Categories
BAB 5

Keutamaan Berakhlak Mulia – Hadis 5

Hadits 5
Keutamaan Berakhlak Mulia

Dari Abu Ad-Darda’ radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

مَا مِنْ شَىْءٍ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada sesuatu pun di timbangan hari kiamat yang lebih berat dari pada akhlak mulia.”([1])

Hadits ini adalah hadits yang sangat tegas yang menunjukkan bahwa akhlak mulia adalah ibadah yang sangat agung, bahkan di antara ibadah yang teragung.

شَيْءٍ datang dalam bentuk nakirah dalam konteks penafian, menurut ilmu ushul fikih memberi faedah keumuman. Maksudnya, tidak ada satu pun yang lebih berat daripada akhlak mulia jika diletakkan di timbangan. Di antara dalil-dalil yang mendukung hal ini adalah sabda Nabi,

وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ

“Sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.”([2])

Dalil lainnya adalah Nabi menjadikan barometer keimanan seseorang  dengan akhlak mulia. Nabi bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya.”([3])

Berdasarkan hadits di atas pula seseorang tidak boleh menyepelekan akhlaknya kepada istrinya, karena itulah barometer akhlak seseorang. Seorang suami yang berada di luar rumahnya, dia bisa saja sok alim, sok baik, sok dermawan kepada orang-orang yang dijumpainya. Adapun di dalam rumahnya, dia tidak bisa memanipulasi akhlaknya. Demikian pula jika di luar rumah, seseorang akan berpikir jika ingin memukul orang lain. Adapun di dalam rumahnya, mudah saja baginya jika ingin menzalimi istrinya, ingin menampar dan memukuli istrinya, toh istrinya lemah dan tidak bisa melawannya.

Dari beberapa hadits di atas, seseorang hendaknya menyadari bahwa pintu akhlak mulia adalah pintu yang sangat agung yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga. Hendaknya dia berusaha untuk membuka berbagai pintu surga tersebut sebanyak mungkin. Dia membukanya melalui pintu zikir, dengan shalat dan puasa, dengan berbakti kepada orang tua, dan dengan berakhlak mulia.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan mengapa seseorang yang berakhlak mulia maka dia akan menuai pahala yang sangat besar, yaitu karena argo pahalanya akan berjalan terus. Di mana pun dia bertemu dengan orang maka pahalanya jalan, ketemu istrinya pahalanya jalan, ketemu orang tuanya pahalanya jalan, ketemu anaknya pahalanya jalan, ketemu tetangganya pahalanya jalan, dan seterusnya.

Jika direnungkan akan didapatkan kesimpulan bahwa waktu kita di dunia ini tidak banyak dihabiskan untuk berinteraksi dengan Allah secara langsung berupa ibadah-ibadah mahdah, melainkan sebagian besar digunakan untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling kita, seperti istri, anak, orang tua, tetangga, rekan kerja, atasan atau bawahan, sopir, pembantu, dan seterusnya.

Oleh karena itu, hendaknya seseorang berusaha keras agar bisa berakhlak mulia. Jika dia merasa di dalam dirinya ada akhlak-akhlak buruk, maka dia berusaha untuk mengubahnya karena akhlak buruk itu bisa diubah. Nabi bersabda,

أَنَا زَعِيمُ بِبَيْتٍ فِي أَعَلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin istana di atas surga bagi orang yang memperindah akhlaknya.”([4])

Nabi ﷺ juga bersabda,

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ

“Barang siapa yang sungguh-sungguh berusaha untuk bersabar maka Allâh akan memudahkan kesabaran baginya.”([5])

Definisi Akhlak Mulia

Akhlak mulia didefinisikan oleh para ulama dengan berbagai penafsiran. Di antaranya seperti yang dikatakan oleh Hasan Al-Bashri,

حَقِيْقَةُ حُسْنُ الْخُلُقِ بَذْلُ المَعرُوْفِ  وَكَفُّ الأَذَى وطَلاَقَةُ الوَجْهِ

“Hakikat akhlak mulia adalah mudah berbuat baik kepada orang lain, tidak mengganggu orang lain, dan wajah yang sering berseri-seri karena murah senyum.”([6])

Inilah tiga rukun akhlak mulia, yaitu:

▪ Ringan tangan untuk membantu orang lain. Hendaknya setiap orang berusaha menjadi orang yang dermawan dan bisa membantu orang lain, tidak malah menjadi pelit. Dia bisa membantu orang lain dengan pikirannya, dengan tenaganya, dengan hartanya.

▪ Tidak mengganggu orang lain, baik dengan perkataan, sikap, dan lainnya. Kalau seseorang bisa meninggal dunia tanpa membawa kezaliman pun, maka itu yang terbaik. Sebisa mungkin seseorang yang memiliki masalah di dunia diselesaikan dulu sebelum dia menghadap Rabb-nya.

▪ Wajah yang berseri-seri karena murah senyum yang menunjukkan ketawadhuannya. Tidak ada kesombongan di dalam hatinya, tidak berat baginya senyum kepada semua orang yang dijumpainya. Orang yang berat untuk tersenyum ada kemungkinan di dalam hatinya ada keangkuhan. Kepada orang kaya dia murah senyum tetapi kepada orang miskin dia berat senyum.

Inilah salah satu definisi dari akhlak mulia yang dikatakan oleh para ulama sebagai rukun akhlak mulia. Barang siapa yang bisa beramal dengannya, maka dia telah berakhlak mulia.

Footnote:

___________

([1]) HR. Abu Dawud no. 4799, At-Tirmidzi no. 2002, dan disahihkan oleh Tirmidzi.

([2]) HR. Tirmidzi no. 2003.

([3]) HR. Tirmidzi no. 1162 dan Ibnu Majah no. 1987.

([4]) HR. Abu Dawud no. 4800.

([5]) HR. Bukhari no. 6105 dan Muslim no. 1053.

([6]) Al-Minhaaj Syarh Sahih Muslim karya An-Nawawi 15/78.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *