Categories
69. Al-Haqqah

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat-52

52. فَسَبِّحْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلْعَظِيمِ

fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm
52. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.

Tafsir :

Sebagian ulama menafsirkan ayat ini dengan perintah agar melakukan shalat. Sebagian yang lain menafsirkan agar mensucikan Allah Subhanahu wa ta’ala dari segala jenis kekurangan, cacat, dan aib, karena Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Sempurna ([1]). Dan tasbih sendiri dari segi bahasa berasa dari kata الإِبْعَادُ, yaitu menjauhkan Allah Subhanahu wa ta’ala dari segala jenis kekurangan dan dan cacat terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Artinya ketika seseorang mengucapkan ‘Subhanallah” (Maha Suci Allah), yaitu maknanya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala jauh dari segala kekurangan, aib, dan segala cacat, dan Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Sempurna dengan segala sifat-sifat-Nya.

_______________________

Footnote :

([1]) Lihat: tafsir Al-Qurthubi: 18/277

Categories
69. Al-Haqqah

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat-51

51. وَإِنَّهُۥ لَحَقُّ ٱلْيَقِينِ

wa innahụ laḥaqqul-yaqīn
51. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.

Tafsir :

Tingkatan الْيَقِينِ ada tiga menurut para ulama.

Tingkatan pertama adalah عِلْمُ الْيَقِينِ, yaitu keyakinan yang diperoleh setelah mendengar kabar tentang hal tersebut. Contohnya adalah jika kita telah mendengar suatu kabar dari beberapa orang yang dipercaya, maka kemudian kita yakin akan kabar tersebut.

Tingkatan kedua adalah عَيْنُ الْيَقِينِ, yaitu keyakinan yang diperoleh setelah melihat. Contohnya adalah seseorang yang mengatakan bahwa si fulan telah hadir karena dia telah melihatnya secara langsung.

Tingkatan ketiga adalah حَقُّ الْيَقِينِ, yaitu keyakinan yang diperoleh dengan adanya interaksi langsung atau bisa merasakannya secara langsung tanpa adanya perantara. Ini merupakan tingkat yang paling tinggi. Contohnya adalah seperti seseorang melihat secangkir kopi, dia kemudian mencium aroma kopi, dan ketika dicicipi ternyata benar itu adalah kopi. ([1])

Adapun dalam ayat ini, Alquran disifati dengan حَقُّ الْيَقِينِ. Maka seharusnya orang yang membaca Alquran, mempelajari kisah dan makna-maknanya, maka seharusnya dia mencapai titik dimana dia semakin yakin dengan agama Islam ini. Dia akan semakin yakin dengan adanya Rabbul ‘Alamin. Akan tetapi yang jelas dia harus mempelajari dan mengungkap rahasia-rahasia Alquran yang telah dijelaskan oleh para Ahli Tafsir.

_____________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir As-Sa’dy hal. 884

Categories
69. Al-Haqqah

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat-50

50. وَإِنَّهُۥ لَحَسْرَةٌ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ

wa innahụ laḥasratun ‘alal-kāfirīn
50. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat).

Tafsir :

Di antara tafsiran para Ahli Tafsir tentang ayat ini adalah tatkala hari kiamat kelak, orang kafir akan menyadari betapa besar pahala yang didapatkan dari orang yang membaca dan mengamalkan Alquran. Sehingga mereka benar-benar menyesal mengapa dahulu mereka menghiraukan dan tidak mengimani Alquran. ([1])

_____________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/277

Categories
69. Al-Haqqah

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat-49

49. وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنكُم مُّكَذِّبِينَ

wa innā lana’lamu anna mingkum mukażżibīn
49. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya).

Tafsir :

Meskipun mukjizat dan kebenaran Alquran telah tampak jelas, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa akan tetap saja ada orang-orang yang akan mendustakan Alquran. Jika orang-orang Quraisy yang mengerti betul bagaimana balaghah bahasa Arab tetap tidak beriman (mendustakan) terhadap Alquran, maka bagaimana lagi dengan orang yang tidak memahami bahasa Arab. Oleh karena itu, begitu banyak dijumpai manusia di muka bumi ini yang termasuk orang yang mendustakan Alquran.

Categories
69. Al-Haqqah

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat-48

48. وَإِنَّهُۥ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ

wa innahụ latażkiratul lil-muttaqīn
48. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Tafsir :

Kita bersyukur bahwa di zaman sekarang ini semakin banyak orang yang bersemangat menghafal Alquran. Akan tetapi pada dasarnya hal tersebut adalah sarana, karena yang terpenting dari mempelajari Alquran adalah bagaimana seseorang bisa memahami isi Alquran. Karena Alquran hanya bisa menjadi pelajaran bagi masing-masing diri kita kalau kita bisa memahami maknanya. Adapun membaca tanpa memahami belum termasuk tujuan dari diturunkannya Alquran, melainkan hal tersebut merupakan tahapan yang harus dilanjutkan lagi pada tahapan-tahapan selanjutnya hingga setiap kita bisa memahami isi Alquran. Oleh karenanya hendaknya seorang muslim berusaha untuk mempelajari isi dan kandungan Alquran.

Categories
Uncategorized

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat-47

47. فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَٰجِزِينَ

fa mā mingkum min aḥadin ‘an-hu ḥājizīn
47. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.

Tafsir :

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala kembali memberi ancaman dan penekanan bahwa Alquran hanya akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh karenanya, di antara kekurangan kita adalah kurang perhatian dengan Alquran.

Categories
69. Al-Haqqah

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat-46

46. ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ ٱلْوَتِينَ

ṡumma laqaṭa’nā min-hul-watīn
46. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.

Tafsir :

Lihat Tafsir di Ayat ke-44

Categories
69. Al-Haqqah

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat-45

45. لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِٱلْيَمِينِ

la`akhażnā min-hu bil-yamīn
45. niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.

Tafsir :

Lihat Tafsir di Ayat ke-44

Categories
69. Al-Haqqah

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat-44

44. وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ ٱلْأَقَاوِيلِ

walau taqawwala ‘alainā ba’ḍal-aqāwīl
44. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami.

Tafsir :

Meskipun kita tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan mengada-ada terkait Alquran, akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala mengingatkan bahwa jika seandainya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengarang-ngarang tentang isi Alquran niscaya Allah akan menyiksanya juga. Tetapi Nabi tidaklah menyampaikan Al-Quran melainkan itu benar-benar datang dari Allah. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa orang yang menyandarkan sesuatu kepada Allah padahal itu bukanlah perkataan Allah Subhanahu wa ta’ala, maka sungguh dia telah terjatuh ke dalam dosa besar. Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. Al-A’raf : 33)

Oleh karenanya hendaknya seseorang berhati-hati dalam menyandarkan suatu perkara atau perkataan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena betapa banyak di zaman sekarang ini orang-orang berani berbicara tentang agama tanpa dalil, dan mengutamakan perasaan dan akalnya. Oleh karenanya ini adalah ancaman, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan demikian diancam untuk diputuskan urat nadi di jantungnya, maka bagaimana lagi dengan kita?

Categories
69. Al-Haqqah

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat-43

43. تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

tanzīlum mir rabbil-‘ālamīn
43. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.

Tafsir :

Di sini Allah hanya menafikan bahwa Al quran ini bukan ucapan seorang penyair dan dukun, dan tidak menyebutkan tuduhan-tuduhan yang lain, seperti: pendusta, gila, dll. Karena di awal Allah menyebutkan bahwa Al quran ini adalah wahyu yang diturunkan kepada Rasul yang karim (mulia), dan shifat ini sudah menjadi menafikan gila dan pendusta pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adapun penyair dan dukun, maka di masa itu mereka termasuk orang yang mulia, maka dari itu Allah azza wa jalla menafikan kedua sifat ini di sini (jika kita tafsirkan bahwa Rasul di sini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan Jibril). ([1])

_______________________

Footnote :

([1])  At-Tahrir Wa At-Tanwir, 29/142