Categories
BAB 6

Doa Minta Diperbaiki Kehidupan Dunia dan Akhirat – Hadis 25

Hadits 25
Doa Minta Diperbaiki Kehidupan Dunia dan Akhirat

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:  كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي اَلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ اَلَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي اَلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ اَلْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ اَلْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ.  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ‘anhu berkata: Rasulullah pernah membaca doa: “(Artinya = Ya Allah perbaikilah agamaku karena ia merupakan pangkal urusanku perbaikilah duniaku karena ia merupakan penghidupanku perbaikilah akhiratku karena ia merupakan tempat kembaliku dan jadikanlah hidup sebagai kesempatan untuk menambah setiap kebaikanku dan jadikanlah mati sebagai pelepas diriku dari setiap kejahatan).”([1])

أَصْلِحْ لِي دِينِي اَلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي “perbaikilah agamaku karena ia merupakan pangkal urusanku” yaitu penjagaku dari api neraka karena tidak ada yang bisa menyelamatkan dari api neraka kecuali agama. Itulah penjaga utama seseorang. Oleh karena itu, di antara doa Nabi ﷺ yang lain,

اَللّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Ya Allah , janganlah engkau jadikan musibah dalam urusan agama kami, dan jangan pula engkau jadikan dunia ini adalah tujuan terbesar dan puncak dari ilmu kami.”([2])

Musibah agama di antaranya malas dalam beribadah, yang tadinya rajin baca Al-Quran menjadi malas, tadinya rajin bersedekah menjadi pelit, tadinya menjaga pandangan kemudian mudah mengumbar pandangannya, tadinya sering husnuzan kepada orang sekarang sering suuzan, dan seterusnya.

وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ اَلَّتِي فِيهَا مَعَاشِي

“perbaikilah duniaku karena ia merupakan penghidupanku” Sama seperti pada hadits sebelumnya, yaitu boleh meminta kebaikan dalam masalah dunia. Tidak ada masalah berdoa agar rumahnya nyaman, kendaraannya baik, bisnisnya lancar, yang penting semuanya dengan tujuan agar menjadi sarana beribadah kepada Allah ﷻ.

وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي اَلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادِي

“perbaikilah akhiratku karena ia merupakan tempat kembaliku” Dia berdoa agar tidak terpedaya dengan dunia lalu melupakan akhiratnya, karena itulah tempat kembali yang hakiki. Siapkanlah istana di akhirat dengan memperbanyak amal saleh.

وَاجْعَلْ اَلْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ

“jadikanlah hidup sebagai kesempatan untuk menambah setiap kebaikanku” Bukanlah yang kita inginkan adalah sekadar tambahan umur tak berfaedah atau tambahan umur tetapi tambah bermaksiat pula. Namun yang kita inginkan adalah kehidupan yang menambah kebaikan. Doa ini sekaligus mengajak kita untuk bermuhasabah/mengintrospeksi diri, apakah penambahan umur kita juga menambah kebaikan untuk kita atau tidak.

Oleh karena itu, dalam sebuah hadits dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya,

أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya.”([3])

Ada orang yang kita jumpai umurnya sudah tua dan dia habiskan dalam kebaikan dan ibadah kepada Allah ﷻ. Namun ada pula orang yang umurnya tua namun dia habiskan dalam keburukan dan kemaksiatan, sehingga hanya menjadi bumerang untuk menyerangnya di akhirat kelak.

وَاجْعَلْ اَلْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“jadikanlah mati sebagai pelepas diriku dari setiap kejahatan” Ini seperti doa Nabi yang lain,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ المَسَاكِينِ، وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ

“Ya Allah , aku memohon kepada-Mu agar aku dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan perbuatan munkar, mencintai orang miskin, Jika Engkau hendak menimpakan suatu fitnah (malapetaka) pada hamba-hambamu, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah itu.”([4])

Artinya jika ternyata kehidupan ini hanya menambah fitnah dan dosa bagi kita sehingga bisa merusak kehidupan dan agama kita, lebih baik kita diselamatkan dari hal-hal tersebut. terutama di zaman sekarang ini, seseorang mudah terpapar oleh fitnah. Karenanya antara sesama muslim perlu saling mengingatkan satu sama lain agar tidak terjerumus dalam fitnah.

Footnote:

____________

([1]) HR. Muslim no. 2720.

([2]) HR. Tirmidzi no. 3502. dikatakan hadits hasan oleh Syu’aib Al-Arnauth.

([3]) HR. Tirmidzi no. 2330, dihasankan oleh Al-Albani dalam ta’liqnya.

([4]) HR. Tirmidzi no. 3233. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam ta’liqnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *