Categories
6. Al-An'am

Tafsir Surat Al-An’am Ayat-165

165. وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمْ خَلَٰٓئِفَ ٱلْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلْعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌۢ

wa huwallażī ja’alakum khalā`ifal-arḍi wa rafa’a ba’ḍakum fauqa ba’ḍin darajātil liyabluwakum fī mā ātākum, inna rabbaka sarī’ul-‘iqābi wa innahụ lagafụrur raḥīm
165. Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tafsir :

Maksud ayat ini adalah, bahwa Allah ﷻ telah menjadikan kalian ada di muka bumi, setelah orang-orang sebelum kalian telah tiada. Begitu juga ketika kalian binasa, maka akan muncul generasi yang baru. Demikianlah hal tersebut akan terjadi secara terus menerus, hingga Hari Kiamat tiba. ([1])

Sebagian ulama juga berdalil dengan ayat ini, bahwasanya harta yang dimiliki seseorang bukanlah miliknya sesungguhnya. Hal ini dikarenakan dia  hanyalah wakil yang dititipkan harta oleh Allah ﷻ, sehingga dia harus bertanggung jawab untuk mengolah harta sesuai dengan aturan Allah ﷻ. Allah ﷻ lah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, sehingga Dialah pemilik sesungguhnya atas seluruh yang ada di alam semesta ini. Jangankan harta, bahkan jasad dan jiwa kita sendiri pun hakikatnya adalah milik Allah ﷻ.

Dalam ayat lainnya Allah ﷻ berfirman,

﴿وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ﴾

“dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” (QS. Al-Hadid: 7)

Yaitu Allah ﷻ menjadikan harta tersebut berpindah ke tangan kalian, yang mana sebelumnya ia berada di tangan orang lain. Begitu juga setelahnya, harta tersebut akan dipindahkan ke tangan orang lain.

Demikianlah harta, dia hanya menetap sesaat, lalu dia akan berpindah ke yang lainnya. Karenanya, seorang yang cerdas akan memanfaatkan harta tersebut dengan sebaik-baiknya selama ia masih berada dalam genggamannya. Seorang yang bijak, pastilah akan menginvestasikan hartanya yang fana, pada laba yang dijamin abadi, yaitu keridaan-Nya dan Surga-Nya.

Firman-Nya,

﴿وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ﴾

“dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu..” (QS. Al-An’am: 165)

Allah ﷻ menjelaskan bahwa Allah ﷻ memberikan jatah dan kadar yang berbeda-beda kepada setiap hamba-Nya, baik dalam hal rezeki, kekuatan fisik, kesehatan, ilmu, kemuliaan, dan sejenisnya. Tentunya semua itu berdasarkan hikmah-Nya dan keadilan-Nya yang mahasempurna, Allah ﷻ berfirman,

﴿أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَاۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّاۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ﴾

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Jika Allah ﷻ menciptakan seluruh manusia dengan jatah yang sama dalam segala hal, bagaimana mungkin kehidupan akan berjalan di muka bumi ini?! Inilah hikmah Allah ﷻ, yang amat sedikit dari kita yang menyadarinya.

Semua yang Allah ﷻ berikan merupakan ujian bagi manusia. Allah ﷻ berfirman,

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ﴾

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. AlAnbiya: 35)

Jadi, yang didapatkan oleh semua orang adalah ujian. Bisa jadi seseorang diuji dengan kebaikan, dan bisa jadi seseorang diuji dengan keburukan.

Secara literal, ayat terakhir dari surah Al-An’am ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ menguji seseorang dengan kenikmatan. Segala kenikmatan yang Allah ﷻ berikan merupakan ujian bagi seseorang, baik harta, kedudukan, jabatan, ketampanan, kecerdasan, kesehatan, dan yang sejenisnya. Oleh karenanya, ketika Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam berhasil mendatangkan singgasana Ratu Balqis dalam sekejap mata ke hadapannya, beliau ‘Alaihissalam pun berkata,

﴿هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ﴾

“Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku, apakah aku bersyukur, atau kah aku malah ingkar (akan nikmat-Nya).” (QS. An-Naml: 40)

Maka kita semua harus ingat, bahwa semua yang kita miliki ada pertanggungjawabannya dan akan dipertanyakan. Allah ﷻ berfirman,

﴿ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ﴾

“kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8)

Firman-Nya,

﴿إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾

“Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat ini, Allah ﷻ menjelaskan bahwa jikalau Dia ingin menyiksa, maka siksaan-Nya sangatlah cepat. Sehingga hendaknya kita berhati-hati agar tidak bermaksiat, karena jika Allah ﷻ berkehendak, maka Allah ﷻ sangat cepat dalam menyiksa.

Akan tetapi, Allah ﷻ tetap menutup ayat ini dengan menyebutkan sifat ampunan dan kasih sayang-Nya. Bahkan bukan sekedar menyebutkan, Allah ﷻ juga menegaskannya dengan membawakan dua metode penekanan makna, yaitu huruf taukid inna (إِنَّ), dan lam taukid (لَــــ). Jadi, dalam ayat ini Allah ﷻ lebih menegaskan sifat ampunan-Nya, daripada cepatnya siksaan dan perhitungan-Nya.([2])

_______________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (12/288) dan Tafsir al-Qurthubi (7/158)..

([2]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (8/212).

Categories
6. Al-An'am

Tafsir Surat Al-An’am Ayat-164

164. قُلْ أَغَيْرَ ٱللَّهِ أَبْغِى رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَىْءٍ ۚ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

qul a gairallāhi abgī rabbaw wa huwa rabbu kulli syaī`, wa lā taksibu kullu nafsin illā ‘alaihā, wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, ṡumma ilā rabbikum marji’ukum fa yunabbi`ukum bimā kuntum fīhi takhtalifụn
164. Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”.

Tafsir :

Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk berkata,

“Bagaimana mungkin kalian, wahai kaum musyrikin, memerintahkanku untuk mencari Tuhan selain Allah , sedangkan Dialah yang mengatur segala sesuatu?!([1]) Apakah kalian memerintahkanku untuk menyembah dan bertawakal kepada berhala, hewan, atau malaikat, seperti yang kalian lakukan?!

Sekali-kali tidak akan! Silakan kalian beramal dengan apa yang kalian inginkan! Akan tetapi, ketahuilah bahwasanya seseorang tidak akan memikul dosa orang lain. Setiap kita kelak akan menanggung dosanya masing-masing.

Sungguh, diriku tidak akan pernah mencari Tuhan selain Allah !”

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (12/285).

Categories
6. Al-An'am

Tafsir Surat Al-An’am Ayat-163

163. لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُسْلِمِينَ

lā syarīka lah, wa biżālika umirtu wa ana awwalul-muslimīn
163. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.

Tafsir :

Apa yang dimaksud dengan status Nabi Muhammad sebagai orang yang pertama kali berislam?

Sebagian ulama mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ merupakan manusia yang paling sempurna keislamannya.([1])

Sebagian ulama lainnya mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ merupakan manusia pertama yang berislam di kalangan umatnya. ([2])

Sebagian ulama lainnya mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ merupakan manusia pertama yang akan memasuki Surga-Nya.([3])

________________

Footnote :

([1]) Lihat: Al-Muntakhab Fi Tafsir Al-Qur’an al-Karim (1/203).

([2]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (12/285).

([3]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (7/155).

Categories
6. Al-An'am

Tafsir Surat Al-An’am Ayat-162

162. قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

qul inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn
162. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Tafsir :

Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengumumkan keikhlasannya dalam beribadah. Hal ini untuk menjelaskan bahwa agamanya adalah agama keikhlasan, bukan agama kesyirikan.

Terdapat dua pendapat berkaitan dengan makna نُسُكِي. Ada yang mengatakan maksudnya adalah sembelihan, dan ada yang mengatakan maksudnya adalah ibadah secara umum.([1])

Dari ayat ini, sebagian ulama menyimpulkan bahwa barang siapa yang mampu mengikhlaskan salat dan sembelihannya, maka akan lebih mudah baginya untuk ikhlas dalam ibadah lainnya. Dua ibadah tersebut adalah ibadah yang spesial, karena keduanya menunjukkan kecintaan seseorang yang luar biasa kepada Allah ﷻ.([2]) Orang yang melakukan salat dengan baik dan ikhlas, menunjukkan bahwa dia cinta kepada Allah ﷻ. Begitu juga orang yang menyembelih karena Allah ﷻ, maka menunjukkan dia cinta kepada Allah ﷻ karena dia rela berkorban untuk Allah ﷻ.

Firman-Nya,

﴿وَمَحْيَايَ﴾

“dan hidupku.”

Ini menunjukkan bahwa seluruh kegiatan duniawi bisa bernilai ibadah, apabila ia diniatkan hanya untuk meraih keridaan Allah ﷻ. Dengan menghadirkan hal ini, setiap kita -dengan izin-Nya- akan mampu merealisasikan firman Allah ﷻ,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini bukanlah memerintahkan manusia untuk menghabiskan seluruh usianya untuk shalat, puasa, atau ibadah murni lainnya. Melainkan ia adalah pengingat, agar setiap manusia menjadikan seluruh aktivitasnya lillaah, yakni demi meraih keridaan Allah ﷻ, sehingga seluruh kehidupannya akan bernilai ibadah.

Ini juga merupakan bantahan atas kalangan sekuler yang selalu mengampanyekan pemisahan antara agama dan dunia, serta menyerukan bahwa agama seharusnya berakhir di ambang pintu masjid saja. Kita bantah mereka dengan mengatakan, bahwa syariat Islam telah sempurna, dan mencakup seluruh lingkup kehidupan manusia. Islam telah membimbing kita untuk menjadikan seluruh hidup kita bernilai ibadah.

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (7/152).

([2]) Lihat: Tafsir as-Sa’di hlm. 935.

Categories
6. Al-An'am

Tafsir Surat Al-An’am Ayat-161

161. قُلْ إِنَّنِى هَدَىٰنِى رَبِّىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

qul innanī hadānī rabbī ilā ṣirāṭim mustaqīm, dīnang qiyamam millata ibrāhīma ḥanīfā, wa mā kāna minal-musyrikīn
161. Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.

Tafsir :

Di dalam ayat ini Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk memproklamirkan, bahwasanya dirinya telah diberi petunjuk oleh Allah ﷻ. Berbeda dengan orang yang mengaku memiliki banyak Tuhan, namun tidak satu pun darinya yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Nabi Muhammad ﷺ telah diberikan wahyu, berupa Al-Qur’an dan sunnah, sedangkah kalangan musyrikin sama sekali tidak memiliki hidayah apa pun. ([1])

Allah ﷻ juga memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengatakan kepada kalangan musyrikin dan ahli kitab yang mengaku sebagai keturunan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, bahwa sesungguhnya agama Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah agama yang lurus. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah bapaknya orang-orang bertauhid, sementara mereka yang mengaku sebagai keturunannya malah hanyut dalam kesyirikan. Hendaklah mereka menyadari hal ini, dan segera kembali kepada Allah ﷻ, karena garis keturunan semata tidaklah akan bermanfaat bagi mereka.

_______________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-Baidhawi (2/191).

Categories
6. Al-An'am

Tafsir Surat Al-An’am Ayat-160

160. مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰٓ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

man jā`a bil-ḥasanati fa lahụ ‘asyru amṡālihā, wa man jā`a bis-sayyi`ati fa lā yujzā illā miṡlahā wa hum lā yuẓlamụn
160. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Tafsir :

Allah ﷻ mengabarkan bahwa pada Hari Kiamat kelak, satu kebaikan akan diganjar dengan balasan sepuluh kali lipatnya. Sedangkan orang yang melakukan satu keburukan, maka dia hanya akan dibalas dengan satu keburukan pula.

Ayat ini menjadi landasan para ulama untuk mengatakan bahwa balasan minimal dari setiap amal saleh, adalah sepuluh kali lipatnya. Ayat ini merupakan perincian dari sebagian ayat lainnya yang membicarakan pelipatgandaan secara umum, atau menjanjikan balasan yang lebih baik secara umum([1]), seperti firman Allah ﷻ,

﴿مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا﴾

“Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya.” (QS. An-Naml: 89)

Begitu juga firman Allah ﷻ pada surah An-Nisa,

﴿وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا﴾

“dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya.” (QS. An-Nisa’: 40)

Di dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa pelipatgandaan pahala kebaikan dapat mencapai 700 kali lipat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ

“Kebaikan dilipatgandakan dari sepuluh kali lipat hingga 700 kali lipat.” ([2])

Juga Allah ﷻ berfirman,

﴿مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ﴾

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Para ulama menyimpulkan bahwa amalan saleh bahkan bisa saja dilipatgandakan melebihi 700 kali lipat, berdasarkan firman Allah ﷻ setelahnya,

﴿وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾

“Dan Allah akan melipatgandakan bagi siapa pun yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)([3])

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (RH) menjelaskan, bahwa Allah ﷻ melarang kita untuk mengikuti jalan orang-orang yang memecah belah agama karena jalan mereka tidak memberikan pahala apapun. Berbeda jika kita mengikuti jalan orang-orang yang lurus, maka kita akan dimuliakan dengan diberi ganjaran sepuluh kali lipat, 700 kali lipat, atau bahkan lebih, oleh Dzat Yang mahaluas karunia-Nya.([4])

Firman-Nya,

﴿وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا﴾

“dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya.” (QS. Al-An’am: 160)

Ayat ini juga merupakan dalil bahwa dosa tidak akan dilipatgandakan. Hanya saja, dosa tersebut dapat menjadi besar dalam kondisi tertentu. Contoh dosa yang dapat membesar, seperti dosa kemaksiatan yang dilakukan di tanah suci, atau di bulan-bulan haram.([5]) Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ﴾

dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. (QS. AlHajj: 25)

Bahkan ada ulama yang berpendapat, bahwa siapa saja yang melakukan dosa kecil di tanah suci, atau di bulan-bulan haram, maka dosa tersebut dianggap sebagai dosa besar. Dosa yang dilakukan di luar tanah suci berbeda dengan dosa yang dilakukan di tanah suci. Begitu juga dosa yang dilakukan di selain bulan-bulan haram, tidak sama dengan dosa yang dilakukan di bulan haram. Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ﴾

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. AtTawbah:36]

Firman Allah ﷻ,

﴿وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾

“sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”

Mereka yang dimaksud dalam ayat ini mencakup:

  1. Orang-orang yang membawa kebaikan.

Mereka tidak akan dizalimi dengan dikurangi pahalanya, bahkan pahala mereka akan ditambah.

  1. Orang-orang yang membawa dosa.

Mereka tidak akan dizalimi dengan ditambah dosanya, atau dengan dipikulkan dosa orang lain, atau dengan dikurangi pahala kebaikan yang pernah mereka lakukan.([6])

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (3/378).

([2]) HR. Muslim No. 1151.

([3]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (24/174).

([4]) Lihat: Al-Adzbu an-Namir (2/608-609).

([5]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (8/134).

([6]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (12/275).

Categories
6. Al-An'am

Tafsir Surat Al-An’am Ayat-159

159. إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ

innallażīna farraqụ dīnahum wa kānụ syiya’al lasta min-hum fī syaī`, innamā amruhum ilallāhi ṡumma yunabbi`uhum bimā kānụ yaf’alụn
159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

Tafsir :

Terdapat dua qiraah pada kata (فَرَّقُوا).

Pertama: Dibaca (فَرَّقُوا). Maknanya adalah, memecah belah agama mereka.

Kedua: Dibaca (فَارَقُوا). Maknanya adalah, meninggalkan agama mereka.

Kedua makna ini benar dan saling berkaitan. Setiap orang yang meninggalkan agama mereka, berarti ia telah memecah belah agamanya. Dan orang yang memecah belah agamanya, ia juga seakan telah berniat untuk meninggalkan agamanya.([1])

Siapa mereka yang dimaksud dalam ayat ini? Ada yang berpendapat bahwa mereka adalah Yahudi dan Nasrani.([2]) Hal ini dikarenakan Allah ﷻ sering menyebut mereka sebagai kaum yang tidak bersatu di atas agama mereka. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ﴾

“Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al-Bayyinah: 4)

Juga sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ,

افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ

“Umat Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan. Satu golongan di Surga dan 70 golongan di Neraka. Umat Nasrani telah terpecah menjadi 72 kelompok, 71 golongan di Neraka dan satu golongan di Surga.” ([3])

Ada juga yang mengatakan mereka adalah ahli bidah dan pengikut hawa nafsu, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Qurthubi dari beberapa ulama salaf([4]). Ahli bidah terpecah belah karena pemikiran mereka yang berbeda-beda. Mereka berlepas diri dari manhaj salaf, karena sikap fanatisme kepada guru besar, perasaan, akal, dan lainnya.

Intinya, Nabi Muhammad ﷺ tidak memiliki tanggung jawab atas mereka. Rusaknya mereka bukanlah menjadi tanggungan Nabi Muhammad ﷺ, melainkan akibat ulah tangan mereka sendiri. Seakan-akan Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk berlepas diri dari mereka.([5]) Mereka seluruhnya akan kembali kepada Allah ﷻ, dan Allah ﷻ lah Yang akan mengabarkan kepada mereka tentang apa yang mereka kerjakan, kemudian membalas mereka sesuai dengan amalan mereka.

________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (12/268).

([2]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (12/268).

([3]) HR. Ibnu Majah No. 3992. Dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([4]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (7/149).

([5]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (7/150).

Categories
6. Al-An'am

Tafsir Surat Al-An’am Ayat-158

158. هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن تَأْتِيَهُمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَوْ يَأْتِىَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِىَ بَعْضُ ءَايَٰتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِى بَعْضُ ءَايَٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَٰنُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِىٓ إِيمَٰنِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ ٱنتَظِرُوٓا۟ إِنَّا مُنتَظِرُونَ

hal yanẓurụna illā an ta`tiyahumul-malā`ikatu au ya`tiya rabbuka au ya`tiya ba’ḍu āyāti rabbik, yauma ya`tī ba’ḍu āyāti rabbika lā yanfa’u nafsan īmānuhā lam takun āmanat ming qablu au kasabat fī īmānihā khairā, qulintaẓirū innā muntaẓirụn
158. Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula)”.

Tafsir :

Seakan Allah ﷻ bertanya kepada mereka, “Apa lagi yang kalian tunggu?! Mengapa kalian tidak juga beriman?! Bukankah Al-Qur’an telah datang kepada kalian?! Apakah kematian yang kalian tunggu?! Atau kah kalian menunggu kedatangan Rabb pada Hari Kiamat kelak untuk mengadili kalian?!  Atau kah kalian menunggu tanda-tanda Hari Kiamat, yaitu terbitnya matahari dari barat, di mana keimanan kalian tidak lagi bermanfaat saat itu?!”

Perhatikan bahwa dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan tiga kedatangan. Pertama, kedatangan para malaikat. Kedua, kedatangan Allah ﷻ. Ketiga, kedatangan sebagian ayat-ayat Allah ﷻ.

Ini merupakan dalil bahwasanya Allah ﷻ memiliki sifat datang yang hakiki, sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Ayat ini mengandung bantahan bagi mereka yang menakwilkan kedatangan Allah ﷻ dengan datangnya malaikat, atau datangnya ayat-ayat Allah ﷻ, karena keduanya telah disebutkan dalam ayat ini secara terperinci. Penyebutan tiga kedatangan ini secara bergandengan dalam satu ayat, menunjukkan bahwa ketiganya adalah kedatangan yang berbeda.

Sebagaimana juga firman Allah ﷻ lainnya,

﴿وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا﴾

“dan datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr: 22)

Allah ﷻ akan datang pada Hari Kiamat untuk mengadakan pengadilan. Manusia kelak akan menanti kedatangan Allah ﷻ ini di Padang Mahsyar, dalam keadaan jarak matahari hanya satu mil dari kepada mereka. Karena amat sulitnya kondisi manusia saat itu, mereka pun akan mendatangi para nabi, untuk meminta mereka agar memohon kepada Allah ﷻ untuk datang dan menyegerakan persidangan.

Allah ﷻ benar-benar memiliki sifat datang yang hakiki, namun kita tidak tahu kaifiat kedatangan Allah ﷻ. Ahlusunah melarang untuk menyebutkan atau mencoba mencari-cari tahu kaifiat datangnya Allah ﷻ. Kita tidak mengetahui hakekat Dzat Allah ﷻ, maka kita juga tidak tahu hakekat kedatangan Allah ﷻ.

Maksud dari kedatangan sebagian ayat-ayat Allah ﷻ, adalah terbitnya matahari dari barat.([1]) Ketika matahari terbit dari barat, semua manusia akan beriman, namun keimanan mereka saat itu tidak lagi diterima.

Hal ini menunjukkan bahwa terbukanya pintu tobat memiliki batasan waktu. Jika seseorang bertobat melebihi batasan waktunya, maka tobatnya tidak akan diterima. Tobat seseorang tidak akan diterima pada dua keadaan:

  1. Jika nyawa berada di kerongkongan (al-ghargharah). Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ، مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah  senantiasa menerima tobat seorang hamba, selama ruhnya belum melewati kerongkongan.” ([2])

Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا﴾

“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertobat sekarang”. Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. An-Nisa: 18)

Batasan waktu tobat ini khusus terkait setiap individu. Tobat setiap orang masih memungkinkan untuk diterima, selama nyawanya belum berada di kerongkongan.

  1. Ketika matahari terbit dari barat.

Allah ﷻ berfirman,

﴿يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا﴾

“Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah lagi bermanfaat keimanan seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.[QS. Al-An’am, 158]

Batasan tobat ini mencakup umum seluruh manusia.

Para ulama juga menyebutkan bahwasanya tobat tidak diterima dalam kondisi al-mu’ayanah, yakni ketika seseorang sudah diperlihatkan tempat tinggalnya di Surga atau Neraka.([3]) Sebagaimana tidak diterimanya tobat Firaun, Allah ﷻ berfirman,

﴿حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾

“hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” (QS. Yunus: 90)

Namun, tobatnya tidak diterima, karena dia telah melihat azab di hadapannya. Keimanan yang diucapkan adalah keimanan yang tidak memberikannya manfaat.([4])

Begitu juga orang yang dahulu tidak meyakini adanya Hari Kiamat, lalu kemudian beriman ketika telah melihat langsung terbitnya matahari dari barat. Imannya tidak lagi dianggap.

Di dalam ayat ini juga Allah ﷻ menyebutkan dua orang yang merugi ketika Hari Kiamat:

Pertama: Orang yang belum beriman sebelumnya.

Kedua: Orang yang beriman sebelumnya namun dia tidak beramal. Ini menunjukkan bahwasanya iman saja tidak cukup, namun harus ada amal yang membuktikan keimanan tersebut. Oleh karenanya, sebagai seorang muslim kita harus beramal, jika tidak maka kita akan menjadi orang yang merugi pada hari kiamat.

Ayat ini juga menunjukkan bahwasanya amal tidak mungkin diterima kecuali dengan keimanan. Dan sebaliknya, keimanan juga harus dibuktikan dengan amal saleh.

_______________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-Baghawi (2/173).

([2]) HR. Ahmad no. 6160, Tirmidzi no. 3537 dan Ibnu Majah no. 4253 dan dihasankan oleh Al-Albani

([3]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (7/147).

([4]) Lihat: Tafsir ath-Thabari (21/424).

Categories
6. Al-An'am

Tafsir Surat Al-An’am Ayat-157

157. أَوْ تَقُولُوا۟ لَوْ أَنَّآ أُنزِلَ عَلَيْنَا ٱلْكِتَٰبُ لَكُنَّآ أَهْدَىٰ مِنْهُمْ ۚ فَقَدْ جَآءَكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَصَدَفَ عَنْهَا ۗ سَنَجْزِى ٱلَّذِينَ يَصْدِفُونَ عَنْ ءَايَٰتِنَا سُوٓءَ ٱلْعَذَابِ بِمَا كَانُوا۟ يَصْدِفُونَ

au taqụlụ lau annā unzila ‘alainal-kitābu lakunnā ahdā min-hum, fa qad jā`akum bayyinatum mir rabbikum wa hudaw wa raḥmah, fa man aẓlamu mim mang każżaba bi`āyātillāhi wa ṣadafa ‘an-hā, sanajzillażīna yaṣdifụna ‘an āyātinā sū`al-‘ażābi bimā kānụ yaṣdifụn
157. Atau agar kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya jikalau kitab ini diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka”. Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksa yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling.

