitan Al-Asma’ Al-Husna

Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.

  1. Menamakan Allah ﷻ dengan nama tanpa dalil

Karena Nabi Muhammad ﷺ berdoa,

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ

“dan aku memohon kepadamu dengan segala nama yang Engkau namakan diri-Mu dengannya.” ([1])

Maka tidak boleh kita menamakan Allah ﷻ dengan nama yang tidak ada dalilnya.

Contoh:

  • Orang-orang Nasrani yang menamakan Allah ﷻ dengan الأَبُّ (Bapa), ini penamaan yang tidak benar karena Allah ﷻ bukanlah Bapa dan Allah ﷻ tidak memiliki anak.
  • Para filsuf menamakan Allah ﷻ dengan العِلَّةُ الْفَاعِلَة (sebab utama/sempurna)

Masalah:

Bagaimana dengan menamakan Allah ﷻ dengan Tuhan?

Jawab:

Tuhan bukanlah nama Allah ﷻ, kita boleh memanggil Allah ﷻ dengan Tuhan sebagai khabar, akan tetapi kita bukan menamakannya. Contohnya seperti ketika kita mengatakan “Allah ﷻ adalah sang pembuat segalanya” maka “sang pembuat segalanya” bukanlah nama Allah ﷻ. Jika kita ingin memuji Allah ﷻ maka hendaknya kita menggunakan nama-nama Allah ﷻ yang Allah ﷻ telah namakan diri-Nya dengan nama-nama tersebut.

  1. Menjadikan nama-nama Allah ﷻ sebagai jimat.

Sebagian orang banyak menulis nama-nama Allah ﷻ lalu nama-nama tersebut digantung di rumah, dipakai di ikat pinggang, dan lain-lainnya.

  1. Berzikir dengan hanya mengulang-ulang satu nama Allah ﷻ yang hal ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat. Contohnya:
  • Orang yang menjadikan lafal “Allah” sebagai zikir yang dibaca sebanyak 1000x maka ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat.
  • Menjadikan lafal “Ar-Rahman” dijadikan sebagai bahan berzikir yang dibaca sebanyak 100x.
  • Menjadikan lafal “Al-Ghafur” dijadikan zikir yang dibaca sebanyak 1000x.

Cara yang benar dalam beribadah dengan nama-nama Allah ﷻ adalah dengan berdoa menyebut nama tersebut sesuai dengan yang kita inginkan.

Kebanyakan zikir-zikir Rasulullah ﷺ  adalah dengan kalimat yang sempurna. Contohnya:

  • الله أَكْبَرُ yang maknanya jelas yaitu Allah ﷻ maha besar.
  • لَا إِلَه إِلّا الله yang maknanya tidak sembahan yang berhak disembah kecuali Allah ﷻ.
  • سُبْحَانَ اللهِ yang maknanya maha suci Allah.
  • لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ yang maknanya tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah ﷻ.
  • سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ yang maknanya Mahasuci Engkau dan Maha kudus Tuhan para malaikat dan Jibril.

Jika kita berzikir dengan lafal-lafal ini maka maknanya sangat jelas. Berbeda dengan sebagian orang yang berzikir dengan menyebut lafal “اللَهُ” saja sebanyak 100 x maka maknanya tidak sempurna, terlebih lagi orang yang berzikir hanya dengan lafal “هُوَ” (Dia) sebanyak 100 kali maka maknanya lebih tidak jelas. Kita katakan kepada mereka bahwa cara berzikir seperti ini tidak sesuai sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Jadi zikir-zikir yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah menggunakan kalimat-kalimat sempurna yang mengandung makna yang sempurna sehingga orang-orang bisa merenungkan kandungan makna zikir tersebut.

  1. Orang-orang Muktazilah mengatakan nama-nama Allah ﷻ tidak bermakna dan hanya sekedar nama.

Ini adalah akidahnya orang-orang Jahmiyah, di mana mereka mengatakan bahwa Ar-Rahman, Al-Ghafur, Al-Alim, dan lainnya semuanya memiliki makna yang sama. Adapun kita sebagai Ahlusunah Waljamaah mengatakan setiap nama-nama Allah memiliki makna-makna yang berbeda. Mereka memahami demikian karena mereka memiliki syubhat yang semuanya telah penulis jelaskan dalam Syarah al-Aqidah Al-Wasithiyah.

  1. Sebagian orang berdoa dengan sifat Allah ﷻ. Contohnya mereka berdoa dengan: “يَا رَحْمَةَ الله” (wahai rahmat Allah) dan “يَا قُدْرَةَ الله” (wahai kekuatan/kekuasaan Allah), yang benar adalah berdoa dengan “يَا رَحِيْمُ” (wahai sang maha pemberi rahmat) dan “يَا قَدِيْرُ” (wahai sang maha kuasa), karena ketika kita berdoa yang kita panggil adalah nama bukan sifat.

Footnote:

__________

([1]) HR. Bazzar No. 1994, dan dinyatakan oleh Al-Albani dalam kitabnya Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib No. 1822.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *