Categories
64. At-Taghabun

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat-18

18. عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

‘ālimul-gaibi wasy-syahādatil-‘azīzul-ḥakīm
18. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tafsir: –

Categories
64. At-Taghabun

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat-17

17. إِن تُقْرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

in tuqriḍullāha qarḍan ḥasanay yuḍā’if-hu lakum wa yagfir lakum, wallāhu syakụrun ḥalīm
17. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.

Tafsir:

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menamakan infak yang dikeluarkan oleh kita sebagai pinjaman, seakan-akan Allah subhanahu wa ta’ala meminjam kepada kita([1]), dan kita harus yakin jika Allah subhanahu wa ta’ala meminjam harta kepada kita pasti akan dikembalikan karena Allah subhanahu wa ta’ala maha kaya. Apa yang kita keluarkan untuk berinfak maka akan dihitung/dianggap pinjaman oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyelisihi janji maka pinjaman tersebut pasti Allah subhanahu wa ta’ala bayar. Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala tidak membalas sebagaimana apa yang kita keluarkan akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala akan membalasnya dengan berlipat ganda dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman يُضَاعِفْهُ لَكُمْ “niscaya Dia melipat gandakan (balasan) untuk kalian”. Karenanya penulis sering menyampaikan: “Jika anda menyimpan uang di Allah subhanahu wa ta’ala maka balasannya riba, dan ini adalah riba yang halal”, bahkan bukan hanya dilipat gandakan, akan tetapi dosa kita akan diampuni dengan sebab infak kita.

Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun.”

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala berterima kasih, padahal tidak ada jasa sedikitpun dari seorang hamba terhadap Allah subhanahu wa ta’ala, akan tetapi seakan-akan Allah subhanahu wa ta’ala memposisikan diri-Nya sebagai yang meminjam harta kepada hamba-Nya sehingga hamba memiliki jasa, seakan-akan demikian, padahal hakikatnya seorang hamba tidak memiliki jasa apapun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena hakikatnya ketika seorang hamba beramal shalih maka itu semua kembali untuk hamba itu sendiri, dan juga yang membuat seorang hamba beramal shalih adalah Allah subhanahu wa ta’ala, akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan bahwasa diri-Nya maha berterimakasih.

____________

Footnote:

([1]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 28/289

Categories
64. At-Taghabun

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat-16

16. فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ وَٱسْمَعُوا۟ وَأَطِيعُوا۟ وَأَنفِقُوا۟ خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

fattaqullāha mastaṭa’tum wasma’ụ wa aṭī’ụ wa anfiqụ khairal li`anfusikum, wa may yụqa syuḥḥa nafsihī fa ulā`ika humul-mufliḥụn
16. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Tafsir:

Dalam ayat ini memerintahkan hamba-Nya secara umum untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala semampunya, di antaranya adalah ketika mengurus anak-anak dan istri-istrinya serta dalam pengaturan pengeluaran hartanya, maka dia harus berusaha untuk mengatur dan mengurus itu semua semampunya([1]). Bukan berarti ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan seorang hamba untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka dia harus menjadikan anak-anak dan istri-istrinya menjadi orang yang shalih, sebab ini belum tentu bisa dilakukan oleh seseorang, akan tetapi tugas seorang hamba adalah berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik mereka, menasihati mereka dengan penuh kesabaran, dan dengan bertahap. Namun kebanyakan orang kita dapati tidak sabar dalam mendidik sehingga dia tidak berhasil mendidik anak-anak dan istri-istrinya, bahkan terkadang seseorang bisa sabar kepada orang lain namun dia tidak bisa bersabar terhadap anak-anak dan istri-istrinya. Maka hendaknya seseorang harus memiliki banyak tabungan kesabaran dalam menghadapi anak-anak dan istri-istrinya, apalagi istrinya lebih dari satu maka dia harus lebih banyak lagi memiliki tabungan kesabaran. Penulis pernah berjumpa dengan praktisi poligami dan dia berkata: “Ustadz, jika anda ingin berpoligami maka hendaknya memiliki tabungan sabar yang banyak, jika tidak memilikinya maka akan hancur”. Kita dapati memang terhadap 1 istri saja harus memiliki tabungan sabar yang banyak apalagi jika istri lebih dari 1 maka harus lebih memiliki tabungan kesabaran yang lebih banyak lagi.

Dalam ayat ini juga menyebutkan akan pentingnya berinfak, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman وَأَطِيعُوا “taatlah kalian” yaitu dengan berbagai macam ketaatan, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan secara khusus dari jenis-jenis ketaatan tersebut dengan firman-Nya وَأَنْفِقُوا “dan berinfaklah kalian”([2]), dan tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan infak secara khusus dari sekian banyak ketaatan kecuali menunjukkan bahwa infak adalah salah satu jenis ketaatan yang luar biasa. Banyak sekali didapati di dalam Al-Quran perintah untuk berinfak, dan ini menunjukkan bahwasanya kita harus berkorban dengan harta kita, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

«وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ»

“Sedekah itu bukti” ([3])

Dalam hadits ini disebutkan bahwa sedekah adalah bukti, yaitu bukti bahwasanya seseorang telah beriman dengan cara berinfak. Lagi pula untuk apa seseorang menyimpan hartanya banyak banyak? karena ketika dia meninggal dia tidak dapat membawa hartanya. Namun bukan berarti kita harus menginfakkan seluruh harta kita, akan tetapi kita diperintahkan untuk menginfakkan sebagian saja dari harta kita di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, dan ini adalah kebaikan untuk diri kita sehingga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman خَيْرًا لِأَنفُسِكُمْ(itu) lebih baik untuk kalian”, maksudnya apa yang kalian infakkan bukan untuk Allah subhanahu wa ta’ala, akan tetapi infak kalian untuk menjadi bekal kalian di akhirat nanti.

Lain halnya jika kalian meninggal lantas kepemilikan harta kalian berpindah ke ahli waris, sehingga jika ahli waris yang berinfak maka pahalanya adalah untuk ahli warisnya, karena harta bukan lagi miliknya tapi milik ahli warisnya. Lain halnya jika ketika dia masih hidup dia yang berinfak, maka pahalanya tidak akan berpindah tangan dan itu akan menjadi miliknya sendiri.

Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini menunjukkan bahwasanya asal sifat manusia adalah ingin selalu memegang hartanya dan tidak ingin melepaskannya dari tangannya([4]), karenanya untuk bisa berinfak seseorang harus melatihnya sedikit demi sedikit. Jika tidak dilatih maka tidak mungkin dia bisa berinfak, karena dalam berinfak dia harus melawan rasa pelitnya, dan setiap orang mempunyai rasa pelit yang harus dia lawan, jika dia tidak melawannya maka dia tidak bisa untuk berinfak sehingga dia akan terus hidup dengan penuh rasa pelit dan dia akan meninggal dalam keadaan pelit.

____________

Footnote:

([1]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 28/287

([2]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 28/287

([3]) HR. Muslim no. 223

([4]) Lihat: At-Tahrir wat Tanwir 28/289

Categories
64. At-Taghabun

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat-15

15. إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

innamā amwālukum wa aulādukum fitnah, wallāhu ‘indahū ajrun ‘aẓīm
15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Tafsir:

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kembali bahwa harta-harta dan anak-anak adalah ujian bagi seorang hamba, dan kecintaan seseorang terhadap harta-harta dan anak-anak pada dasarnya adalah suatu yang wajar, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” QS. Al-Kahfi: 46

Maka kita lihat seseorang ketika memiliki anak maka dia akan bahagia dengan anak-anaknya, begitu juga kita lihat seseorang ketika memiliki harta yang banyak maka dia akan bahagia dengan hartanya, akan tetapi perlu diingat bahwa harta-harta dan anak-anak adalah ujian, semuanya adalah amanah dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk menguji seseorang.  Maka hati-hati jangan sampai hal tersebut membuat seseorang menjadi jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“dan di sisi Allah pahala yang besar.”

Maka seseorang harus bisa menghadapi ujian tersebut, menunaikan amanah tersebut, yaitu dengan membina anak-anaknya dengan baik, begitu pula dengan hartanya maka handaknya ia mengaturnya dengan baik. Maka jika seseorang telah melakukan hal tersebut dia akan mendapatkan ganjaran yang besar di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Categories
64. At-Taghabun

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat-14

14. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanū inna min azwājikum wa aulādikum ‘aduwwal lakum faḥżarụhum, wa in ta’fụ wa taṣfaḥụ wa tagfirụ fa innallāha gafụrur raḥīm
14. Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tafsir:

Dalam ayat Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan kita bahwa ada di antara keluarga kita di antaranya istri-istri dan anak-anak kita yang bisa menghalangi kita dari beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menghalangi kita dari menjalani ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka.”

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa ada diantara istri-istri dan anak-anak kita ada yang menjadi musuh bagi kita, dan musuh adalah seseorang yang menginginkan untuk menimpakan keburukan kepada yang lainnya, dan Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan disini sebagian مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ “dari sebagian istri-istri kalian dan anak-anak kalian” jadi tidak semua istri-istri dan anak-anak itu buruk, karena ada diantara mereka yang baik. Termasuk contoh istri yang baik adalah sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan, dari Tsauban, ia berkata:

لَمَّا نَزَلَ فِي الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ مَا نَزَلَ قَالُوا: فَأَيَّ الْمَالِ نَتَّخِذُ؟ قَالَ عُمَرُ: أَنَا أَعْلَمُ ذَلِكَ لَكُمْ. قَالَ: فَأَوْضَعَ عَلَى بَعِيرٍ فَأَدْرَكَهُ، وَأَنَا فِي أَثَرِهِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَّ الْمَالِ نَتَّخِذُ؟ قَالَ: ” لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً تُعِينُهُ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ

“Tatkala turun ayat yang berkaitan dengan masalah perak dan emas, para sahabat bertanya, “Lantas harta apa yang kita ambil?” Umar berkata: “Aku akan memberitahukan kepada kalian masalah itu.” Umar lantas naik ke atas untanya dan menemui beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara aku mengikuti di belakangnya. Umar bertanya; “wahai Rasulullah, harta apa yang boleh kita ambil?” Beliau menjawab: “Hendaknya salah seorang dari kalian menjadikan hatinya sebagai hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir dan istri yang menolongnya dalam urusan akhiratnya.” ([1])

Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu bentuk kenikmatan adalah ketika memiliki istri yang senantiasa mengingatkan suaminya tentang perkara akhirat, sering memotivasi dia untuk senantiasa berinfak, mengingatkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, membangunkan dia untuk shalat subuh, dan membangunkan dia untuk shalat malam. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala juga mengingatkan bahwa diantara istri-istri terdapat musuh bagi suaminya yang selalu membuat masalah, yang menghalangi suaminya dari berbuat kebaikan, ketika ingin berbuat baik kepada orang tua dihalang-halangi, ingin berbuat baik terhadap kerabat dihalang-halangi, dia yang mengajarkan suaminya menjadi pelit, mengajarkan suaminya untuk terus memikirkan dunia, bahkan mengajarkan suaminya untuk berhutang demi memiliki perhiasan dunia, dan yang lainnya. Istri seperti ini dialah musuh bagi suaminya yang menginginkan keburukan kepada suaminya. Demikian juga anak-anak sebagaimana yang diriwayatkan dari Ya’la al-‘Amiri,

جَاءَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ يَسْعَيَانِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَضَمَّهُمَا إِلَيْهِ وَقَالَ: «إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ»

“datang Al-Hasan dan Al-Husain berjalan menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merangkul meraka berdua dan bersabda: sesungguhnya anak membuat orang menjadi pelit dan penakut.” ([2])

Dalam hadits ini disebutkan bahwa anak menjadi sebab seseorang menjadi pelit dan penakut, ketika dia mau berinfak lalu dia memikirkan anak-anaknya akhirnya membuatnya tidak jadi berinfak, dan ketika dia ingin berjihad lalu dia memikirkan anak-anaknya lalu berpikir jika dia meninggal maka siapa yang akan mengurus anak-anaknya? Akhirnya membuatnya tidak jadi berjihad. Bahkan anak-anak bisa membuat seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan ketika anaknya banyak keinginan, ingin ini dan ingin itu lalu dia menuruti semua keinginan anaknya akhirnya dia terjerumus ke dalam kemaksiatan, contohnya ketika anaknya ingin menonton di bioskop, demi menyenangkan anaknya dia mengikutinya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan untuk berhati-hati فَاحْذَرُوهُمْ “maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka”, karena sebagian orang mengatakan bahwa ini seperti musuh dalam selimut yaitu musuh yang tidak disadari, rasa cinta terhadap istri dan anak-anak dengan rasa cinta yang berlebihan sehingga membuatnya tidak bisa menimbang dengan timbangan syar’i, akhirnya dia menuruti semua keinginan istri-istri dan anak-anaknya dan dia terjerumus ke dalam kemaksiatan tanpa dia sadari. Seperti yang dijelaskan oleh penulis bahwa sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas,

وَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ} قَالَ: «هَؤُلَاءِ رِجَالٌ أَسْلَمُوا مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ وَأَرَادُوا أَنْ يَأْتُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَبَى أَزْوَاجُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ أَنْ يَدَعُوهُمْ أَنْ يَأْتُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَوْا النَّاسَ قَدْ فَقُهُوا فِي الدِّينِ هَمُّوا أَنْ يُعَاقِبُوهُمْ»، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ} [التغابن: 14] الآيَةَ:: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ “

Ibnu ‘Abbas ditanya oleh seorang laki-laki mengenai ayat ini: {Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka} (QS. Attaghabun: 14), beliau menjawab: mereka adalah para lelaki penduduk Makkah yang telah masuk Islam, dan ingin menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun istri-istri dan anak-anak mereka enggan jika mereka ditinggalkan untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Ketika mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam , mereka melihat orang-orang (yang telah datang lebih dahulu) sungguh telah memahami agama, sehingga mereka berniat ingin menghukum istri-istri dan anak-anak mereka, maka turunlah ayat ini: {Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka} (QS. Attaghabun 14).”([3])

Dan ini bukan hanya untuk para istri saja, namun para suami juga bisa menjadi musuh bagi para istri jika mereka menghalangi istri-istri mereka dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. ([4])

Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“dan jika kalian maafkan dan kalian santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Ini merupakan arahan ilahi yang indah, karena dalam ayat ini menjelaskan bahwa meskipun di antara istri-istri dan anak-anak ada yang merupakan musuh dan kita diperintahkan untuk waspada dan hati-hati, namun bukan berarti lantas kita menjadi pelit dan marah terhadap istri dan anak-anak, karena bagaimanapun mereka adalah istri-istri dan anak-anak kita. Allah subhanahu wa ta’ala memberi arahan dan bimbingan dengan firman-Nya وَإِنْ تَعْفُوا “dan jika kalian maafkan”, وَتَصْفَحُوا “dan kalian berlapang dada” yaitu melapangkan dada tanpa perlu mencela namun cukup dinasihati, karena ketika mereka salah maka hakikatnya sang suami juga salah karena terlalu mengikuti kemauan mereka, وَتَغْفِرُوا “kalian menutupi” yaitu menutupi kesalahan mereka([5]), tidak perlu bercerita kepada orang lain sebab dia tidak bisa melalukan ketaatan karena disebabkan istri-istri dan anak-anaknya, karena kesalahan mereka bukanlah untuk diceritakan kepada orang lain, maka disini Allah subhanahu wa ta’ala memberikan solusi وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا “dan jika kalian maafkan dan kalian tidak mencela, serta menutupi (kesalahan mereka)”. Mengapa suami dilarang untuk memarahi istri-istri dan anak-anaknya yang telah membuatnya lalai dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala?, hal ini dikarenakan bagaimanapun juga mereka adalah istri-istri dan anak-anaknya, dan bukanlah orang lain, yang mana mereka adalah kecintaannya, yang memiliki jasa baik lainnya, memberikan kebahagiaan kepadanya. Karenanya dilarang untuk mencela dan memarahi mereka atau menghukum mereka. Uslub/metode ini disebut dalam istilah tafsir dengan الاِحْتِرَاس, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala mendatangkan suatu pernyataan untuk menepis prasangka yang keliru (yang mungkin muncul) terhadap pernyataan yang sebelumnya.  Dalam hal ini ketika Allah berfirman إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ “Sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka”, maka ketika ada seseorang yang membaca ayat ini kawatir ia salah paham, dan menyangka harus menghukum anak dan istrinya yang menyebabkannya lalai. Maka untuk menepis kemungkinan persangkaan ini maka Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan setelahnya وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا “dan jika kalian maafkan dan kalian tidak mencela, serta menutupi (kesalahan mereka)”. Ini menunjukkan untuk kita tetap harus sayang kepada istri-istri dan anak-anak kita meskipun dalam kondisi mereka jelas-jelas salah, entah karena menjerumuskan kita sehingga menjadi pelit, atau menghalangi kita dari menuntut ilmu, atau menyebabkan kita kurang berbakti kepada orang tua, dan lain-lain, namun kita tetap dilarang untuk memarahi mereka, mencela mereka, dan mengumbar aib mereka. Apalagi jika kesalahan mereka hanya berupa kesalahan yang ringan maka lebih dilarang lagi bagi kita untuk memarahi mereka, mencela mereka, dan mengumbar aib mereka. Dan jika seorang suami sudah melakukan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan yaitu وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا “dan jika kalian maafkan dan kalian tidak mencela, serta menutupi (kesalahan mereka)” maka balasannya adalah فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Maksudnya adalah اَلْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ “balasan sesuai dengan amal”, sebagaimana kalian mengampuni istri-istri dan anak-anak kalian maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni kalian. Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan janji-janji yang lain dan Allah subhanahu wa ta’ala hanya memberikan janji akhirat, yaitu ketika seorang suami memaafkan istri-istri dan anak-anaknya, menasihati mereka, tidak mencela mereka, dan tidak membongkar aib mereka maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya, dan ini yang paling diharapkan oleh seorang hamba di akhirat, yaitu diampuni dosa-dosanya. Dan itu bisa ia raih dengan mengampuni istri-istri dan anak-anaknya.

____________

Footnote:

([1]) HR. Ahmad no. 22437, dikatakan oleh Syu’aib al-Arnauth hadits ini hasan lighoirih

([2]) HR. Ibnu Majah no. 3666, dan hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani

([3]) HR. At-tirmidzi no. 3317 dan ia berkata, “Hadits ini adalah hadits hasan shahih”, dan hadits ini dihasankan oleh Al-Albani.

([4]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 18/142

([5]) Lihat: At-Tahrir- wat-Tanwir 28/285

Categories
64. At-Taghabun

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat-13

13. ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

allāhu lā ilāha illā huw, wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn
13. (Dialah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.

Tafsir:

Jika kita mengetahui bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan langit dan bumi, bahkan Allah yang menciptakan kita dan Allah subhanahu wa ta’ala maha mengetahui atas segala sesuatu maka jika bukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita bertawakkal maka kepada siapa lagi? Hendaknya kita bertawakkal kepada Dzat tersebut yang maha kuasa dan maha mengetahui yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

Categories
64. At-Taghabun

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat-12

12. وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ ۚ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ

wa aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụl, fa in tawallaitum fa innamā ‘alā rasụlinal-balāgul-mubīn
12. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Tafsir:

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa tugas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menyampaikan saja, sebagaimana yang firmankan dalam surah yang lain,

وَإِنْ مَا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” QS. Ar-Ra’d: 40

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan dengan cara yang terbaik dan selembut-lembutnya, maka jika orang-orang kafir tidak beriman maka tidak masalah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak harus membuat mereka beriman. Dan ini sangat penting untuk diketahui oleh seorang da’i, bahwa tugas kita hanya menyampaikan, tapi perlu diingat, ketika menyampaikan maka hendaknya kita menyampaikan dengan selembut-lembutnya, sebaik-baiknya, dan dengan sejelas-jelasnya dengan membawakan dalil-dalil entah itu dalil dari Al-Quran, hadits, atau dalil secara logika. Namun jika orang yang didakwahi tidak mau beriman maka tidak mengapa, karena seorang da’i tidak lebih hebat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau yang seorang nabi saja tidak bisa memberi hidayah kepada pamannya Abu Thalib yang dia adalah orang yang paling Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sayangi. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersedih ketika keluarganya dari kaum Quraisy tidak mau beriman sehingga Allah subhanahu wa ta’ala tegur dengan firmannya,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” QS. An-Nahl: 127

Dan juga firman Allah subhanahu wa ta’ala

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَا أَنْتَ بِمَلُومٍ

“Maka berpalinglah kamu dari mereka dan kamu sekali-kali tidak tercela.” QS. Adz-Dzariyat: 54

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lah tercela dikarenakan mereka tidak mau beriman, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya. Dan ini merupakan hiburan bagi para da’i, mungkin dia sedih tatkala dia menyampaikan orang-orang tidak beriman dan tidak percaya, namun perlu diingat bahwa dia tidak lebih hebat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika nabi saja tidak bisa memberi hidayah kepada orang lain maka apalagi dia, maka tugasnya hanyalah menyampaikan dengan cara yang terbaik.

Categories
64. At-Taghabun

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat-11

11. مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

mā aṣāba mim muṣībatin illā bi`iżnillāh, wa may yu`mim billāhi yahdi qalbah, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm
11. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir:

Dalam ayat ini terdapat penyemangat untuk orang-orang yang beriman agar mereka lebih bersabar dalam menghadapi ujian di dunia ini bahwasanya tidak ada satu ujian pun yang menimpa seseorang kecuali atas izin dan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, namun bagaimana seharusnya sikap orang yang beriman terhadap ujian ini? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya”, yaitu barang siapa beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dia menerima takdir Allah subhanahu wa ta’ala dan bersabar maka Allah subhanahu wa ta’ala akan berikan hidayah kepadanya, dan ini adalah sikap orang yang beriman. Tatkala seseorang mendapatkan ujian maka Allah subhanahu wa ta’ala maha mengetahui tentang musibah tersebut, mengetahui bahwa musibah tersebut menimpa seseorang, mengetahui sikap orang tersebut terhadap musibah yang dia alami, dan juga Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui isi hati seorang hamba yang terkena musibah apakah dia sabar atau tidak, jika dia bersabar maka ada balasannya, dan jika tidak bersabar juga ada balasannya. Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “barangsiapa beriman kepada Allah” dan ini berkaitan dengan hati yaitu di bersabar يَهْدِ قَلْبَهُ “niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya”. Syaikh As-Sa’di berkata ketika menjelaskan ayat ini: “Ini adalah balasan terbaik bagi orang yang sabar yaitu hatinya diberikan hidayah, sehingga ketika hatinya diberi hidayah Allah subhanahu wa ta’ala akan berikan dia kebahagiaan dan dia akan menghadapi ujian hidup dengan ketenangan, namun sebaliknya ketika seseorang mendapatkan musibah lalu dia marah itu adalah adzab yang disegerakan sebelum adzab akhirat”([1]).

Kondisi seseorang yang tidak menerima ketika terkena musibah sesungguhnya merupakan penderitaan yang luar biasa, yang kemudian menyebabkan dia marah dan mengamuk dan terus dalam kondisi seperti itu, maka ini adalah adzab yang Allah subhanahu wa ta’ala segerakan untuknya di dunia. Adapun orang yang beriman maka tidak bersikap demikian, dia bersabar ketika mendapatkan ujian sehingga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah kepada hatinya dan dia pun kokoh dalam menghadapi segala ujian dan Allah subhanahu wa ta’ala pun akan membalas atas hatinya yang sabar tersebut.

__________

Footnote:

([1]) Lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 867

Categories
64. At-Taghabun

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat-10

10. وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَآ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā ulā`ika aṣ-ḥābun-nāri khālidīna fīhā, wa bi`sal-maṣīr
10. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Tafsir:

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tempat kembali sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir dan mengingkari ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala adalah neraka, adapun dunia dan alam barzakh hanyalah tempat singgah sementara.

Categories
64. At-Taghabun

Tafsir Surat At-Taghabun Ayat-9

9. يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ ٱلْجَمْعِ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ ٱلتَّغَابُنِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ وَيَعْمَلْ صَٰلِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّـَٔاتِهِۦ وَيُدْخِلْهُ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

yauma yajma’ukum liyaumil-jam’i żālika yaumut-tagābun, wa may yu`mim billāhi wa ya’mal ṣāliḥay yukaffir ‘an-hu sayyi`ātihī wa yudkhil-hu jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, żālikal-fauzul-‘aẓīm
9. (Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.

Tafsir:

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kembali tentang kondisi hari kiamat yang mana pada hari itu semua orang dikumpulkan dari awal sampai akhir, dari zaman nabi Adam ‘alaihis salam sampai orang terakhir yang hidup ketika menjelang hari kiamat, semuanya dikumpulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak ada yang terlewatkan seorang pun, semuanya dibangkitkan kembali, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ لَمَجْمُوعُونَ إِلَىٰ مِيقَٰتِ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Waqi’ah: 49-50)

Kapan manusia dikumpulkan? Mereka semua dikumpulkan ketika hari at-Taghobun, yaitu di hari banyaknya manusia merasa rugi pada hari tersebut. Orang-orang kafir merasa rugi karena selama ini mereka tidak beriman sehingga ketika hari kiamat mereka merasa rugi, yaitu ketika melihat orang-orang yang beriman masuk surga dan mendapatkan kenikmatan-kenikmatan mereka. Seandainya orang-orang kafir ketika di dunia mengorbankan sesuatu yang sedikit maka mereka tentunya akan mendapatkan kenikmatan yang abadi. DI akhirat mereka merasa rugi karena mereka dahulu di dunia lebih mendahulukan kelezatan yang sedikit yang cepat habis dari kelezatan yang abadi. Orang-orang beriman juga merasa rugi karena ketaatan mereka kurang dan mereka menyesal karena mereka dahulu di dunia iman dan ketaatan mereka tidak mereka tambah dan mereka tidak giat dalam beribadah dan masih bermalas-malasan, dan banyak waktu yang mereka buang.

Apalagi di zaman sekarang seseorang terlalu banyak melihat media sosial yang ketika dia melihat berita sampah dia ikut komentar dengan komentar yang tanpa ilmu, dan banyak menyebarkan berita yang tidak jelas kebenarannya, juga membaca analisa orang-orang yang bodoh, dan banyak lagi yang lainnya yang menyebabkan banyak waktunya terbuang begitu saja, dan pada hari kiamat nanti kita semua akan menyesal dan kita semua akan merasakannya yaitu pada hari taghobun di hari semua orang akan menyesal. Dan juga orang yang berinfak juga akan menyesal pada hari kiamat karena infaknya kurang ketika di dunia.

Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

Seakan-akan Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan jika kita tidak ingin menjadi orang yang maghbun (orang yang rugi) di akhirat maka hendaknya kita beriman dan beramal shalih yang menyebabkan masuk ke dalam surga yang di dalamnya terdapat taman-taman yang indah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, serta kekal di dalamnya selama-lamanya. Maka apa arti hidup kita di dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat, karena hidup di dunia ini cuma sebentar, 60-70 tahun lalu kemudian kita akan diwafatkan, bahkan ada yang hidupnya tidak sampai 60 tahun, hanya 50 tahun sudah kena serangan jantung, dan ada yang usianya baru 30 tahunan meninggal karena kecelakaan, dan ini seperti yang dikatakan oleh seorang penyair,

وَمَنْ لَمْ يَمُتْ بِالسَّيْفِ مَاتَ بِغَيْرِهِ … تَنَوَّعَتِ الْأَسْبَابُ وَالدَّاءُ وَاحِدُ

“Barangsiapa yang tidak mati karena pedang maka dia akan mati dengan sebab yang lain, sebab-sebab bermacam-macam akan tetapi kematian satu.” ([1])

Maka kita dapati banyak orang yang meninggal dengan sebab-sebab yang berbeda, dan kehidupan kita di dunia ini hanya sebentar jika dibandingkan dengan akhirat yang kekal abadi, maka jangan sampai kita salah dalam bersikap karena setiap detik yang kita lewati di dunia ini akan menjadi penentu bagaimana tingkatan kita nanti tatkala di akhirat.

___________

Footnote:

([1]) Penyair ini bernama Ibnu Nabatah, lihat: Wafayaatul A’yaan: 3/193