Tafsir :

Andai Al-Qur’an tidak diturunkan, bisa jadi kaum musyrikin Arab akan berdalih dengan dalih di atas. Yakni, andai ada kitab suci yang diturunkan kepada mereka, pastilah mereka akan menjadi lebih alim dari pada Yahudi dan Nasrani. Namun kenyataannya, Al-Qur’an telah diturunkan kepada mereka, namun ternyata mereka lebih tersesat dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. ([1])

Di dalam ayat ini, Allah ﷻ menyifati Al-Qur’an sebagai kitab yang jelas, kitab petunjuk, dan wujud kasih sayang dari Allah ﷻ.

Intinya, pada ayat-ayat ini Allah ﷻ menjelaskan bahwasanya Al-Qur’an diturunkan dengan Bahasa Arab, untuk menegakkan hujah kepada kaum musyrikin Arab. Seandainya tidak demikian, maka bisa jadi mereka akan beralasan untuk tidak beriman dengan dua alasan:

  1. Kitab suci hanya turun kepada golongan sebelum mereka, yaitu Yahudi dan Nasrani, sementara mereka tidak mengetahui bahasa mereka dan apa yang mereka pelajari.
  2. Seandainya diturunkan kitab suci kepada mereka, niscaya mereka akan menjadi orang yang lebih mendapat petunjuk daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Akan tetapi, setelah diturunkan Al-Qur’an dengan keterangan yang jelas, dengan bahasa mereka, dan melalui perantara orang yang sangat mereka kenal kejujuran dan amanahnya, ternyata mereka tetap tidak beriman. Dengan diturunkannya Al-Qur’an terputuslah hujah mereka dan Allah ﷻ tidak akan menerima lagi uzur mereka. Karenanya, Allah ﷻ kemudian menyebut mereka sebagai orang-orang yang sangat zalim, karena mereka berpaling dan mendustakan Al-Qur’an. Mereka telah mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat, mereka telah sadar bahwa bagaimanapun mereka tidak mampu menghasilkan karya yang semisal dengan Al-Qur’an, dan mereka telah mengetahui bahwa yang membawanya adalah manusia yang paling jujur, yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Namun, mereka tetap saja berpaling dengan penuh keangkuhan.

Pada ayat-ayat ini terdapat dalil bahwa orang-orang Majusi tidak memiliki kitab suci. Kita tahu bahwasanya kalangan musyrikin yang mereka kenal saat itu, secara garis besar dapat dibagi menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Akan tetapi, kaum musyrikin Arab hanya menyebutkan,

﴿إِنَّمَا أُنزِلَ الْكِتَابُ عَلَىٰ طَائِفَتَيْنِ مِن قَبْلِنَا﴾

“Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami.”

Seandainya orang-orang Majusi juga mendapatkan kitab suci, pastilah kaum musyrikin Arab akan mengatakan bahwa kitab suci telah diturunkan kepada tiga kelompok sebelum mereka. Majusi juga tidak memiliki nabi. Dengan ini, dapat diketahui bahwa kalangan Majusi tidak termasuk Ahli Kitab.([2])

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-Baghawi (2/173) dan Tafsir Ibnu Athiyah (2/365).

([2]) Lihat: Tafsir al-Maturidi (4/322-323).

Categories
6. Al-An'am

Tafsir Surat Al-An’am Ayat-156

156. أَن تَقُولُوٓا۟ إِنَّمَآ أُنزِلَ ٱلْكِتَٰبُ عَلَىٰ طَآئِفَتَيْنِ مِن قَبْلِنَا وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِهِمْ لَغَٰفِلِينَ

an taqụlū innamā unzilal-kitābu ‘alā ṭā`ifataini ming qablinā wa ing kunnā ‘an dirāsatihim lagāfilīn
156. (Kami turunkan al-Quran itu) agar kamu (tidak) mengatakan: “Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.

Tafsir :

Andai Al-Qur’an tidak diturunkan, bisa jadi kaum musyrikin Arab akan berdalih dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengerti kitab-kitab yang diturunkan kepada Yahudi dan Nasrani, karena perbedaan bahasa, dan faktor-faktor lainnya. Karenanya Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa mereka sendiri, agar mereka tidak lagi dapat bersilat lidah ketika dimintai pertanggungjawaban akan amal mereka kelak.([1])

________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-Baghawi (2/173) dan Tafsir Ibnu Athiyah (2/365).