Categories
101. Al-Qari'ah

Tafsir Quran Surat Al-Qari’ah Ayat-6

6. فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ

Latin : fa-ammaa man tsaqulat mawaaziinuhu

Arti  : “Maka adapun orang yang berat timbangannya”

Tafsir Quran Surat Al-Qari’ah Ayat-6

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani akan adanya mizan (timbangan) yang Allah akan hadirkan pada hari kiamat. Hanya saja terdapat khilaf diantara para ulama apakah mizan tersebut hanya satu atau banyak. Dzhahir ayat menunjukan bahwasanya mizan itu ada banyak karena datang dalam bentuk jamak (banyak). Hal ini dapat dijumpai dalam firman Allah yang lain:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

“Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit, sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (QS Al-Anbiya : 47)

Namun terkadang pula mizan datang dalam bentuk mufrad (tunggal). Seperti hadits Nabi:

وَالْـحَمْدُ لِله تَـمْلَأُ الْـمِيْزَانَ

“Kalimat alhamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan.” (HR Muslim no. 223)

Pada hari kiamat kelak akan ada tiga perkara yang ditimbang yaitu (1) amalan shalih, atau (2) pemilik amalan shalih itu sendiri, atau (3) buku catatan amalannya.

Tentang amalan shalih maka ada banyak dalil yang menunjukkan akan ditimbangnya hal tersebut, seperti hadits Nabi:

اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الإِيْـمَـانِ ، وَالْـحَمْدُ لِله تَـمْلَأُ الْـمِيْزَانَ

“Bersuci adalah sebagian dari iman, kalimat alhamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan.” (HR Muslim no. 223)

Nabi juga bersabda:

مَا مِنْ شَىْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada suatu yang lebih berat di timbangan daripada akhlak mulia.” (HR Abu Daud no. 4799)

Berdasarkan hadits di atas, sebagian ahli bid’ah mengingkari adanya timbangan yang hakiki. Mereka menyangkal dan menganggap tidak mungkin amalan itu bisa ditimbang karena amalan adalah sesuatu yang abstrak. Sehingga mereka mengatakan bahwa timbangan itu hanyalah majas/kiasan. Padahal Allah Maha Kuasa untuk mengubah segala sesuatu menjadi mudah, apakah mengubahnya menjadi sesuatu yang konkret atau terserah Allah bagaimana. Demikian pula dengan kematian, kematian adalah sesuatu yang abstrak. Tetapi di akhirat kelak Allah akan mendatangkannya dalam bentuk kambing yang disembelih di antara surga dan neraka yang menunjukkan tidak adanya lagi kematian setelah itu. Begitu pula dengan amalan keburukan yang akan mendatangi pelakunya di alam barzakh dalam bentuk yang sangat mengerikan.

Yang kedua yang akan ditimbang adalah pemilik amalan shalih itu. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits tentang sahabat yang memiliki betis yang kurus.

Suatu ketika Nabi hendak bersiwak, Nabi menyampaikan kepada Abdullah Ibnu Mas’ud atas keinginan Nabi tersebut, Abdullah Ibnu Mas’ud naik di atas sebuah pohon yang rantingnya digunakan untuk bersiwak, tiba-tiba tertiup angin dan menyingkap pakaian Abdullah Ibnu Mas’ud dan terlihat betis beliau yang sangat kecil, spontan para sahabat yang bersama dengan Nabi pada waktu itu mereka tidak sengaja melihat 2 betisnya Abdullah Ibnu Mas’ud mereka kemudian tertawa, menertawai betisnya Abdullah Ibnu Mas’ud yang sangat kecil, adapun Nabi beliau marah dengan sikap sebagian sahabat menertawai betis  Abdullah Ibnu Mas’ud beliau menengok kepada sahabat yang tertawa dan mengatakan: “Kenapa kalian tertawa?”, mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, karena kedua betisnya yang kurus (sehingga ia tergoyang karena tertiup angin-pen)”. Nabi berkata: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan daripada gunung Uhud.” (HR Ahmad no. 3991)

Dalam hadits yang lain Nabi bersabda:

إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ

“Sungguh pada hari kiamat akan datang seorang yang gemuk namun timbangannya di sisi Allah tidak melebihi berat sayap seekor nyamuk.” (HR Bukhari no. 4729 dan Muslim no. 2785)

Kemudian Nabi membacakan firman Allah:

فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

“Dan Kami tidak menilai timbangan mereka sama sekali pada hari kiamat.” (QS Al-Kahfi : 105)

Ini dalil bahwasanya manusia sebagai pelaku amalan shalih itu juga akan ditimbang pada hari kiamat.

Yang ketiga yang akan ditimbang adalah catatan amalnya. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang masyhur yang dikenal dengan nama hadits bithaqah tentang kisah pelaku maksiat yang meninggal dalam keadaan bertauhid kemudian dimaafkan dosa-dosanya. Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: أَحْضِرُوهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ ! فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، قَالَ: فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ، وَلَا يَثْقُلُ شَيْءٌ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan memilih seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilanpuluh sembilan catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini ?. Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah mendzalimimu?’ Orang itu berkata: ‘Tidak, wahai Tuhanku’. Allah berfirman: ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur/alasan atau mempunyai kebaikan?’. Orang itu pun tercengang dan berkata: ‘Tidak wahai Rabb’. Allah berfirman: ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kedzaliman terhadapmu pada hari ini’. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis: Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya). Allah berfirman: ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata: ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini?’ Dikatakan: ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (HR Ahmad 6994, Turmudzi 2850 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Ini adalah dalil bahwasanya catatan amalan seseorang juga akan ditimbang di hari kiamat kelak. Imam Ibnul Qayyim mengomentari hadits ini dan mengatakan, “Setiap orang yang bertauhid memiliki kartu ini yaitu Laa ilaha illallah.” Akan tetapi kualitas tauhid masing-masing orang bisa berbeda-beda. Bisa saja orang yang melaksanakan shalat tetap diadzab di neraka Jahannam, atau orang yang bertauhid juga diadzab karena tauhidnya kurang kuat.

Adapun shahibul bithaqah ini, asalnya dia melakukan banyak kemaksiatan akan tapi di penghujung hayatnya dia benar-benar bertauhid kepada Allah, dia meninggalkan segala bentuk kesyirikan lalu meninggal di atas tauhidnya sehingga tauhidnya tersebut membakar semua kemaksiatan yang pernah dia lakukan. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR Tirmidzi no. 3540)

Inilah keutamaan yang akan didapatkan oleh orang yang benar-benar mewujudkan tauhid yang benar di dalam dirinya beserta konsekuensi-konsekuensinya seperti shahibul bithaqah ini. Namun hendaknya seorang muslim tidak terperdaya dengan kartu Laa ilaha illallah yang dimilikinya, karena setiap orang memiliki tetapi kualitasnya berbeda-beda.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa diantara perkara yang ditimbang adalah amalan shalih, pemilik amalan shalih tersebut ataupun catatan amalannya. Namun para ulama mengatakan meskipun yang ditimbang itu berbeda-beda akan tetapi semuanya kembali kepada amalan shalih. Bithaqah tersebut menjadi berat karena amalan shalihnya. Ibnu Mas’ud menjadi berat karena amalan shalihnya.

Mizan (timbangan) yang dimiliki oleh Allah memiliki dua sifat yaitu adil dan detail. Sebagaimana dalam firman Allah:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

“Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit, sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (QS Al-Anbiya : 47)

Dalam surat Luqman, Allah berfirman tentang perkataan Luqman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Lukman berkata), ‘Wahai anakku! Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Luqman : 16)

Meskipun Allah telah mengetahui bagaimana akhir dari setiap hamba-Nya apakah surga atau neraka, akan tetapi Allah ingin menampakkan keadilannya. Pada hari tersebut Allah akan menegakkan segala bentuk hujjah kepada manusia sehingga tiada satu manusia pun yang bisa memohon diberi udzur pada hari itu. Seluruh maksiat yang dia lakukan akan dipersaksikan oleh banyak saksi dari tangannya, kakinya, kulitnya, dan catatan amalnya semua akan menjadi saksi. Allah berfirman:

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (QS Al-Isra’ : 14)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *