Categories
BAB 5

Akhlak ketika Safar dan Berkendara #1

Akhlak ketika Safar dan Berkendara

Diantara kondisi yang penting bagi seseorang untuk menjaga akhlak dan adabnya adalah ketika sedang bersafar. Berikut ini penulis lampirkan pembahasan tentang adab dan akhlak ketika bersafar dan berkendaraan.

Di antara akhlak yang diajarkan oleh syariat adalah adab di dalam berkendaraan maupun safar.

Para ulama menyebutkan bahwa ada perkara-perkara yang dapat menyingkap jati diri akhlak seseorang yang sesungguhnya di antaranya adalah:

Ketika seseorang berada di rumahnya bersama anak istrinya.

Seseorang akan tampak akhlaknya ketika berada di rumahnya bersama anak dan istrinya. Karena bagaimanapun seseorang berusaha untuk menunjukkan akhlak yang mulia di hadapan orang lain. Bisa saja seseorang menampakkan akhlaknya di depan gurunya atau teman sejawatnya disebabkan dua hal, yaitu karena perkara itu hanya waktu yang sebentar, atau karena kedudukan mereka memang berada di bawahnya atau sejajar dengannya.

Lain halnya ketika seseorang berada di rumahnya, seseorang dihadapkan dengan orang-orang yang lemah, berupa isri dan anak-anaknya, sehingga bisa berbuat apa saja atas mereka. Selain itu, dia juga bersama mereka dalam waktu yang sangat lama. Maka dari itu, pada saat itulah seseorang akan tersingkap jati dirinya.

Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad ﷺ,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian (di sisi Allah ) adalah yang paling baik perilakunya kepada istrinya dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada istriku.” ([1])

Betapa banyak orang yang ketika berada di luar rumahnya menampakkan akhlak yang indah di depan orang lain, tetapi ketika berada di dalam rumahnya menampakkan akhlaknya yang sesungguhnya.

  • Ketika seseorang berada dalam kondisi nyaman (mendapatkan kedudukan atau harta).

Betapa banyak orang yang berada dalam kondisi lemah menampakkan akhlaknya yang mulia. Akan tetapi, ketika dia diuji dengan jabatan yang tinggi atau kekayaan, tampak akhlaknya yang sesungguhnya. Jika seseorang berada di dalam kondisi yang nayaman, dia masih menghormati kawan-kawan lamanya, murah senyum kepada orang-orang yang berada di bawahnya, mengingat jasa-jasa orang-orang dahulu yang membantunya, bisa jadi baginya sekarang bantuan tersebut tidak ada nilainya, tetapi ketika dia dalam kondisi sulit, bantuan mereka sangat berarti baginya, maka dia telah memiliki akhlak yang terpuji.

Siapa yang tidak bisa diubah sifatnya karena jabatan? Betapa banyak orang yang berubah karena mereka mendapatkan jabatan, di mana dia berada dalam kedudukan yang tinggi, memiliki anak buah, perkataannya ditaati, pergaulannya dengan orang-orang kaya. Jangankan karena jabatan, orang yang tidak memiliki jabatan saja, namun terbiasa bergaul dengan orang-orang yang berkedudukan tinggi dan kaya raya, dia bisa berubah menjadi angkuh dan sombong. Padahal dia sama sekali bukan orang yang kaya lagi berkedudukan. Apalagi jika dia sendiri memang orang kaya. Maka, siapa yang tidak bisa diubah sifatnya karena jabatan maupun harta kekayaan?

Oleh karenanya, banyak orang yang berubah akhlaknya ketika diberikan kekayaan maupun jabatan. Akhlak kepada saudaranya, orang tuanya dan kawan-kawannya bisa berubah. Dia merasa sulit mengingat kebaikan-kebaikan dan bantuan yang telah mereka berikan kepadanya. Semuanya hilang begitu saja, sehingga tampak akhlaknya yang sesungguhnya ketika dia mendapatkan kekuatan, jabatan dan kekayaan.

  • Ketika seseorang berselisih.

Akhlak seseorang akan tampak ketika dia sedang berselisih. Ketika berselisih orang yang baik akan tetap menunjukkan akhlak mulia yang sesungguhnya. Dia tetap mampu menjaga dirinya, bisa membantah lawannya dengan kata-kata yang bijak tanpa harus melontarkan kata-kata yang buruk, kata-kata kotor yang berlebihan atau berusahan mencari-cari kesalahan. Seseorang yang sedang berselisih, lalu masih menunjukkan perasaan yang tenang, mampu menjelaskan dengan baik, tetap bisa menghargai lawan bicaranya, maka itulah penampakan dari akhlak sesungguhnya yang terpuji.

Sebagian orang terlihat saleh dan terkenal menjaga lisannya, tetapi ketika berselisih tampak segala keburukan dan kekurangannya. Bisa jadi ketika berbicara, dia mengucapkan perkataan yang sadis dan penuh dendam. Allah ﷻ berfirman,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah : 8)

Ayat ini turun berkenaan dengan kaum muslimin dengan orang kafir. Jika kaum muslimin menghadapi suatu perkara dengan orang-orang kafir, maka hendaknya mereka tetap berlaku adil. Maka, bagaimana lagi jika beberharapubungan dengan orang-orang muslim? Oleh karenanya, akhlak seseorang yang sesungguhnya akan terlihat tatkala terjadi perselisihan. Jika seseorang hendak mengetahui akhlak orang lain, maka hendaknya dia memperhatikannya saat dalam perselisihan.

  • Ketika seseorang berurusan dengan uang, baik dalam urusan kongsi dagang atau utang piutang.

Akhlak seseorang akan tampak ketika dia berurusan dengan uang. Seandainya dia memiliki urusan bisnis dengan orang lain, lalu dia mengambil jatahnya tanpa ada sepengetahuan atau mengambilnya dengan berlebihan, maka dia telah menunjukkan akhlaknya yang sesungguhnya lagi tidak terpuji.

Demikian juga di dalam masalah utang piutang. Betapa banyak akhlak seseorang tampak ketika dia beberharaputang kepada orang lain. Apakah dia jujur? Apakah dia berusaha membayar utangnya tersebut? Apakah dia tidak memperhatikan utang piutangnya? Inilah salah satu kondisi seseorang terlihat akhlaknya yang sesungguhnya,  karena secara tabiat manusia suka terhadap harta. Apakah kecintaannya terhadap harta membuatnya menunjukkan akhlaknya yang terpuji atau malah membuatnya meninggalkan akhlak yang mulia?

Bisa jadi seseorang secara penampilannya baik dan saleh, tetapi ketika dia memiliki utang kepada orang lain, ternyata dia enggan untuk melunasinya. Ketika ditagih, malah menunjukkan adab yang tidak baik dan tidak meminta maaf. Dia lupa bahwasanya orang yang telah memberikan bantuan kepadanya telah berjasa di dalam kehidupannya.

Pada zaman sekarang siapakah orang yang sudi meminjamkan uangnya di saat kita tidak mempunyai uang? Pada zaman sekarang hampir setiap orang menahan uang mereka dan berhati-hati dalam berurusan uang dengan orang lain. Sangat sulit bagi seseorang untuk mencari pinjaman kepada orang lain. Pada zaman yang sulit seperti ini, ketika kita mendapati orang yang mudah meminjamkan uangnya kepada kita, maka sejatinya dia adalah orang yang baik. Dia telah berbuat baik dan berjasa besar karena sudi meminjamkan hartanya kepada kita.

Maka dari itu, janganlah membalas air susu dengan air tuba. Betapa banyak orang yang demikian, ketika ada orang baik yang sudi meminjamkan uangnya, ternyata ketika menagihnya dia malah mendapatkan perlakuan yang buruk. Padahal, jika disampaikan uzur kepadanya dengan meminta maaf, maka setidaknya dia akan merasa tenang. Namun, jika ternyata menghilang tanpa jejak dan tanpa meminta maaf, maka ini merupakan perlakuan dan akhlak yang buruk.

  • Ketika seseorang dalam safar.

Di antara kondisi yang dapat mengetahui akhlak seseorang yang sesungguhnya adalah ketika dalam kondisi safar. Sacara etimologi  السَّفَرُ bermakna menyingkap. Imam al-Ghazali berharap menyebutkan,

وَإِنَّمَا سُمِّيَ السَّفَرُ سَفَرًا لِأَنَّهُ يُسْفِرُ عَنِ الْأَخْلَاقِ

“Sejatinya safar dinamakan dengan safar karena menyingkap tentang akhlak.”([2])

Oleh karenanya, disebutkan bahwa ketika ada seseorang yang menjadi saksi di hadapan Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu, maka dia bertanya tentang dirinya terlebih dahulu.

شَهِدَ رَجُلٌ عِنْدَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِشَهَادَةٍ , فَقَالَ لَهُ: لَسْتُ أَعْرِفُكَ , وَلَا يَضُرُّكَ أَنْ لَا أَعْرِفَكَ , ائْتِ بِمَنْ يَعْرِفُكَ  , فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَنَا أَعْرِفُهُ , قَالَ: بِأِيِّ شَيْءٍ تَعْرِفُهُ؟  قَالَ: بِالْعَدَالَةِ وَالْفَضْلِ , فَقَالَ: فَهُوَ جَارُكَ الْأَدْنَى الَّذِي تَعْرِفُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ , وَمَدْخَلَهُ وَمَخْرَجَهُ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَمُعَامِلُكَ بِالدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ اللَّذَيْنِ بِهِمَا يُسْتَدَلُّ عَلَى الْوَرَعِ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَرَفيِقُكَ فِي السَّفَرِ الَّذِي يُسْتَدَلُّ عَلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ؟  قَالَ: لَا، قَالَ: لَسْتَ تَعْرِفُهُ

“Ada seorang lelaki yang bersaksi di hadapan Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu, Umar berkata kepadanya, ‘Aku tidak mengenalmu, dan tidak masalah meskipun aku tak mengenalmu, tapi datangkanlah seseorang yang mengenalmu’. Tiba-tiba seorang laki-laki berkata, ‘Aku mengenalnya, wahai Amirul mukminin’. Umar bertanya, ‘Bagaimana engkau mengenalnya?’, ia menjawab, ‘Dengan kepercayaan dan kebaikannya’, lalu Umar bertanya, ‘Apakah dia adalah tetanggamu hingga engkau tahu keadaannya, baik siang maupun malam, masuk dan keluar rumahnya?’, dia berkata, ‘Tidak’. Umar bertanya, ‘Apakah engkau pernah berurusan harta dengannya sehingga kau tahu bahwa ia adalah seorang yang wara’?’, dia berkata, ‘Tidak’. Umar berkata, ‘Pernahkah engkau bersafar (bepergian) dengannya, hingga engkau tahu bahwa ia memiliki akhlak yang mulia?’, dia berkata, ‘Tidak’, Umar berkata, ‘Berarti engkau tidak mengenalnya’.”([3])

Di antara pelajaran dalam kisah tersebut adalah safar dapat mengungkap akhlak seseorang. Apalagi jika kita berbicara tentang safar pada zaman dahulu, di mana saat itu penuh dengan kesulitan, di bawah terik matahari yang panas, di atas kendaraan yang sangat sedeberharapana, dihantam dengan angin kencang lagi panas penuh dengan debu, terkadang kehabisan bekal dan tidak menemukan mata air.

Kondisi-kondisi yang demikian ini dapat mengungkap akhlak seseorang. Apakah di dalam safar dia Perhatian terhadap orang lain? Apakah dia hanya mementingkan dirinya sendiri? Apakah dia memperhatikan rombongan? Apakah dia mampu mengendalikan emosi? Apakah dia termasuk orang baik? Bagaimana dia menjaga salatnya? Apakah dia mengerjakan salat malam? Oleh karenanya, diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhudhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda,

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ

“Safar adalah potongan dari siksaan.”([4])

Artinya setiap orang akan merasakan kesulitan di dalam safar, apalagi jika safar tersebut dilakukan pada zaman dahulu. Safar pada zaman sekarang tentu berbeda dengan safar pada zaman dahulu. Meskipun safar pada zaman sekarang tidak banyak menyingkap akhlak seseorang, tetapi bagaimanapun seseorang yang melakukan safar dengan orang lain dalam waktu yang sangat lama, maka dia akan mengetahui bagaimana akhlak orang tersebut. Misalnya ketika seseorang melakukan safar untuk menunaikan haji, maka seseorang akan mengetahui bagaimana sesungguhnya akhlak orang lain. Apalagi, jika salah satu dari mereka tertimpa kesulitan, maka jati diri seseorang akan terlihat pada saat-saat tersebut. Oleh karenanya, hendaknya setiap orang tetap berakhlak mulia ketika di dalam safar.

Di antara hal yang menakjubkan bagi orang-orang pada masa Jahiliyah dahulu adalah mereka terkenal dengan akhlak mulia yang ada pada diri mereka. Sebagaimana ayah Ummu Salamah binti Abu Umayyah radhiyallahu ‘anha([5]) yang dahulu di kenal dengan زَادُ الرَّكْبِ ‘Bekal rombongan safar’. Orang-orang menyebutnya demikian, karena dia dikenal kebaikannya ketika di dalam safar. Setiap ada orang yang bersafar bersamanya, maka dia yang menanggung bekal mereka selama safar([6]).  Sungguh nikmat yang luar biasa, jika kita mendapati teman safar yang seperti ini.

Hal menakjubkan semacam ini sudah pernah terjadi pada masa Jahiliyah. Sebagian mereka memiliki akhlak yang mulia di dalam safar. Sebagian mereka pun ada yang setia kawan di dalam safar dan kesulitan.

Sebagaimana Abu al-Bahtari pada saat terjadi perang Badar yang dikenal dengan sifatnya yang setia kawan. Rasulullah ﷺ melarang kaum muslimin untuk membunuh Abu al-Bahtari di dalam peperangan, karena beliau ﷺ mengakui kebaikan, setia kawan dan rasa simpatinya terhadap orang lain, bahkan kepada agama Islam pada saat di Makkah sebelum hijrah ke Madinah. Dia sama sekali tidak mengganggu Rasulullah ﷺ dan dia adalah salah satu orang yang menolak pemboikotan orang-orang kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad ﷺ dan Bani Hasyim.([7]) Ini merupakan akhlak-akhlak mulia yang didapati dari orang-orang pada masa Jahiliyah dahulu.

Pada saat sekarang ini terkadang kita sering melakukan safar dengan banyak orang. dan jika kita cermati sangat terlihat akhlak mereka yang sesungguhnya. Bagaimana ibadah mereka, tutur kata mereka, jati diri mereka, bagaimana dia menghadapi kesulitan dan sikapnya. Bisa jadi mereka banyak mengumbar kata-kata manis, berkata dan berbuat baik selama berkumpul dengan banyak orang. Namun, ketika melakukan safar dengannya selama beberharapari-hari, maka kita akan melihat akhlak mereka yang sesungguhnya, baik dari tutur katanya, perilakunya maupun ibadahnya. Maka dari itu, Islam mengajarkan kepada kita tatkala kita bersafar untuk menjaga adab-adab yang diperhatikan di dalam safar, sehingga Allah ﷻ menjaga kita selama dalam safar.

Secara umum, adab yang harus diperhatikan selama dalam safar adalah akhlak kepada teman safar, yaitu dengan saling menghargai, saling membantu untuk kepentingan bersama, memakan bekal bersama, tidak saling menyinggung perasaan dan akhlak terpuji lainnya yang harus diperhatikan, baik di dalam safar maupun di luar safar.

Footnote:

_________

([1]) HR. Tirmidzi No. 3895, Ibnu Majah No. 1977, Ahmad No. 7402 dengan riwayat yang semakna, diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

([2]) Ihya’ ‘Ulumiddin, (2/246).

([3]) As-Sunan Al-Kubra, karya Al-Baihaqi, (10/213) dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

([4]) HR. Bukhari No. 1804.

([5]) Ummu Salamah binti Abu Umayyah radhiyallahu ‘anha, nama aslinya adalah Hindun binti Abu Umayyah, istri Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu. Setelah Abu Salamah meninggal, Rasulullah ﷺ menikahi Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Ayahnya adalah Abu Umayyah bernama Sahl, ada yang mengatakan Al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Mahzum [(Lihat: Al-Ifshah, (7/57)].

Dahulu orang-orang menyebutnya sebagai زَادُ الرَّكْبِ ‘Bekal rombongan safar’. [(Lihat: Kasyful Muskil, (4/420)]

([6]) Lihat: Kautsar Al-Ma’ani, (12/112).

([7]) Lihat: Min Ma’arik al-Islam al-Fashilah, (1/165).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *