Categories
71. Nuh

Tafsir Surat Nuh Ayat-28

28. رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا

rabbigfir lī wa liwālidayya wa liman dakhala baitiya mu`minaw wa lil-mu`minīna wal-mu`mināt, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā tabārā
28. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”.

Tafsir :

Selain Nabi Nuh ‘alaihissalam berdoa untuk kebinasaan kaumnya yang kafir, Nabi Nuh ‘alaihissalam juga mendoakan kebaikan untuk seluruh orang-orang beriman. Nabi Nuh ‘alaihissalam terlebih dahulu mendoakan dirinya, dan ini adalah dalil bahwa mendoakan diri sendiri itulah yang didahulukan lalu kemudian orang lain. Kemudian Nabi Nuh ‘alaihissalam mendoakan orang tuanya([1]), dan ini adalah dalil bahwa orang tua Nabi Nuh ‘alaihissalam masuk Islam, karena Nabi Nuh ‘alaihissalam mendoakan ampunan untuknya([2]). Dan ini merupakan di antara dalil yang disebutkan oleh jumhur ulama bahwasanya orang tua Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal bukan dalam kondisi Islam. Dan ini adalah pendapat jumhur, di antaranya adalah Imam An-Nawawi, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, dan Al-Baihaqi. Bahkan jumhur ulama syafi’iyah mengatakan bahwasanya di antara bukti kedua orang tua Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dalam keadaan tidak Islam adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mendoakan kedua orang tuanya. Bahkan dalam hadits telah disebutkan bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak memohonkan ampun untuk ibunya, ternyata beliau ditegur oleh Allah ﷻ. Adapun Nabi Nuh ‘alaihissalam, dia mendoakan kedua orang tuanya tanpa ditegur oleh Allah ﷻ. Adapun para ulama yang mengatakan bahwa orang tua Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Islam hanyalah ulama minoritas dan ulama belakangan seperti As-Suyuti dan yang lainnya. Memang hal ini adalah khilaf di kalangan para ulama, akan tetapi sebagian orang tidak bisa menerima khilaf tersebut.

Kemudian Nabi Nuh ‘alaihissalam mendoakan keluarganya yang beriman, karena tidak semua keluarganya beriman, di antaranya adalah istri dan salah satu anaknya([3]). Sebagaimana firman Allah ﷻ,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dan dikatakan (kepada kedua istri itu), ‘Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)’.” (QS. At-Tahrim : 10)

Sungguh bisa kita bayangkan bagaimana ujian yang sangat berat yang dilalui oleh Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau berdakwah selama ratusan tahun, akan tetapi anak dan istrinya ternyata tidak beriman. Kira-kira jika hal seperti ini terjadi di zaman sekarang, maka tentu seorang Da’i akan mendapat cacian dan makian luar biasa, karena dia mendakwahi orang lain, namun istri dan anaknya tidak mendengar dakwahnya sendiri.

Kemudian Nabi Nuh ‘alaihissalam juga mendoakan kebaikan untuk seluruh kaum mukminin baik yang telah meninggal maupun yang masih dan akan hidup di kemudian hari([4]). Ini menunjukkan bagaimana jiwa kasih sayang para Nabi terhadap kaum mukminin yang begitu tinggi, sampai-sampai Nabi Nuh ‘alaihissalam mendoakan mereka seluruhnya([5]). Dan dalam hadits disebutkan bahwa setiap orang yang kita doakan, maka kita akan mendapatkan kebaikan dari doa-doa tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ummu darda’, bahwa Rasulullah bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang diutus baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Semoga Allah mengabulkannya dan semoga engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan. ([6])

___________________

Footnote :

([1])  Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibn ‘Asyur 29/215.

([2])  Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/234 dan Al-Kassyaf Li Az-Zamakhsyariy 4/621.

([3])  Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 4/174.

([4])  Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibn ‘Asyur 29/215.

([5])  Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/377.

([6])  H.R. Muslim no.2733.

Categories
71. Nuh

Tafsir Surat Nuh Ayat-27

27. إِنَّكَ إِن تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا۟ عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوٓا۟ إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

innaka in tażar-hum yuḍillụ ‘ibādaka wa lā yalidū illā fājirang kaffārā
27. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.

Tafsir :

Selain karena Nabi Nuh ‘alaihissalam telah diberi kabar bahwa tidak akan ada lagi yang akan beriman, sehingga beliau berdoa untuk membinasakan seluruh orang-orang kafir, Nabi Nuh ‘alaihissalam juga mengemukakan alasan yang lain. Yaitu jika Allah ﷻ masih membiarkan mereka (orang-orang kafir) hidup, maka keberadaan mereka tidak lain hanya menambah kesesatan di muka bumi. ([1])

Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi Nuh ‘alaihissalam selama ratusan tahun telah menjumpai kaumnya yang usianya tidak sepanjang Nabi Nuh ‘alaihissalam. Namun dia melihat keadaan dimana seorang bapak yang memiliki anak, namun anaknya juga ikut kafir. Tidaklah Nabi Nuh ‘alaihissalam menyaksikan seorang bapak yang kafir melainkan anaknya juga kafir, bahkan cucu dan cicitnya nya pun ikut kafir. ([2])

Secara umum ada lima alasan mengapa Nabi Nuh ‘alaihissalam mendoakan kebinasaan bagi kaumnya. Alasan pertama adalah karena Nabi Nuh ‘alaihissalam mendapati kaumnya kafir sampai keturunan-keturunannya. Alasan kedua adalah Allah ﷻ juga telah mengabarkan kepadanya bahwa kaumnya tidak akan beriman kecuali yang memang telah beriman sebelumnya. Alasan ketiga adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak ingin mereka semakin sesat dan menyebarkan kesesatannya kepada orang lain. Alasan keempat, Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak ingin pengikutnya yang telah beriman menjadi berpaling darinya lalu mengikuti jalan orang-orang fajir dan kafir. Alasan kelima, Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak rela terus-terusan menyaksikan dan mendengar Allah ﷻ dihinakan dan disekutukan oleh kaumnya. ([3])

Akhirnya Allah mengabulkan doa Nabi Nuh ‘alaihissalam, lalu diperintahkan membuat kapal. Akan tetapi ketika Nabi Nuh ‘alaihissalam membuat kapal, dia senantiasa masih diejek oleh kaumnya. Setiap siapa yang lewat dan melihat Nabi Nuh ‘alaihissalam membuat kapal, maka pasti mereka mengejek Nabi Nuh ‘alaihissalam([4]). Allah ﷻ berfirman,

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ، فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ

Dan mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, ‘Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami). Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan (siapa) yang akan ditimpa azab yang kekal’.” (QS. Hud : 38-39)

Akan tetapi karena doa Nabi Nuh ‘alaihissalam bagi kehancuran orang-orang kafir, maka terjadilah azab yang dijanjikan oleh Allah ﷻ bagi mereka (kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam). ([5])

Ayat-ayat ini menunjukan kepedulian Nabi Nuh terhadap generasi-generasi yang akan datang, jangan sampai tumbuh generasi-generasi yang kafir kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa Al-Mushlih (Reformis) yang sesungguhnya adalah orang yang memperhatikan kebaikan generasi yang ada di zaman mereka, serta tidak lalai untuk meletakan dasar-dasar sebagai pondasi untuk memperbaiki genarasi yang akan datang setelah mereka karena dalam pandangan mereka semua generasi adalah sama berhak mendapatkan kebaikan yang sama sebagaimana generasi sebelumnya.

Dari sinilah Umar bin al-Khottoh berdalil dengan firman Allah:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka….” (QS. Al-Hasyr: 10)

Untuk tidak membagikan tanah-tanah subur di Iroq -yang berhasil ditaklukan oleh para pasukan mujahidin- kepada pasukan mujahidin tersebut. Karena hasil pertanian/perkebunan dari tanah subur tersebut akan disalurkan untuk penduduknya dan juga untuk generasi kaum muslimin yang akan datang. ([6])

___________________

Footnote :

([1])  Lihat: Tafsir Ath-Thabariy 23/642.

([2])  Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/234 dan Tafsir Ibnu Katsir 8/237.

([3])  Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibn ‘Asyur 29/214.

([4])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 9/31.

([5])  Tafsir Al-Baghawiy 8/234.

([6])  Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibn ‘Asyur 29/214.

Categories
71. Nuh

Tafsir Surat Nuh Ayat-26

26. وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى ٱلْأَرْضِ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ دَيَّارًا

wa qāla nụḥur rabbi lā tażar ‘alal-arḍi minal-kāfirīna dayyārā
26. Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.

Tafsir :

Setelah Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan sekian lama, namun kaumnya membalas dakwah beliau dengan ejekan dan hinaan, akhirnya Nabi Nuh ‘alaihissalam  berdoa agar membinasakan semua kaumnya yang mendurhakainya (kafir) ([1]). Mengapa Nabi Nuh ‘alaihissalam berdoa dengan doa seperti itu? Apakah beliau sudah tidak sabar? Nabi Nuh berdoa seperti itu karena Allah ﷻ telah mengabarkan bahwa mereka tidak akan beriman, Allah ﷻ berfirman,

وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَن يُؤْمِنَ مِن قَوْمِكَ إِلَّا مَن قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Hud : 36)

Setelah dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam selama kurang lebih 900 tahun, Allah ﷻ mengabarkan bahwa tidak ada lagi yang akan beriman kecuali yang telah beriman sebelumnya. Kalau sebuah pendapat mengatakan bahwa yang beriman hanya delapan puluh orang, maka hanya mereka itu sajalah yang beriman, dan tidak akan ada tambahan lagi kata Allah ﷻ. ([2])

_______________________________

Footnote :

([1])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 18/312.

([2])  Lihat: Tafsir Ath-Thabariy 15/327.

Categories
71. Nuh

Tafsir Surat Nuh Ayat-25

25. مِّمَّا خَطِيٓـَٰٔتِهِمْ أُغْرِقُوا۟ فَأُدْخِلُوا۟ نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا۟ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ أَنصَارًا

mimmā khaṭī`ātihim ugriqụ fa udkhilụ nāran fa lam yajidụ lahum min dụnillāhi anṣārā
25. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.

Tafsir :

Setelah Nabi Nuh ‘alaihissalam mengadukan kepada Allah ﷻ tentang kaumnya, maka Allah ﷻ kemudian berfirman tentang azab yang menimpa kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Yaitu mereka ditenggelamkan karena dosa-dosa mereka sendiri. Ternyata Allah ﷻ menyebutkan bahwa mereka sendirilah penyebab utama dibalik azab tersebut. Allah ﷻ tidak menyebutkan bahwa mereka ditenggelamkan karena pergerakan lempeng bumi atau karena hujan yang deras. Memang benar bahwa bisa jadi dalam sebuah azab ada peristiwa yang terlihat, akan tetapi dibalik itu ada sebab-sebab ukhrawi yang menyebabkan terjadinya peristiwa tersebut yaitu karena kemaksiatan mereka sendiri([1]). Allah ﷻ berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41)

Subhanallah, Nabi Nuh ‘alaihissalam telah menawarkan kepada mereka sebelumnya, jika mereka bertaubat maka Allah akan menurunkan hujan yang membawa keberkahan bagi mereka. Namun tatkala kaumnya tetap dalam kesesatannya maka Allah tetap akan menurunkan hujan, tetapi hujan penderitaan yang akan menenggelamkan mereka. Allah ﷻ berfirman dalam ayat yang lain,

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ، وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ

Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah, dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar : 11-12)

Setelah mereka ditenggelamkan, Allah ﷻ menyebutkan dalam ayat ini bahwa mereka mendapatkan siksaan tambahan yaitu dengan memasukkan mereka ke dalam neraka. Kalau kita perhatikan dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan huruf فَ pada kalimat فَأُدْخِلُوا, dan ini menunjukkan tertib waktu (urutan) namun tanpa jeda. Para Ahli Tafsir terbagi atas dua pendapat tentang makna ini.

Pendapat pertama, sebagian para ulama menyebutkan bahwa artinya adalah kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam tidaklah disiksa dengan api neraka Jahannam, akan tetapi yang dimaksud mereka dimasukkan dalam neraka yaitu mereka diazab dengan api di alam barzakh, karena tentunya setelah mereka meninggal karena tenggelam maka mereka telah memasuki alam berbeda yaitu alam barzakh. Artinya setelah mereka ditenggelamkan, maka ruh-ruh mereka langsung ditenggelamkan dan diazab di alam barzakh dengan api. Oleh karenanya para ulama yang berpendapat seperti ini juga mengemukakan bahwa ini merupakan dalil tentang adanya azab kubur.

Pendapat kedua, sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa itu bukanlah azab kubur, melainkan tatkala Allah ﷻ menenggelamkan mereka dalam banjir yang sangat dahsyat, ternyata Allah ﷻ juga membakar mereka dalam air tersebut, dan hal itu mudah bagi Allah ﷻ. ([2])

Kemudian Allah ﷻ menegaskan bahwa mereka tidak bisa ditolong oleh siapa pun. Nabi Nuh ‘alaihissalam saja tidak bisa menolong anaknya yang ikut tenggelam bersama kaum Nabi Nuh yang membangkang. Terlebih lagi berhala-berhala yang disembah oleh kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak dapat menolong mereka, yang ada berhala-berhala tersebut juga ikut tenggelam bersama mereka. ([3]

_______________

Footnote :

([1])  Lihat: Tafsir Ats-Tsa’labiy 10/47.

([2])  Lihat: Tafsir As-Sam’aniy 6/60.

([3])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 8/236.

Categories
71. Nuh

Tafsir Surat Nuh Ayat-24

24. وَقَدْ أَضَلُّوا۟ كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا ضَلَٰلًا

wa qad aḍallụ kaṡīrā, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā ḍalālā
24. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.

Tafsir :

Kalau dikatakan bahwa yang ikut beriman dengan Nabi Nuh ‘alaihissalam berjumlah delapan puluh orang dan manusia tatkala itu jumlahnya ribuan, maka yang jumlahnya ribuan tersebut dalam keadaan berbuat syirik. ([1])

___________________

Footnote :

([1])  Lihat: Al-Kassyaf Li Az-Zamakhsyari 4/619.

Categories
71. Nuh

Tafsir Surat Nuh Ayat-23

23. وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

wa qālụ lā tażarunna ālihatakum wa lā tażarunna waddaw wa lā suwā’aw wa lā yagụṡa wa ya’ụqa wa nasrā
23. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”.

Tafsir :

Kemudian Nabi Nuh ‘alaihissalam mengadukan kepada Allah ﷻ tentang perkataan kaumnya kepada yang lain dalam membuat tipu daya terhadap Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, Nasr, adalah lima berhala yang disembah di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam. Disebutkan oleh para ulama bahwa kedudukan berhala-berhala ini bertingkat-tingkat, sebagian lebih diagungkan dari sebagian yang lain, sebagaimana kemampuan mereka juga berbeda-beda di mata para penyembahnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa Wad dan Suwa’ disebutkan secara khusus karena keduanya merupakan berhala yang lebih utama dari yang lainnya menurut kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam([1]). Tentang kelima berhala ini, Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

هَؤلاء أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ، أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ، فَفَعَلُوا، فَلَمْ تُعْبَدْ، حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ العِلْمُ عُبِدَتْ

Itulah nama-nama orang Saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, syaithan membisikkan kepada kaum mereka untuk mendirikan berhala pada majelis mereka dan menamakannya dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukan hal itu, dan saat itu berhala-berhala itu belum disembah. Ketika mereka wafat dan ilmu telah tiada, maka patung-patung itu pun disembah.”([2])

Perhatikanlah bagaimana metode syaithan menyesatkan kaum Nabi Nuh. Para Ahli Tafsir menyebutkan bahwa awalnya syaithan tidak langsung mengarahkan kepada penyembahan patung berhala, tetapi diarahkan untuk mengagungkan orang-orang saleh  terlebih dahulu dengan membuat patung-patungnya. Maka setelah berlangsung generasi demi generasi, mulailah dilupakan tujuan awal dibuatnya patung-patung tersebut, ditambah lagi ilmu di tengah-tengah mereka telah dilupakan, akhirnya muncullah bibit-bibit penyembahan terhadap patung-patung tersebut, dan terjadilah kesyirikan pertama kali di muka bumi ini([3]). Lihatlah bagaimana kesabaran syaithan dalam menjerumuskan anak cucu Adam ‘alaihissalam. Oleh karenanya hendaknya kita juga bersabar dalam berdakwah. Hendaknya kita berdakwah dengan perlahan dan dengan cara yang baik. Bukan kemudian seseorang datang berdakwah lalu kemudian mengatakan ini dan itu, sehingga membuat orang lari dari dakwah tersebut. Ketahuilah bahwa dakwah yang benar bukan hanya tentang apa yang disampaikan, akan tetapi juga tentang bagaimana cara menyampaikannya.

Dari ayat ini juga kita pahami bahwa patung-patung tersebut jelas disembah. Karena ketika Nabi Nuh ‘alaihissalam mulai mengingatkan kaumnya agar tidak menyembah berhala-berhala tersebut, para pembesar-pembesar kaumnya berusaha menghalangi dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam([4]). Mereka ikut berdakwah sebagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah, hanya saja mereka mendakwahkan kebatilan. Adapun Nabi Nuh ‘alaihissalam mendakwahkan kebenaran. Ternyata sebagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam bersabar di atas dakwahnya, mereka juga bersabar terus berdakwah mengajak kepada penyembahan berhala. Allah ﷻ berfirman,

وَانطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), ‘Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki’.” (QS. Shad : 6)

Intinya kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam saling menasihati dalam kemaksiatan dan mewasiatkan agar bersabar di atas kemaksiatan tersebut. Dan hal ini juga dilakukan oleh kaum musyrikin Arab ketika menghadapi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Satu sama lain saling menyuruh bersabar agar tidak mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam([5]). Allah ﷻ berfirman,

إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَن صَبَرْنَا عَلَيْهَا وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا

(mereka berkata) ‘Sungguh, hampir saja dia menyesatkan kita dari sesembahan kita, seandainya kita tidak tetap bersabar (menyembah)nya’. Dan kelak mereka akan mengetahui pada saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.” (QS. Al-Furqan : 42)

Maka karena kaumnya yang demikian membangkang dari dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam, maka Nabi Nuh ‘alaihissalam pun mengadukan hal tersebut kepada Allah ﷻ.

_____________________

Footnote :

([1])  Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 6/105.

([2])  HR. Bukhari no. 4920

([3])  Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 6/104.

([4])  Lihat: Al-Kassyaf Li Az-Zamakhsyari 4/619 dan At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 29/206.

([5])  Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 7/53 dan 6/113.

Categories
71. Nuh

Tafsir Surat Nuh Ayat-22

22. وَمَكَرُوا۟ مَكْرًا كُبَّارًا

wa makarụ makrang kubbārā
22. dan melakukan tipu-daya yang amat besar”.

Tafsir :

Nabi Nuh ‘alaihissalam juga mengadukan kepada Allah ﷻ bahwa kaumnya telah berbuat tipu daya yang besar. Yaitu tipu daya untuk mencegah dan menghalangi dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam, agar dakwahnya tidak diterima oleh kaumnya([1]). Kita ketahui bahwa Nabi Nuh ‘alaihissalam sangat tegar berdakwah selama 950 tahun terhadap kaumnya. Maka kaumnya harus membuat makar (tipu daya) terhadap Nabi Nuh ‘alaihissalam agar bisa menghadapi dakwahnya yang terus-menerus.

________________

Footnote :

([1])  Lihat: Al-Kassyaf Li Az-Zamakhsyari 4/619.

Categories
71. Nuh

Tafsir Surat Nuh Ayat-21

21. قَالَ نُوحٌ رَّبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِى وَٱتَّبَعُوا۟ مَن لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُۥ وَوَلَدُهُۥٓ إِلَّا خَسَارًا

qāla nụḥur rabbi innahum ‘aṣaunī wattaba’ụ mal lam yazid-hu māluhụ wa waladuhū illā khasārā
21. Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka.

Tafsir :

Setelah Nabi Nuh ‘alaihissalam menyampaikan peringatan-peringatan akan kenikmatan-kenikmatan terhadap kaumnya, dengan penuh kesabaran dan dengan segala  metode, ternyata kaumnya tetap tidak beriman kepada Allah ﷻ dan Nabi Nuh ‘alaihissalam. Akhirnya Nabi Nuh ‘alaihissalam kembali mengadu kepada Allah ﷻ bahwa kaumnya telah mendurhakainya, dan mereka hanya mau mengikuti pembesar-pembesar kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam, dimana mereka adalah orang-orang kaya di antara mereka. Padahal orang-orang kaya tersebut tidaklah menambah harta dan anak-anak mereka, melainkan hanya menambah kerugian bagi mereka. Adapun Nabi Nuh ‘alaihissalam dan pengikutnya dari kalangan orang-orang miskin, sehingga kaumnya enggan mengikutinya. ([1])

____________________

Footnote :

([1])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 18/306 dan Tafsir Al-Mawardiy 6/103

Categories
71. Nuh

Tafsir Surat Nuh Ayat-20

20. لِّتَسْلُكُوا۟ مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا

litaslukụ min-hā subulan fijājā
20. “supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”.

Tafsir :

Maka Nabi Nuh ‘alaihissalam seakan-akan mengingatkan mereka bahwa apakah semua kenikmatan-kenikmatan itu terjadi begitu saja tanpa ada yang menciptakannya? Tentu tidak. Allah ﷻ adalah yang menciptakan itu semua. Maka mengapa mereka tidak mengagungkan Allah ﷻ? ([1])

___________________

Footnote :

([1])  Lihat: At-Tahrir Wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 29/205 dan Tafsir Ibnu Katsir 8/234.

Categories
71. Nuh

Tafsir Surat Nuh Ayat-19

19. وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ بِسَاطًا

wallāhu ja’ala lakumul-arḍa bisāṭā
19. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.

Tafsir :

Nabi Nuh ‘alaihissalam mengingatkan lagi akan nikmat bumi yang dijadikan sebagai hamparan, sehingga mereka bisa tinggal dengan nyaman di atas muka bumi. Mereka bisa tenang membangun rumah tinggal, mereka bisa bercocok tanam, memelihara hewan ternak, berjalan kemana pun tanpa kesusahan. Dan bumi secara keseluruhan mudah untuk dipijaki.