Categories
100. Al-‘Adiyat

Tafsir Quran Surat Al-‘Adiyat Ayat-6

6. إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

Latin: inna al-insaana lirabbihi lakanuudun
Arti : “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya”

Tafsir Quran Surat Al-‘Adiyat Ayat-6

Sebagian ulama berusaha menjelaskan hubungan sumpah-sumpah tersebut yang menggunakan sifat-sifat kuda dengan sifat-sifat manusia yang ingkar. Mereka mengatakan bahwa Allah menginginkan agar manusia memperhatikan keadaan kuda yang memiliki sifat taat. Jika kuda tersebut diberi kenikmatan oleh tuannya maka dia akan berterima kasih kepada tuannya walaupun kenikmatan itu sedikit. Kuda-kuda tersebut dirawat, diberikan kandang sendiri, diberi makan dan minum oleh tuannya. Sehingga ketika tuannya memerintahkannya pergi berperang maka mereka patuh dan ikut pergi. Bahkan ketika dia harus masuk ke tengah-tengah pertempuran demi untuk mengantarkan tuannya menuju kemenangan maka dia akan melakukannya.

Berbeda halnya dengan keadaan manusia yang bahkan diberi berbagai macam kenikmatan mereka tetap ingkar dan kufur terhadap Rabbnya yang memberikan kenikmatan.

Al-Hasan al-Bashri berkata tentang ayat ini :

هُوَ الْكُفُورُ الَّذِي يَعُدُّ الْمَصَائِبَ، وَيَنْسَى نِعَمَ رَبِّهِ

“الكَنُوْدُ adalah orang yang menghitung-hitung (mengingat-ingat) musibah dan melupakan kenikmatan dan anugrah dari Rabbnya” (Tafsir At-Thobari 24/585)

Al-Fudhoil bin ‘Iyaad berkata :

الْكَنُودُ” الَّذِي أَنْسَتْهُ الْخَصْلَةُ، الْوَاحِدَةُ مِنَ الْإِسَاءَةِ الْخِصَالَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْإِحْسَانِ، وَ”الشَّكُورُ”: الَّذِي أَنْسَتْهُ الْخَصْلَةُ الْوَاحِدَةُ مِنَ الْإِحْسَانِ الْخِصَالَ الْكَثِيرَةَ مِنَ الْإِسَاءَةِ

“الكَنُوْدُ adalah orang satu sikap buruh saja maka telah menjadikannya melupakan kebaikan yang banyak. Dan الشَّكُورُ “yang pandai bersyukur/berterima kasih” adalah yang satu kebaikan membuatnya lupa dengan banyaknya keburukan” (Tafsir al-Baghowi 8/509)

Orang yang seperti ini kerjaannya selalu mengeluh. Ketika ia sakit seminggu saja maka iapun selalu mengeluh, ia lupa bahwa selama ini berbulan-bulan bahkan mungkin setahun ia telah diberi kenikmatan sehat oleh Allah. Sebagaimana juga seeorang yang diberi kesulitan ekonomi setahun lantas ia selalu mengeluh, dia lupa padahal selama ini bertahun-tahun lamanya Allah selalu memberikan kepadanya kelapangan ekonomi.

Dalam sebagian pendapat disebutkan bahwa Nabi Ayub ‘alaihis salam sakit selama 7 tahun, bahkan begitu parahnya sampai keluar ulat dari dagingnya. Akan tetapi beliau bersabar dan ketika ada orang yang berkata kepadanya, “Mintalah kesembuhan kepada Allah” maka Ayub ‘alaihis salam berkata :

أَقَمْتُ فِي النَّعِيمِ سَبْعِينَ سَنَةً وَأُقِيمُ فِي الْبَلَاءِ سَبْعَ سِنِينَ وَحِينَئِذٍ أَسْأَلُهُ فَقَالَ:” أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ”

“Aku telah berada dalam kenikmatan dari Allah selama 70 tahun, dan sekarang aku berada dalam ujian selama 7 tahun, maka sekarang aku memohon kepada Allah “Ya Allah sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang” (lihat Tafsir Al-Qurthubi 11/324)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *