Categories
BAB 6

Doa Antara Adzan dan Iqomat Waktu Mustajab – Hadis 13

Hadits 13
Doa Antara Adzan dan Iqomat Waktu Mustajab

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ لَا يُرَدُّ. أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُه

Dari Anas Radhiallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda: “Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak.” Riwayat Nasa’i dan selainnya. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan lain-lain. ([1])

Di antara waktu-waktu yang mustajab atau mudah dikabulkan oleh Allah, yaitu:

Pertama, pada hari jumat. Nabi bersabda tentang waktu di hari jumat tersebut,

«فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ» وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

“Di hari Jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas ia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta.” Dan beliau berisyarat dengan tangannya akan sebentarnya waktu tersebut. ([2])

Para ulama berbeda pendapat kapan tepatnya waktu pada hari jumat tersebut dimana doa menjadi mustajab. Namun pendapat terkuat mengerucut pada dua pendapat,

Pendapat pertama, antara duduknya imam di mimbar hingga selesai shalat. Berdasarkan hadits dari Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah bersabda,

هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ

“Waktu tersebut adalah antara imam duduk ketika khutbah hingga imam menunaikan shalat Jumat.” ([3])

Pendapat kedua, ba’da Ashar sampai tenggelamnya matahari. Berdasarkan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“(Waktu siang) di hari Jumat ada 12 (jam). Jika seorang muslim memohon pada Allah sesuatu (di suatu waktu di hari Jumat) pasti Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Carilah waktu tersebut yaitu di waktu-waktu akhir setelah ‘Ashar.” ([4])

Kedua, di sepertiga malam terakhir. Berdasarkan hadits yang masyhur dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺbersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” ([5])

Ketiga, ketika terjaga di malam hari. Dari ‘Amr bin ‘Anbasah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ بَاتَ عَلَى طُهُوْرٍ ثُمَّ تَعَارُ مِنَ اللَّيْلِ فَسَأَلَ اللَّه مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا اَوْ مِنْ أَمْرِ اْلآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ

“Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun padamalam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya”. ([6])

Keempat, ketika bertemunya kedua pasukan dalam peperangan. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺbersabda,

ثِنْتَانِ لاَ تُرَدَّانِ أَوْ قَلَّمَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَعِنْدَ الْبَأْسِ حِيْنَ يَلْتَحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

“Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak; doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk.” ([7])

Sebagaimana Allah juga isyaratkan dalam Al-Quran, Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung.” ([8])

Kelima, ketika hujan turun. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَتَحْتَ الْمَطَرِ

doa pada waktu kehujanan.”([9])

Keenam, saat bersujud. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu” ([10])

Ketujuh, di antara adzan dan iqamah. Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺbersabda,

لاَ يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ اْلآذَانِ وَاْلإِقَامَةِ

“Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah.” ([11])

Kedelapan, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺbersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” ([12])

Kesembilan, doa orang yang terzhalimi. Dalilnya sama seperti poin sebelumnya.

Kesepuluh, ketika malam lailatul qadar.

Itulah beberapa waktu-waktu dan keaadaan dimana doa menjadi lebih mudah untuk dikabulkan. Hendaknya setiap hamba untuk berusaha memanfaatkan semaksimal mungkin waktu-waktu dan keadaan tersebut untuk berdoa kepada Allah.

Footnote:

____________

([1]) HR. An-Nasai No. 9814, dan disahihkan oleh Ibnul Qoyyim dan Al-Albani. Lihat: Ats-Tsamar Al-Mustathoob Fii Fiqh As-Sunnah Wal Kitaab 1/200

([2]) HR. Bukhari, no. 935; Muslim, no. 852

([3]) HR. Muslim, no. 853

([4]) HR. Abu Daud, no. 1048 disahihkan oleh Al-Albani

([5]) HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758

([6]) HR Ibnu Majah no. 3924 disahihkan oleh Al-Albani

([7]) HR Abu Daud, no. 2540 disahihkan oleh Al-Albani

([8]) QS. Al-Anfal: 45.

([9]) HR. Hakim No. 2534 beliau mengatakan hadits ini sanadnya shohih

([10]) HR. Muslim, no. 482

([11]) HR. Abu Daud, no. 521, dan disahihkan oleh Al-Albani

([12]) HR. Tirmidzi No. 3598, didhaifkan oleh Al-Albani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *