Categories
Cara Haji

Haji Qiron

Haji Qiron

Qiron dalam bahasa Arab artinya menggandengkan. Yang dimaksud dengan haji qiron adalah mengerjakan satu nusuk akan tetapi mewakili 2 nusuk.

Kalau haji ifrod hanya mengerjakan satu nusuk (yaitu satu ihram) yaitu hanya haji saja. Kalau haji tamattu’ mengerjakan 2 nusuk (dua ihram), yaitu ihram umroh lalu ihram haji.

Maka haji qiron adalah haji yang melaksanakan 1 nusuk (1 ihram) akan tetapi sekaligus mewakili 2 nusuk (haji dan ihram). Karenanya pelaksanaan haji qiron sama persis dengan pelaksanaan haji ifrod. Perbedaannya hanyalah kalau haji ifrod tidak wajib menyembelih hadyu, adapun haji qiron wajib untuk menyembelih hewan hadyu.

Categories
Cara Haji

Thowaf Wada’ (Perpisahan)

Thowaf Wada’ (perpisahan)

Setelah meninggalkan Mina maka jamaáh haji kembali ke Mekah untuk melakukan thowaf wada’ sebelum meninggalkan kota Mekah.

Ibnu Ábbas berkata :

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ، إِلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الحَائِضِ

“Orang-orang diperintahkan agar kagiatan terakhir yang mereka lakukan sebelum meninggalkan kota Mekah adalah thowaf di kábah, hanya saja diberi keringanan kepada wanita yang haid” (HR Al-Bukhari no 1755 dan Muslim no 1328)

Ibnu Ábbas juga berkata :

كَانَ النَّاسُ يَنْصَرِفُونَ فِي كُلِّ وَجْهٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ»

“Orang-orang pergi (setelah dari Mina) ke segala arah, maka Rasulullah shallallahu álaihi wasallam berkata, “Janganlah seorangpun pergi (meninggalkan Mekah untuk pulang) hingga kegiatannya yang terakhir adalah ia thowaf di ka’bah” (HR Muslim no 1327)

Hukum-hukum yang berkaitan dengan thowaf wada’

  1. Thowaf wada’ hukumnya wajib bagi orang yang haji, karena hadits-hadits di atas menyebutkan “perintah”, dan hukum asal perintah adalah untuk wajib. Namun thowaf wada’ tidak wajib bagi orang yang umroh([1]).
  2. Thowaf wada’ hanya disyariátkan bagi jamaáh haji yang datang dari luar Mekah, sehingga butuh untuk thowaf perpisahan, adapun penduduk kota Mekah yang haji maka tidak perlu untuk thowaf perpisahan karena ia tinggal di Mekah. Demikian pula tidak wajib bagi jamáah haji yang datang dari luar Mekah lalu setelah haji ia berniat untuk bermuqim/menetap di kota Mekah.
  3. Disyaratkan bagi wanita harus suci dari haid dan nifas. Karenanya wanita yang haid dan nifas gugur kewajiban thowaf wada’ atas mereka.

Aisyah berkata :

أَنَّ صَفِيَّةَ بِنْتَ حُيَيٍّ – زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حَاضَتْ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَحَابِسَتُنَا هِيَ» قَالُوا: إِنَّهَا قَدْ أَفَاضَتْ قَالَ: «فَلاَ إِذًا»

“Bahwasanya Shofiyyah bintu Huyay -istri Nabi shallallahu álaihi wasallam- haid, maka akupun menyebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu álaihi wasallam. Maka Nabi berkata, “Apakah Shofiyyah akan menahan kita (sehingga tidak bisa pulang ke Madinah)?”. Mereka berkata, “Shofiyyah telah melakukan thowaf ifadhoh”. Nabi berkata, “Kalau begitu ia tidak menahan kita untuk pulang” (HR Al-Bukhari 1757 dan 4410 dan Muslim no 1211)

Hukum wanita nifas sama dengan wanita haid, sehingga gugur juga kewajiban thowaf wada’. Jika seorang wanita sebelum meninggalkan bangunan kota mekah ternyata haidnya berhenti atau nifasnya berhenti maka wajib baginya untuk kembali untuk thowaf wada’. Namun jika ia suci setelah melewati jarak safar (80 km) maka tidak perlu kembali untuk thowaf wada’([2])

  1. Waktu pelaksanaan thowaf wada’ adalah setelah semua kegiatan selesai tinggal hanya pulang. Sebagaimana sabda Nabi di atas “Janganlah seorangpun pergi (meninggalkan Mekah untuk pulang) hingga kegiatannya yang terakhir adalah ia thowaf di ka’bah” (HR Muslim no 1327)

Akan tetapi tidak mengapa jika setelah thowaf wada’ ia melakukan kegiatan yang merupakan persiapan safar seperti membeli perbekalan safar, menunggu bis, mengangkat barang ke bis, dan menunggu rombongan safar. Karena kegiatan-kegiatan ini tidak merubah statusnya menjadi muqim([3])

  1. Setelah thowaf wadaa’ tidak boleh melakukan kegiatan yang menunjukan seakan-akan kegiatan seorang yang hendak muqim (tinggal), seperti tidur, dll. ([4])
  2. Bagi orang yang telah melakukan thowaf wadaa’ lalu berjalan menuju keluar Mekah (menuju ke hotel/penginapan) menunggu bis jemputan, ternyata bisnya datang terlambat hingga harus bermalam, atau ia ternyata tersibukkan memperbaiki mobilnya yang rusak, atau ia mencari keluarganya yang hilang, dengan niat kapan ia ketemu keluarganya tersebut ia langsung meninggalkan Mekah, maka ia tidak perlu mengulangi thowaf wadaa’nya karena ia telah berniat keluar dari Mekah, hanya saja ada halangan udzur
  3. Setelah thowaf wadaa’ disunnahkan sholat dua raka’at.
  4. Boleh menggabungkan thowaf wada’ dengan thowaf ifadhoh([5]) dengan syarat :
  • Niatnyabukan niat thowaf wada’, akan tetapi niatnya adalah niat thowaf ifadhoh, atau meniatkan keduanya (menurut sebagian ulama). Jika dia thowaf dengan niat thowaf wada’ saja maka ia harus thowaf ifadhoh lagi.
  • Agar thowaf ifadhohnya sudah mencukupkan dari thowaf wada’ maka harus thowaf ifadhohnya dikerjakan yang paling terakhir sebelum meninggalkan kota Mekah. Dan bagi yang belum sa’i haji maka boleh melakukan sa’i haji setelah thowaf ifadhoh, karena saí mengikuti thowaf ([6])
  1. Sebagian orang menyangka bahwa jika setelah thowaf wadaa’ tidak boleh lagi sholat di masjidil haram. Ini adalah persangkaan yang keliru, karena Nabi setelah thowaf wadaa’ beliau masih mengimami sholat subuh. Karenanya jika setelah thowaf wadaa’ ternyata sebentar lagi tiba waktu sholat maka tidak mengapa ia menunggu waktu sholat di masjidil haram. Demikian juga jika ternyata setelah thowaf wada’ bertepatan dengan waktu sholat jumat lalu iapun menunggu untuk sholat jumat([7])
  2. Barang siapa yang sakit dan masih mampu untuk thowaf dalam keadaan diangkat atau di dorong pakai kursi roda maka kewajiban thowaf wadaa’nya tidaklah gugur. Berbeda jika ia sakit parah dan tidak bisa thowaf meskipun diangkat atau didorong dengan kursi roda, maka gugurlah kewajiban thowaf wadaa’nya. Namun jika dia diberi kelapangan maka lebih baik ia membayar dam dengan memotong seekor kambing untuk dibagikan kepada kaum fuqoro di Mekah([8])
  3. Barang siapa yang keluar dari Mekah dengan jarak safar (sekitar 80 km) maka hendaknya ia thowaf ifadhoh sebelum keluar, meskipun ia akan kembali lagi ke Mekah. Sebagai contoh adalah jama’ah haji yang setelah selesai seluruh amalan hajinya lalu hendak jalan-jalan ke Madinah atau ke Jeddah, meskipun ia akan kembali lagi ke Mekah, maka ia hendaknya thowaf wadaa’ sebelum keluar ke Madinah atau Jeddah, dan ini pendapat kebanyakan ulama dan merupakan pendapat yang lebih hati-hati. Jika setelah kembali ke Mekah lalu ia hendak pulang ke tanah air maka lebih hati-hati ia thowaf wada’ lagi([9]). Meskipun ada sebagian ulama yang menyatakan kemanapun ia pergi meskipun melewati jarak safar, akan tetapi ia niat untuk kembali ke Mekah, maka ia tidak perlu thowaf wadaa’. Ia hanya thowaf wadaa’ jika hendak kembali ke kampung halamannya([10])

______________

Footnote:

([1]) Hal ini karena perintah kewajiban untuk thowaf wada’ dalam hadits Ibnu Ábbas hanya berkaitan dengan haji. Dan Nabi shallallahu álaihi wasallam berhaji beliau sudah umroh sebanyak tiga kali, yaitu umroh al-Hudaibiyah, umroh al-Qodhoo’, dan umroh al-Ju’ronah. Akan tetapi tidak diriwayatkan sama sekali bahwa beliau melakukan thowaf wada’ setelah umroh beliau. Bahkan tatkala umroh al-Qodhoo’ Nabi shallallahu álaihi wasallam dan para sahabat menetap di Mekah selama 3 hari (lihat As-Siroh An-Nabawiyah As-Shahihah, Dr Akrom al-Úmari 2/464) namun tidak diriwayatkan  bahwa salah seorang dari mereka melakukan thowaf wada’.

Selain itu umroh disyariátkan kapan saja sepanjang tahun, berbeda dengan haji yang disyariátkan hanya sekali dalam setahun, sehingga diperlukan bagi seseorang untuk thowaf perpisahan sebelum balik ke tanah airnya. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh madzhab Hanafiyah dan dipilih oleh Asy-Syaikh Al-Albani, bahwasanya tidak disyariátkan thowaf wada’ bagi orang yang umroh.

Sebagian ulama memandang bahwa thowaf wada’ wajib bagi orang yang umroh sebagaimana wajib bagi orang yang haji. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Asy-Syaikh al-Útsaimin. Bahkan sebagian ulama berpendapat jika seseorang menetap di Mekah (meskipun tidak sedang haji dan umroh) lantas ia ingin meninggalkan kota Mekah maka ia wajib untuk thowaf wada’.

Sebagiannya lagi berpendapat bahwa thowaf wada’ hanya disunnahkan bagi orang yang umroh namun tidak sampai wajib, dan ini adalah pendapat yang dipilih para ulama al-Lajnah ad-Daaimah diantaranya Asy-Syaikh Bin Baaz.

Peringatan : Khilaf para ulama di atas adalah berkaitan dengan seorang yang setelah melakukan umroh masih bermuqim/menetap di Mekah. Adapun yang setelah umroh langsung meninggalkan kota Mekah maka tidak ada khilaf di kalangan para ulama bahwa ia tidak perlu lagi untuk melakukan thowaf wada’.

([2]) Lihat Al-Majmuu’ Syarh al-Muhadzdzab 8/255

([3]) Lihat al-Majmuu, An-Nawawi 8/253, Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail al-Útsaimin 24/387. Bahkan Asy-Syaikh Bin Baaz berkata, “Barang siapa yang thowaf wada’, lalu butuh untuk membeli sesuatu untuk berdagang maka tidak mengapa selama selang waktunya sebentar. Adapun jika selang waktunya lama secara úrf maka ia mengulangi thowaf wada’nya” (Majmu’ Fataawa Bin Baaz 16/151)

Adapun dalilnya :

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – زَوْجِ النَّبِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ بِمَكَّةَ، وَأَرَادَ الخُرُوجَ، وَلَمْ تَكُنْ أُمُّ سَلَمَةَ طَافَتْ بِالْبَيْتِ وَأَرَادَتِ الخُرُوجَ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أُقِيمَتْ صَلاَةُ الصُّبْحِ فَطُوفِي عَلَى بَعِيرِكِ وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ». فَفَعَلَتْ ذَلِكَ، فَلَمْ تُصَلِّ حَتَّى خَرَجَتْ

Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anhaa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Rasulullah tatkala di Mekah dan hendak keluar (meninggalkan Mekah) dan Ummu Salamah belum thowaf di Ka’bah namun juga hendak keluar (meninggalkan Mekah), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Jika telah ditegakan sholat subuh maka thowaflah engkau di atas ontamu sementara orang-orang sedang sholat”. Maka Ummu Salamahpun mengerjakan hal tersebut dan ia belum sholat hingga keluar (dari Masjidil Haram)”  (HR Al-Bukhari no 1626)

Dalam riwayat yang lain, Ummu Salamah berkata :

شَكَوْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي أَشْتَكِي قَالَ: «طُوفِي مِنْ وَرَاءِ النَّاسِ وَأَنْتِ رَاكِبَةٌ» فَطُفْتُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَى جَنْبِ البَيْتِ يَقْرَأُ بِالطُّورِ وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ

“Aku mengeluhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya aku sakit, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Thowaflah engkau di belakang jama’ah, dan engkau sambil naik (ontamu)”. Maka akupun thowaf, sementara Rasulullah tatkala itu sedang sholat di sisi ka’bah, dan beliau membaca “Watthuur wa kitaaabim masthuur….” (Surat At-Thuur)” (HR Al-Bukhari no 1619)

Sisi pendalilan : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah thowaf wadaa’ (sebelum subuh) beliau ingin keluar dari Mekah (Masjidil Harom) akan tetapi ternyata istri beliau Ummu Salamah belum thowaf wadaa’ karena sakit. Akhirnya Nabi menunggu Ummu Salamah, dan beliaupun memimpin sholat subuh di masjidil haram sementara Ummu Salamah melakukan thowaf wadaa’. Hal ini menunjukan bahwa sholat subuh di Masjidil Harom juga tidak membatalkan thowaf wadaa’, padahal bacaan Nabi tatkala sholat subuh bacaan yang panjang. Beliau membaca surat At-Thuur. (lihat Asy-Syarh Al-Mumti’ 7/370)

([4]) Barang siapa yang setelah thowaf wadaa’ ternyata melakukan kegiatan seperti orang yang muqim, seperti sengaja tidur dan bermalam di hotel tanpa ada udzur, maka ia harus mengulangi thowaf wadaa’nya lagi. Atau jika ia tahu bahwa jadwal safarnya adalah ba’da magrib lalu ia thowaf sebelum subuh maka ia harus mengulangi thowaf wadaa’nya. (lihat Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail al-Útsaimin 23/330). Akan tetapi tidak mengapa jika setelah thowaf wadaa’ lalu keluar dari batas kota Mekah, lalu bermalam di luar kota Mekah, maka ia tidak perlu lagi mengulangi thowaf wadaa’nya, karena ia telah meninggalkan kota Mekah. (lihat Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail al-Útsaimin 23/326)

Namun barang siapa yang telah melakukan thowaf wadaa’ lalu berjalan menuju keluar Mekah (menuju ke hotel/penginapan) menunggu bis jemputan, ternyata bisnya datang terlambat hingga harus bermalam, atau ia ternyata tersibukkan memperbaiki mobilnya yang rusak (lihat Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail al-Útsaimin 23/338) , atau ia mencari keluarganya yang hilang, dengan niat kapan ia ketemu keluarganya tersebut ia langsung meninggalkan Mekah, maka ia tidak perlu mengulangi thowaf wadaa’nya karena ia telah berniat keluar dari Mekah, hanya saja ada halangan udzur (lihat Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail al-Útsaimin 23/360)

([5]) Akan datang pembahasannya secara khusus disertai penjelasan tentang perselisihan para ulama dan pendapat yang lebih kuat dalam hal ini.

([6]) Lihat Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail al-Útsaimin 23/350-351

([7]) Lihat Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail al-Útsaimin 23/350-356

([8]) Lihat Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail al-Útsaimin 23/358-359.

([9]) Lihat Majmuu’ Fataawaa Asy-Syaikh Bin Baaz 17/396-397

([10]) Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’, al-Utsaimin 7/362-363

Categories
Cara Haji

Haji Ifrod

Haji Ifrod

Haji Ifrod adalah hanya mengerjakan haji di musim haji dan tidak mengerjakan umroh.

Sehingga ihrom hanya sekali yaitu ihrom haji. Berbeda dengan haji tamattu’ yang berihram dua kali, ihram untuk umroh dan ihram untuk haji. Yang berhaji ifrod tidak berkewajiban untuk menyembelih hadyu berbeda dengan haji tamattu’.

Pelaksanaan haji

Pertama : Ihram di miqot

Kedua : Thowaf qudum (hukumnya sunnah)

Ketiga : Saí haji

Keempat : melaksanakan haji sebagaimana haji tamattu mulai tanggal 8 hingga thowaf wada’

Hanya saja :

  • Setelah thowaf qudum dan saí haji ia tidak mencukur/menggundul rambut, akan tetapi ia tetap berihram dengan kain ihramnya hingga lanjut pada tanggal 8 Dzulhijjah
  • Jika ia sudah melaksanakah saí haji -ketika thowaf qudum- maka setelah thowaf ifadhoh ia tidak perlu saí haji lagi
Categories
Cara Haji

Lempar 3 Jamaroot di Hari Tasyriq

Lempar 3 Jamaroot di Hari Tasyriq

  1. Jika pada tanggal 10 dzulhijjah yang dilempar hanyalah jamrotul Áqobah dan waktu melempar dimulai dari tengah malam -sebagaimana telah lalu-, adapun tanggal 11,12, dan 13 dzulhijjah yang dilempar adalah ke3 jamarot, dan waktu melempar dimulai dari masuk waktu dzuhur([1])
  2. Jika seseorang tidak sempat untuk melempar setelah dzuhur maka ia boleh melempar tatkala malam hari hingga sebelum terbit fajar([2]). Kecuali hari ke 13 (hari tasyriq yang terakhir) maka berakhir waktu melempar dengan terbenamnya matahari.
  3. Jika memang dalam kondisi yang mendesak([3]) maka boleh untuk menunda melempar ke hari berikutnya (jamak ta’khir) ([4]). Misalnya seseorang menunda lemparan hari 11 dzulhijjah untuk digabungkan dengan lemparan hari 12 dzulhijjah. Demikian juga boleh menunda lemparan hari 12 dzulhijjah digabungkan dengan lemparan hari 13 dzulhijjah. Demikian juga boleh menunda lemparan hari 11 dan lemparan hari 12 dzulhijjah untuk digabungkan dengan lemparan hari 13 dzulhijjah, yaitu seluruh lemparan 3 hari digabungkan jadi satu hari. Adapun caranya :
  • Setelah tiba waktu dzuhur maka dimulai dengan melempar untuk hari sebelumnya, yaitu melempar ketiga jamaroot. Setelah itu balik lagi ke al-Jamrot as-Shugro untuk mulai melempar untuk hari yang selanjutnya.
  • Batas melempar pada hari 13 dzulhijjah adalah sebelum terbenam matahari.

_________________

Footnote:

([1]) Berikut dalil-dalilnya :

Pertama : Nabi selama hari-hari tasyriq tidaklah melempar kecuali setelah zawal (setalah masuk waktu dzuhur). Jabir bin Abdillah berkata :

رَمَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ ضُحًى، وَأَمَّا بَعْدُ فَإِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ

“Rasulullah shallallahu álaihi wasallam melempar al-jamroh di hari nahar di waktu dhuha, adapun setelahnya (yaitu di hari-hari tasyriq) maka jika telah masuk waktu dzuhur” (HR Muslim no 1299)

Kedua : Ini juga yang dilakukan oleh para sahabat bersama Nabi shallallahu álaihi wasallam. Ibnu Umar berkata :

كُنَّا نَتَحَيَّنُ فَإِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ رَمَيْنَا

“Kami dahulu menunggu-nunggu waktu dzuhur (tergelincirnya matahari dari tengah langit), jika telah tiba waktu dzuhur maka kamipun melempar” (HR Al-Bukhari no 1746)

Beliau juga berkata :

لاَ تُرْمَى الْجِمَارُ فِي الْأَيَّامِ الثَّلاَثَةِ، حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسُ

“Tidaklah dilempar jamaraat di tiga hari tasyriq hingga matahari tergelincir” (HR Malik no 1536)

Ketiga : Nabi tidak memberikan keringanan kepada seorang pun dari para sahabat yang berhaji bersama Nabi, padahala tentu ada orang tua, orang sakit, dan anak-anak untuk melempar di waktu pagi sebelum dzuhur. Padahal Nabi memberi keringanan kepada orang-orang lemah untuk melempar jamratul Áqobah pada hari Nahar setelah lewat tengah malam.  Tentu Nabi shallallahu álaihi wasallam menginginkan kemudahan bagi umatnya, dan tidak diragukan bahwa waktu pagi tentu lebih dingin. Namun Nabi tetap menunda waktu melempar hingga panas terik tatkala tiba waktu dzuhur

Keempat : Diantara hal yang menunjukan bahwa awal waktu melempar di hari tasyriq adalah waktu dzuhur, ternyata begitu tiba waktu dzuhur Nabi mendahulukan melempar jamaroot baru Nabi sholat dzuhur sebagaimana ditunjukan oleh hadits-hadits di atas. (lihat Majmuu’ Fataawa wa Rosaail al-Útsaimin 23/147)

Dan ini adalah pendapat jumhur ulama, mereka memandang barang siapa yang melempar di hari-hari tasyriq sebelum waktu dzuhur maka tidak sah dan harus mengulangi lemparan. Meskipun sebagian ulama membolehkan untuk melempar sebelum dzuhur akan tetapi pendapat tersebut lemah.

([2]) Hal ini -sebagaimana telah lalu  dalam pembahasan melempar jamrtoul áqobah di hari nahar- karena tidak ada larangan untuk melempar setelah terbenam matahari. Dan Nabi telah mengizinkan para penggembala untuk melempar jamarot di malam hari. Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :

الرَّاعِي يَرْمِي بِاللَّيْلِ، وَيَرْعَى بِالنَّهَارِ

“Penggembala melempar jamaroot di malam hari dan menggembala di siang hari” (HR Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubro no 9677 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 2477)

([3]) Syaikh al-Útsaimin berkata, “Tidak boleh ia mengakhirkan melempar jamarot hingga hari terakhir kecuali dalam satu kondisi, yaitu seperti tempat tinggalnya (di Mina) jauh sehingga susah baginya untuk bolak balik setiap hari, terlebih lagi tatkala di hari-hari yang panas dan padatnya jamaah haji. Maka tatkala itu tidak mengapa ia mengakhirkan melempar jamarot hingga hari terakhir sekaligus. Karena orang seperti ini lebih utama untuk diberi udzur dari pada para penggembala yang diberi keringanan oleh Nabi shallallahu álaihi wasallam untuk menggabungkan lemparan di satu hari. Adapun orang yang kuat dan mudah baginya untuk melempar karena lokasinya dekat dengan lokasi jamaroot, atau (meski lokasinya jauh namun) ia mampu naik kendaraan untuk mendekati lokasi jamarot maka wajib baginya untuk melempar setiap hari” (Asy-Syarh al-Mumti’ 7/357-358)

([4]) Dan ini adalah pendapan Asy-Syafiíyyah (lihat Roudatut Thoolibin, An-Nawawi 3/108 dan Nihaayatul Muhtaaj, Ar-Romly 3/315) dan Al-Hanaabilah (lihat Kasyf al-Qinaa’, Al-Bahuti 2/510)

Adapun dalilnya sebagaimana telah lalu dari Áashim bin Ádi :

رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرِعَاءِ الْإِبِلِ فِي الْبَيْتُوتَةِ، أَنْ يَرْمُوا يَوْمَ النَّحْرِ، ثُمَّ يَجْمَعُوا رَمْيَ يَوْمَيْنِ بَعْدَ النَّحْرِ، فَيَرْمُونَهُ فِي أَحَدِهِمَا ثُمَّ يَرْمُونَ يَوْمَ النَّفْرِ

“Rasulullah shallallahun álaihis salam memberikan rukhsoh (keringanan) bagi para penggembala kambing untuk mabit (di luar Mina), dan untuk melontar jamarot pada hari Nahar, lalu menggabungkan lontaran 2 hari -setelah hari An-Nahar- maka melempar di salah satuh hari dari dua hari tersebut, lalu mereka melempar pada hari 13 dzulhijjah” (HR Ibnu Maajah no 3037 dan Ahmad no 23775 dan 23776)

Peringatan : Sebagian ulama hanyalah membolehkan untuk menggabungkan lemparan jamaroot dengan jamak ta’khiir, diantaranya Al-Imam Malik. Dalam al-Muwattho’ riwayat Abu Musháb az-Zuhri datang dalam lafal berikut :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْخَصَ لِرِعَاءِ الْإِبِلِ … يَرْمُونَ يَوْمَ النَّحْرِ، ثُمَّ يَرْمُونَ الْغَدَ، وَمِنْ بَعْدِ الْغَدِ لِيَوْمَيْنِ، ثُمَّ يَرْمُونَ يَوْمَ النَّفْرِ

“Bahwasanya Rasulullah memberi keringangan kepada para penggembala onta….untuk melempar pada hari nahar lalu melempar untuk hari besoknya (tanggal 11) dan hari berikutnya lagi (untuk hari 12 dzulhijjah) untuk dua hari, lalu melempar pada hari nafar (tanggal 13 dzulhijjah)” (HR Malik di al-Mattho’ riwayat Abu Musháb Az-Zuhri no 1425)

Al-Imam Malik tatkala meriwayatkan hadits ini beliau berkata :

وَتَفْسِيرُ ذلك الْحَدِيثِ … أَنَّهُمْ يَرْمُونَ يَوْمَ النَّحْرِ، وإِذَا مَضَى الْيَوْمُ الَّذِي يَلِي يَوْمَ النَّحْرِ، رَمَوْا مِنَ الْغَدِ، وَذَلِكَ يَوْمُ النَّفْرِ الأَوَّلِ، يَرْمُونَ لِلْيَوْمِ الَّذِي مَضَى، ثُمَّ يَرْمُونَ لِيَوْمِهِمْ ذَلِكَ، وذلك لأَنَّهُ لاَ يَقْضِي أَحَدٌ شَيْئًا حَتَّى يَجِبَ عَلَيْهِ، فَإِذَا وَجَبَ عَلَيْهِ وَمَضَى كَانَ الْقَضَاءُ بَعْدَ ذَلِكَ، وإِنْ نفروا يوم النَّفْرُ الأول فَقَدْ فَرَغُوا ، وَإِنْ أَقَامُوا إِلَى الْغَدِ، رَمَوْا مَعَ النَّاسِ يَوْمَ النَّفْرِ الآخِرِ، ثم نَفَرُوا

“Dan tafsir hadits ini…bahwasanya mereka (para penggembala onta) melempar pada hari nahar (tanggal 10), dan jika telah berlalu hari setelahnya (berlalu hari 11 dzulhijjah) maka mereka melempar para hari berikutnya yaitu hari nafar awal (tanggal 12 dzulhijjah), mereke melempar untuk hari sebelumnya (hari 11) lalu mereka melempar untuk hari mereka itu (hari 12). Hal ini (yaitu harus jamak ta’khir-pen) karena tidak boleh seseorang mengqodho sesuatu hingga wajib terlebih dahulu atasnya. Jika telah tetap kewajiban atsanya dan telah lewat maka qodho’ dilakukan setelah itu. Jika mereka mengambil nafar awal maka mereka telah selesai. Dan jika mereka menetap hingga esok maka mereka melempar lagi bersama jamaah haji yang lain untuk nafar tsani lalu mereka pergi meninggalkan Mina” (Al-Muwattho 1/548)

Argumentasi Al-Imam Malik adalah jika dilakukan jamak’ taqdim dalam melempar maka seseorang melempar pada hari 11 untuk dua hari sekaligus (hari 11 dan 12) padahal ia belum terkena kewajiban untuk melempar hari ke 12, maka bagaimana ia mengqodho sesuatu yang belum wajib baginya?

Namun sebagian ulama -seperti Ibnu Ábdilbarr (lihat at-Tamhiid 17/257-258) dan al-Lakhomi (lihat At-Tabshiroh 3/1227)- membolehkan juga untuk melempar dengan jamak taqdim yaitu memajukan lemparan hari 12 dzulhijjah untuk digabungkan ke hari sebelumnya yaitu hari 11 dzulhijjah. Karena seluruh hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk melempar. Hal ini berdasarkan riwayat Al-Imam Malik yang lain dengan lafal pilihan ثُمَّ يَرْمُونَ مِنَ الْغَدِ، أَوْ مِنْ بَعْدِ الْغَدِ لِيَوْمَيْنِ ” lalu melempar untuk hari besoknya (tanggal 11) atau hari berikutnya lagi (untuk hari 12 dzulhijjah) untuk dua hari” (HR Malik di Mwattho’ dengan riwayat Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibaani 1/167 no 495)

Riwayat dengan pilihan “atau” ini juga sepadan dengan riwayat

ثُمَّ يَجْمَعُوا رَمْيَ يَوْمَيْنِ … فَيَرْمُونَهُ فِي أَحَدِهِمَا

“…lalu menggabungkan lontaran 2 hari … maka mereka melempar di salah satuh dari dua hari tersebut” (HR At-Tirmidzi no 955, Ibnu Maajah no 3037 dan Ahmad no 23775 dan 23776)

Pendapat ini lebih ringan bagi para jamaáh haji namun pendapat pertama lebih hati-hati.

Categories
Cara Haji

Mabit di Mina di Malam Hari Tasyriiq

Mabit di Mina di malam hari-hari Tasyriiq

  1. Mabit di Mina di malam hari-hari tasyriq adalah wajib([1]).
  2. Kewajiban mabit di Mina adalah مُعْظَمُ اللَّيْلِ (mayoritas malam) yaitu setengah malam lebih([2]). Jika dari terbenam matahari hingga terbit fajar 12 jam, maka wajib berada di Mina minimal 6 jam lebih dikit.
  3. Bagi yang mengambil nafar awwal maka hanya wajib baginya untuk mabit pada malam ke 11 dan malam ke 12 Dzulhijjah, dan tidak wajib baginya untuk mabit pada malam ke 13 Dzulhijjah([3]). Adapun yang mengambil nafar tsani maka harus bermalam di Mina pada malam ke 13 Dzulhijjah.
  4. Barangsiapa yang hendak mengambil nafar awal maka wajib baginya untuk keluar dari Mina sebelum matahari tenggelam pada tanggal 12 Dzulhijjah. Apabila ia masih berada di Mina hingga matahari tenggelam pada tanggal 12 Dzulhijjah maka wajib baginya untuk mengambil nafar tsani, sehingga wajib pula baginya untuk mabit lagi di Mina pada malam ke 13 Dzulhijjah([4]).
  5. Jika ia sudah siap-siap untuk mengambil nafar awal untuk meninggalkan Mina, namun ternyata bis terlamabat datang atau ia terhalangi suatu halangan sehingga matahari terbenam maka ia tetap boleh keluar dari Mina([5]).
  6. Bagi yang berudzur maka boleh meninggalkan mabit di Mina. Diantaranya Nabi memberi udzur untuk tidak mabit di Mina kepada para penggembala([6]) dan para penyedia air bagi jamaáh haji([7]). Karenanya barang siapa yang berudzur sehingga tidak bisa mabit di Mina maka tidak mengapa dan tidak berkewajiban untuk membayar dam. Udzur-udzur tersebut bersifat umum, baik udzur yang berkaitan dengan kemaslahatan pribadi (dan ini diqiaskan dengan para penggembala onta yang mengurus onta-onta pribadi jangan sampai hilang atau dicuri) atau demi kemaslahatan jamaah haji (dan ini diqiaskan dengan para penyedia minuman untuk jamaáh haji yang diberi izin untuk meninggalkan mabit) ([8]). Diantara contoh udzur-udzur tersebut
  • Sakit
  • Para dokter dan perawat yang mengurusi para jamaah haji yang sakit
  • Para guide yang harus riwa riwi (pulang pergi) untuk mengurusi urusan dan kebutuhan jamaáh serta bus-bus jamaáh haji
  • Orang yang tidak mendapati kemah atau tempat di Mina, setelah ia berusaha untuk mencari tempat.([9])
  1. Bagi yang tidak berudzur lalu tidak mabit di Mina maka jika hanya meninggalkan satu malam saja cukup baginya untuk bersedekah([10]), akan tetapi jika meninggalkan 2 malam maka wajib baginya untuk bayar dam([11]).
  2. Peringatan :
  • Selama di Mina sholat wajib 5 waktu dikerjakan secara qoshor namun tidak dijamak, sehingga setiap sholat dikerjakan pada waktunya masing-masing.
  • Tidak dikerjakan sholat rawatib kecuali hanya qobliah subuh, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meskipun safar beliau tetap mengerjakannya. Namun boleh mengerjakan sholat-sholat sunnah yang lainnya seperti sholat duha dan sholat malam
  • Hendaknya para jama’ah memperbanya dzikir dan membaca al-Qur’an serta mengisi waktu di Mina pada perkara-perkara yang bermanfaat yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah.

___________

Footnote:

([1]) Dalil akan wajibnya mabit di Mina malam hari-hari Tasyriq adalah hadits Ibnu Úmar radhiallahu ánhumaa, dimana beliau berkata

اسْتَأْذَنَ العَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ المُطَّلِبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى، مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ، «فَأَذِنَ لَهُ»

“Al-Ábbas bin Abdilmuttholib radhiallahu ánhu meminta izin kepada Rasulullah shallallahu álaihi wasallam untuk mabit (menginap) di Mekah di malam-malam Mina (yaitu malam hari-hari Tasyriq-pen) untuk mengurusi penyediaan air minum. Maka Nabipun mengizinkannya” (HR Al-Bukhari no 1634 dan Muslim no 1315)

Dalam hadits yang lain dari Áashim bin Ádi :

رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرِعَاءِ الْإِبِلِ فِي الْبَيْتُوتَةِ، أَنْ يَرْمُوا يَوْمَ النَّحْرِ، ثُمَّ يَجْمَعُوا رَمْيَ يَوْمَيْنِ بَعْدَ النَّحْرِ، فَيَرْمُونَهُ فِي أَحَدِهِمَا ثُمَّ يَرْمُونَ يَوْمَ النَّفْرِ

“Rasulullah shallallahun álaihis salam memberikan rukhsoh (keringanan) bagi para penggembala kambing untuk mabit (di luar Mina), dan untuk melontar jamarot pada hari Nahar, lalu menggabungkan lontaran 2 hari -setelah hari An-Nahar- maka melempar di salah satuh hari dari dua hari tersebut, lalu mereka melempar pada hari 13 dzulhijjah” (HR Ibnu Maajah no 3037 dan Ahmad no 23775 dan 23776)

Lafal رَخَّصَ atau dalam riwayat yang lain أَرْخَصَ artinya adalah Nabi shallallahu álaihi wasallam memberi keringanan, yang ini menunjukan bahwa hukum asalnya adalah wajib (lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar 3/579, Asy-Syarh al-Mumti’, al-Útsaimin 7/389/390 dan Majmu Fataawa wa Rosaail al-Útsaimin  23/241). Demikian juga al-Ábbas tatkala hendak meninggalkan mabit di Mina beliau minta izin, yang ini mengisyaratkan bahwa mabit di Mina pada malam-malam hari-hari tasyriq adalah wajib.

Pendapat wajib ini adalah dzohir dari sikap Umar bin al-Khotthob, beliau berkata :

لَا يَبِيتَنَّ أَحَدٌ مِنَ الْحَاجِّ لَيَالِيَ مِنًى مِنْ وَرَاءِ الْعَقَبَةِ

“Janganlah sekali-kali seorangpun dari jamaáh haji yang mabit di balik Jumrotul Áqobah pada malam-malam Mina” (HR Malik di Al-Muwattho’ no 209, perkataan yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Ábbas sebagaimana di Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 14367 dan juga diriwayatkan dari Ibnu Úmar sebagaimana di Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 14368).

Bahkan Umar menugaskan orang-orang untuk memasukan para jamaáh haji yang bermalam di balik Jumrotul Áqobah agar masuk ke Mina (lihat Al-Muwattho’ no 208)

([2]) Lihat Al-Majmuu’, An-Nawawi 8/247, karena secara bahasa, jika seseorang bersumpah bahwa ia tidak akan mabit (bermalam) di suatu tempat, maka tidaklah dikatakan sumpahnya batal keculai jika ia menginap lebih dari setengah malam (lihat Mughni Al-Muhtaaj, Asy-Syirbini 2/274)

([3]) Karena Allah berfirman

وَاذْكُرُواْ اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى

“Ingatlah Allah di hari-hari yang berbilang (yaitu tiga hari Tasyriiq), barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari (yaitu mengambil nafar awal), maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu yaitu mengambil nafar tsani), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa” (QS Al-Baqoroh : 203)

Para ulama telah ijmak bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari yang berbilang” dalam ayat ini adalah hari-hari tasyriq yaitu 3 hari setelah hari íed/nahar (lihat At-Tamhiid, Ibnu Ábdilbarr 21/233 dan Al-Majumuu’, An-Nawawi 8/381)

Ayat ini menunjukan bahwa orang yang mengambil nafar awal maka boleh baginya untuk keluar di hari ke 2 dari hari tasyriq yaitu di siang hari, karena firman Allah يَوْم adalah siang hari dan tidak mencakup malam hari (lihat Al-Majmuu’, An-Nawawi 8/283)

([4]) Dalil akan hal ini adalah firman Allah

فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari (yaitu mengambil nafar awal), maka tiada dosa baginya” (QS Al-Baqoroh : 203)

Dan firman Allah يَوْم adalah siang hari dan tidak mencakup malam hari. Maka barang siapa yang mendapati malam pada hari ke 12 maka ia sudah masuk dalam وَمَن تَأَخَّرَ “orang yang mengambil nafar tsani”. Ini adalah pendapat Jumhur ulama dari Malikyah, Syafi‎ah, dan Hanabilah. Adapun Hanafiyah maka seseorang boleh keluar dari Mina (nafar awal) meskipun telah terbenam matahari selama belum terbit fajar tanggal 13 Dzulhijjah. Namun yang benar adalah pendapat Jumhur ulama (lihat Al-Majmuu’, An-Nawawi 8/283, Asy-Syarh al-Mumti’, al-Útsaimin 7/361)

Ibnu Úmar berkata

مَنْ غَرَبَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَهُوَ بِمِنًى مِنْ أَوْسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَلَا يَنْفِرَنَّ حَتَّى يَرْمِيَ الْجِمَارَ مِنَ الْغَدِ

“Barang siapa yang terbenam matahari sementara ia masih di Mina pada tanggal 12 dzulhijjah maka janganlah ia meninggalkan Mina hingga ia melempar jamarot besoknya” (Atsar riwayat al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro no 9686 dan Al-Imam Malik dalam Al-Muwattho’ no 511, dan dishahihkan oleh Ibnul Mulaqqin di Al-Badr al-Muniir 6/310 dan Al-Albani dalam Manasik al-Hajj wa al-Úmroh hal 38)

([5]) Ini adalah pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Syafiíyyah. Karena ia sudah dalam hukum orang yang mengambil nafar awal. (Lihat al-Majmuu’ 8/250, Ar-Roudhoh 3/107, Mughni al-Muhtaaj 2/275, dan ini yang dirajihkan oleh Al-Útsaimin di Asy-Syarh al-Mumti’ 7/361 dan Majmuu Fatawaa wa Rosaail al-Útsaimin 23/296). Adapun dzohir dari pendapat madzhab Malikiyah maka wajib untuk mengambil nafar tsani meskipun sedang bersiap-siapa keluar dari Mina, atau sedang berjalan keluar dari Mina. Karena madzhab Malikiyah mewajibkan secara mutlak jika matahari terbenam sementara ia masih di Mina maka harus mengambil nafar tsani (lihat Syarh Mukhtashor Kholil, Al-Khirosy 2/338 dan Adwaaul Bayaan, Asy-Syingqithi 4/476)

([6]) Sebagaimana telah lalu dari Áashim bin Ádi :

رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرِعَاءِ الْإِبِلِ فِي الْبَيْتُوتَةِ، أَنْ يَرْمُوا يَوْمَ النَّحْرِ، ثُمَّ يَجْمَعُوا رَمْيَ يَوْمَيْنِ بَعْدَ النَّحْرِ، فَيَرْمُونَهُ فِي أَحَدِهِمَا ثُمَّ يَرْمُونَ يَوْمَ النَّفْرِ

“Rasulullah shallallahun álaihis salam memberikan rukhsoh (keringanan) bagi para penggembala kambing untuk mabit (di luar Mina), dan untuk melontar jamarot pada hari Nahar, lalu menggabungkan lontaran 2 hari -setelah hari An-Nahar- maka melempar di salah satuh hari dari dua hari tersebut, lalu mereka melempar pada hari 13 dzulhijjah” (HR Ibnu Maajah no 3037 dan Ahmad no 23775 dan 23776)

([7]) Sebagaimana telah lalu bahwasanya Ibnu Úmar berkata

اسْتَأْذَنَ العَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ المُطَّلِبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى، مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ، «فَأَذِنَ لَهُ»

“Al-Ábbas bin Abdilmuttholib radhiallahu ánhu meminta izin kepada Rasulullah shallallahu álaihi wasallam untuk mabit (menginap) di Mekah di malam-malam Mina (yaitu malam hari-hari Tasyriq-pen) untuk mengurusi penyediaan air minum. Maka Nabipun mengizinkannya” (HR Al-Bukhari no 1634 dan Muslim no 1315)

([8]) Ibnu Qudamah berkata ;

وَأَهْلُ الْأَعْذَارِ مِنْ غَيْرِ الرِّعَاءِ، كَالْمَرْضَى، وَمَنْ لَهُ مَالٌ يَخَافُ ضَيَاعَهُ، وَنَحْوِهِمْ، كَالرِّعَاءِ فِي تَرْكِ الْبَيْتُوتَةِ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَخَّصَ لِهَؤُلَاءِ تَنْبِيهًا عَلَى غَيْرِهِمْ، أَوْ نَقُولُ: نَصَّ عَلَيْهِ لِمَعْنًى وُجِدَ فِي غَيْرِهِمْ، فَوَجَبَ إلْحَاقُهُ بِهِمْ.

“Dan orang-orang yang berudzur -selain dari para penggembala- seperti orang-orang sakit, orang yang takut hartanya hilang dan yang semisal mereka, maka mereka ini sama seperti para penggembala dalam hal bolehnya meninggalkan mabit di Mina. Karena Nabi shallallahu álaihi wasallam memberikan keringanan kepada para penggembala sebagai isyarat tentang selain mereka. Atau kita katakana bahwa Nabi shallallahu álaihi wasallam menyebutkan secara teks para gembala karena ada suatu makna yang terdapat juga pada selain mereka, maka wajib mengikutkan hukumnya dengan mereka” (al-Mughni 3/427)

([9]) Untuk hal ini (tidak mendapat tempat di Mina) maka dalam hal ini ada dua pendapat di kalangan para ulama kontemporer.

Pertama : bahwasanya orang yang tidak memiliki tenda di Mina maka dia boleh menginap di Mekah di mana saja, dan tidak harus dekat dengan Mina. Karena kewajiban untuk mabit di Mina telah gugur, sebagaimana para penggembala onta dan para penyedia air minum diizinkan oleh Nabi untuk mabit/menginap di Mekah.

Kedua : orang yang tidak memiliki tenda wajib baginya untuk mabit di tempat yang bersambung dengan Mina, karena tujuan dari haji adalah untuk mengumpulkan umat Islam pada satu tempat, diantaranya di Arofah dan di Mina. Dan juga diqiaskan dengan sholat berjamaáh tidak mengapa meskipun di luar masjid jika jamaah membludak selama shaf mereka masih bersambung. Karenanya mereka yang tidak memiliki tenda harus mabit di tempat yang bersambung dengan tenda-tenda di Mina, diantaranya di Muzdalifah dan di Aziziah. Dan ini pendapat yang dipilih oleh Asy-Syaikh al-Útsaimin (lihat Fataawa Nuur ála Ad-Darb 8/246-247), dan ini pendapat yang lebih hati-hati. Namun pendapat pertama juga cukup kuat dan lebih mudah bagi jamaáh haji terutama di zaman sekarang, wallahu A’lam.

([10]) Syaikh al-Útsaimin menyatakan bahwa sedekah tersebut yang penting bisa disebut sedekah. Beliau memisalkan 10 real atau atau 3 real maka sudah cukup dikatakan sedekah (lihat Majmuu Fataawa wa Rosaail al-Útsaimin 23/239)

([11]) Ini pendapat yang dipilih oleh Ibnu Baaz (lihat : Majmuu Fataawa Ibnu Baaz 17/386) dan Ibnu al-Útsaimin (lihat Majmuu Fataawa wa Rosaail al-Útsaimin 23/239). Hal ini karena mabit di mina di malam-malam hari-hari Tasyriq adalah satu kesatuan, maka jika hanya meninggalkan sebagiannya saja, seperti hanya meninggalkan satu malam saja maka tidak sampai membayar dam, akan tetapi cukup bersedekah sekedarnya disertai istighfar. Sebagaimana jika seseorang tatkala melempar jamarot kurang satu atau dua kerikil. Akan tetapi jika meninggalkan mabit secara kesuluruhan yaitu seluruh malam maka harus bayar dam. Sebagian ulama berpendapat bahwa jika mabit di Mina ditinggalkan satu malam saja maka wajib untuk membayar dam. (lihat al-Inshoof fi Ma’rifat Ar-Raajih min al-Khilaaf, Al-Mirdaawi 4/48).

Categories
Cara Haji

Sa’i Haji

Sa’i Haji

Setelah thowaf ifadhoh maka melakukan saí haji, dan tata cara saí telah lalu penjelasannya. Lihat artikel tentang Sa’i

Categories
Cara Haji

Thawaf Ifaadhah

Thowaf Ifaadhoh

  1. Thowaf ifadhoh/thowaf ziaroh/thowaf haji’ merupakan rukun haji, thowaf ini dilakukan setelah wuquf di padang Arofah. ([1])
  2. Disunnahkan untuk dikerjakan pada siang hari tanggal 10 dzulhijjah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam([2]).
  3. Waktu awal boleh mengerjakannya adalah setelah lewat tengah malam, yaitu bagi orang-orang yang lemah yang diizinkan untuk keluar dari Muzdalifah setelah lewat tengah malam([3])
  4. Tidak ada batas akhir waktu mengerjakan thowaf ifadhoh. Kapan seseorang mengerjakannya maka sah([4]).
  5. Bagi yang telah melakukan tahallul awal (setelah melempar dan mencukur) maka silahkan thowaf dengan baju biasa. Bagi yang belum bertahallul awal dan dari Muzdalifah langsung menuju thowaf maka tetap thowaf dengan menggunakan kain ihrom
  6. Dalam thowaf ifadhoh tidak disyariátkan ar-Romal dan idhthiba’([5]), karena keduanya hanya disyariátkan dalam thowaf qudum atau thowaf úmroh.
  7. Tatacara Thawaf lainnya yang telah dijelaskan di awal, juga berlaku pada pelaksanaan Thawaf Ifadhah. Lihat tata cara thawaf
  8. Setelah thowaf disunnahkan untuk sholat dua rakaát di belakang Maqam Ibrahim, bila memungkinkan, namun bila tidak maka boleh sholat di tempat lain dari Masjid Al Haram.

____________

Footnote:

([1]) Ibnu Qudamah berkata :

وَيُسَمَّى طَوَافَ الْإِفَاضَةِ؛ لِأَنَّهُ يَأْتِي بِهِ عِنْدَ إفَاضَتِهِ مِنْ مِنًى إلَى مَكَّةَ، وَهُوَ رُكْنٌ لِلْحَجِّ، لَا يَتِمُّ إلَّا بِهِ. لَا نَعْلَمُ فِيهِ خِلَافًا

“Dan dinamakan dengan thowaf Ifadhoh (bertolak/beranjak pergi) karena ia mengerjakannya ketika bertolak meninggalkan Mina menuju Mekah. Dan thowaf ini merupakan rukun haji, tidak sah haji tanpa mengerjakannya, kami tidak mengetahui ada khilaf akan hal ini” (Al-Mughni 3/390)

([2]) Jabir bin Abdillah berkata

فَأَفَاضَ إِلَى الْبَيْتِ، فَصَلَّى بِمَكَّةَ الظُّهْرَ

“Maka Nabi shallallahu álaihi wasallam pun menuju ka’bah (untuk thowaf ifadhoh) lalu beliau sholat dzuhur di Mekah” (HR Muslim no 1218)

Dalam hadits Ibnu Umar beliau berkata

أَفَاضَ يَوْمَ النَّحْرِ، ثُمَّ رَجَعَ فَصَلَّى الظُّهْرَ بِمِنًى

“Nabi melakukan thowaf ifadhoh pada hari an-Nahar lalu beliau kembali (ke Mina) dan sholat dzuhur di Mina” (HR Muslim no 1308)

([3]) Ini adalah pendapat Asy-Syafií. Adapun Abu Hanifah maka menurut beliau thowaf Ifadhoh hanya boleh dikerjakan setelah terbit fajar 10 Dzulhijjah. (lihat al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/391)

([4]) An-Nawawi Asy-Syafií berkata

أَنَّ مَذْهَبَنَا أَنَّ طَوَافَ الْإِفَاضَةِ لَا آخِرَ لِوَقْتِهِ بَلْ يَبْقَى مَا دَامَ حَيًّا وَلَا يَلْزَمُهُ بِتَأْخِيرِهِ دَمٌ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَلَا أَعْلَمُ خِلَافًا بَيْنَهُمْ فِي أَنَّ مَنْ أَخَّرَهُ وَفَعَلَهُ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَجْزَأَهُ وَلَا دَمَ فَإِنْ أَخَّرَهُ عَنْ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فقد قال جمهور العلماء كمذهبنا لاَ دَمَ

“Sesungguhnya madzhab kami (madzhab Syafií) bahwasanya thowaf Ifadhoh tidak batsa akhir waktu pelaksanaannya. Bahkan waktunya terus berlanjut selama ia masih hidup. Dan tidak wajib bayar dam jika menunda pelaksanaannya. Ibnul Mundzir berkata, “Dan aku tidak mengetahui adanya khilaf diantara para ulama tentang barang siapa yang menunda thowaf ifadhoh (dari hari nahar) lalu mengerjakannya tatkala hari tasyriq maka sah tidak perlu bayar dam. Dan jika ia menundanya hingga hari-hari tasyriq telah selesai maka mayoritas ulama berpendapat seperti madzhab kita, yaitu tidak perlu bayar dam” (Al-Majmuu’ 8/224)

Ibnu Qudamah Al-Hanbali berkata

وَالصَّحِيحُ أَنَّ آخِرَ وَقْتِهِ غَيْرُ مَحْدُودٍ؛ فَإِنَّهُ مَتَى أَتَى بِهِ صَحَّ بِغَيْرِ خِلَافٍ، وَإِنَّمَا الْخِلَافُ فِي وُجُوبِ الدَّمِ، فَنَقُولُ: إنَّهُ طَافَ فِيمَا بَعْدَ أَيَّامِ النَّحْرِ طَوَافًا صَحِيحًا، فَلَمْ يَلْزَمْهُ دَمٌ، كَمَا لَوْ طَافَ أَيَّامَ النَّحْرِ، فَأَمَّا الْوُقُوفُ وَالرَّمْيُ، فَإِنَّهُمَا لَمَّا كَانَا مُوَقَّتَيْنِ، كَانَ لَهُمَا وَقْتٌ يَفُوتَانِ بِفَوَاتِهِ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ الطَّوَافُ، فَإِنَّهُ مَتَى أَتَى بِهِ صَحَّ

“Yang benar bahwasanya akhir waktu thowaf ifadhoh tidak terbatas, kapan seseorang mengerjakannya maka sah thowafnya tanpa ada khilaf. Khilaf para ulama hanya pada apakah harus bayar dam atau tidak (karena menunda thowaf ifadhoh di luar hari nahar).  Maka kami katakan, sesungguhnya ia telah thowaf setelah hari nahar dengan thowaf yang sah -sebgaiamana jika ia thowaf di hari nahar- maka tidak wajib baginya untuk bayar dam. Adapun wuquf (di Árofah) dan melempar (jamaroot) maka keduanya dibatasi dengan waktu, jika telah lewat waktunya maka terluputlah keduanya. Hal ini tidak seperti thowaf, kapan seseorang mengerjakannya maka sah” (al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/391)

Adapun madzhab Abu Hanifah, maka barangsiapa yang menunda pelaksanaan thowaf Ifadhoh hingga selesai hari-hari tasyriq maka harus membayar dam. Akan tetapi pendapat jumhur ulama lebih kuat, karena hukum asal adalah tidak ada keharusan bayar dam hingga ada dalil yang menunjukannya. (lihat Al-Majmuu’8/224)

([5]) Ibnu Ábbas berkata

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَرْمُلْ فِي السَّبْعِ الَّذِي أَفَاضَ فِيهِ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu álaihi wasallam tidaklah melakukan ar-Romal tatakala thowaf ifadhoh 7 putaran” (HR Abu Dawud no 1746 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Categories
Cara Haji

Gundul atau Mencukur Pendek Rambut Kepala

Menggundul kepala atau mencukur pendek rambut kepala.

Dan menggundul lebih baik -sebagaimana telah lalu penjelasannya- Klik BACA

Categories
Cara Haji

 Menyembelih Hadyu

 Menyembelih Hadyu

1. Hadyu adalah hewan yang dibawa oleh jamaah haji atau umroh ke tanah haram untuk disembelih dan diserahkan kepada Allah. Diwajibkan bagi orang yang berhaji tamattu’ dan berhaji qiron. Adapun yang berhaji ifrod maka tidak wajib untuk menyembelih hadyu.

2. Syarat-syarat yang berlaku bagi hewan hadyu secara umum sama dengan syarat-syarat yang berlaku bagi hewan al-udhiyah (kurban)

  • Hewannya harus selamat (bebas) dari áib/cacat/sakit (tidak boleh buta, tidak boleh pincang, tidak boleh kurus, tidak boleh sakit)
  • Sebagaimana kurban, hadyu juga boleh isytirok (patungan), maka boleh para jamaáh haji 7 orang bergabung untuk menyembelih seekor onta atau seekor sapi. Namun jika sesoerang menyembelih seekor onta atau sapi sendirian maka tentu lebih baik. Bahkan Nabi shallallahu áliahi wasallam menyembelih 100 ekor onta.
  • Harus cukup umur, yaitu untuk (1) domba harus berusia minimal 6 bulan, (2) kambing jawa minimal 1 tahun, (3) sapi minimal 2 tahun, dan (4) onta minimal 5 tahun

3. Jika tidak mampu menyembelih hewan hadyu maka seorang yang berhaji boleh menggantinya dengan puasa 3 hari selama berada di kota Makkah ketikda sedang dalam rangka menunaikan ibadah  haji dan 7 hari setelah pulang ke tanah air.

  • Untuk puasa tiga hari maka ia boleh mulai berpuasa sejak ihrom untuk umroh tamattu’ (bagi yang haji tamattu’) atau ihrom haji (bagi yang haji qiron). Maka jamaáh haji yang sedang umroh tamattu’ atau selesai dari umroh tamattu’ maka boleh bagi mereka untuk berpuasa tiga hari
  • Yang terbaik adalah berpuasa 3 hari sebelum tanggal 9, agar tatkala tanggal 9 dzulhijjah ia dalam kondisi berbuka.
  • Jika ternyata ia tidak sempat berpuasa maka ia boleh berpuasa di hari-hari tasyriq (11, 12, dan 13 dzulhijjah)
  • Jika ia mengakhirkan puasa 3 hari dan tidak dikerjakan tatkala haji, maka wajib baginya mengqodonya setelah haji meskipun di tanah air, dan ia tidak terkena denda/fidyah.
  • Asalnya yang lebih afdol adalah seseorang berpuasa 7 hari di tanah air sepulang haji, namun jika ia telah selesai dari kegiatan haji dan waktu pulangnya masih lama maka ia boleh berpuasa yang 7 hari meskipun belum pulang ke tanah air.
  • Puasa 3 hari dan 7 hari boleh dikerjakan berurutan dan boleh terpisah-pisah

4. Waktu awal menyembelih hadyu adalah tanggal 10 Dzulhijjah -menurut jumhur ulama, hanafiyah, malikiyah, dan hanabilah-. Adapun syafiíyyah memebolehkan menyembelih hadyu sebelum tanggal 10 dzulhijjah jika seseorang telah berihrom umroh tamattu’. (Akan datang pembahasannya secara khusus)

5. Adapun waktu akhir menyembelih hadyu menurut pendapat yang shahih adalah sebelum terbenam matahari tanggal 13 dzulhijjah.

6. Para jama’ah haji hendaknya tidak membeli kambing hadyu kecuali kepada orang yang amanah, mengingat banyak penjual kambing yang tidak amanah.

Categories
Cara Haji

Melempar Jamarot

Melempar Jamarot

Hikmah melempar jamarot

Pertama : Untuk mengingat Allah

Allah berfirman :

وَاذْكُرُواْ اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

Dan berdzikirlah (dengan mengingat) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. (QS Al-Baqoroh 203)

Hari-hari berbilang tersebut adalah hari-hari tasyriq (lihat tafsir At-Thobari 3/549-553). Allah memerintahkan untuk berdzikir kepada Allah di hari-hari tersebut. Diantaranya adalah berdzikir kepada Allah dengan melempar jamarot. Karenanya setelah itu berfirman :

فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى

“Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa” (QS Al-Baqoroh : 203)

Ini menunjukan bahwa melempar jamarot dalam rangka berdzikir kepada Allah([1]). Didukung oleh hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu álaihi wasallam

إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ

“Hanyalah disyariátkan thowaf di ka’bah dan saí antara shofa dan marwah serta melempar kerikil (jamarot) adalah untuk menegakan dzikir kepada Allah”([2])

Karenanya tatkala seseorang melempar setiap kerikil disyariátkan untuk bertakbir sebagai bentuk pengagungan terhadap Allah.

Kedua : Meneladani Ibrahim álaihis salam dalam memusuhi dan tidak mentaati syaitan

Ibnu Ábbas meriwayatkan secara marfu’ :

«لَمَّا أَتَى إِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ اللَّهِ الْمَنَاسِكَ عَرَضَ لَهُ الشَّيْطَانُ عِنْدَ جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّانِيَةِ فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ، ثُمَّ عَرَضَ لَهُ عِنْدِ الْجَمْرَةِ الثَّالِثَةِ فَرَمَاهُ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ حَتَّى سَاخَ فِي الْأَرْضِ»

“Ketika Ibrahim kekasih Allah mendatangi manasik maka syaitan muncul menghadanginya/menggodanya di jamrotul Áqobah, maka Ibrahimpun melemparnya dengan tujuh kerikil hingga syaitan pun tenggelam ke bumi. Lalu syaitan pun menggodanya di jamarot yang kedua maka Ibrahimpun melemparnya dengan tujuh kerikil hingga hilang di telan bumi, lalu syaitan muncul dan menggoda beliau di jamroh yang ketiga, maka Ibrahimpun melemparnya dengan tujuh kerikil hingga menghilang di telan bumi”.

Ibnu Ábbas berkata الشَّيْطَانَ تَرْجُمُونِ وَمِلَّةَ أَبِيكُمْ تَتَّبِعُونَ “Kalian melempar syaitan dan kalian mengikuti agama ayah kalian (Ibrahim)”. (HR Al-Hakim no 1713 dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro 9693 dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albani dalam Shahih At-Trghiib no 1156)

Al-Ghozali berkata, “Adapun melempar jamarot maka jadikanlah tujuannya adalah untuk tunduk kepada perintah Allah dengan menampakan penghambaan dan membudakan diri kepadaNya, yaitu dengan semangat bangkit menjalankan perintahnya meskipun tidak memahami dan tidak keuntungan bagi jiwa. Lalu niatkan untuk meniru Nabi Ibrahim álaihis salam dimana beliau digoda oleh Iblis -yang dilaknat oleh Allah- di lokasi tersebut untuk memasukan syubhat kepada beliau atau untuk menjerumuskan beliau dalam kemaksiatan. Maka Allah memerintah beliau untuk melemparnya dengan batu untuk mengusirnya dan memutuskan harapannya.

Jika terbetik dalam benakmu bahwasanya syaitan memang menggoda Ibrahim dan disaksikan oleh Ibrahim maka Ibrahim pun melemparnya, adapun aku maka syaitan tidak muncul menggodaku, maka ketahuilah bahwa pikiran ini dari syaitan, dialah yang telah melemparkan pemikiran itu kepada hatimu agar engkau jadi malas melempar, dan ia mengkhayalkan kepadamu bahwa melempar jamarot adalah perbuatan yang tidak ada faidahnya dan hanya mirip dengan permainan belaka, maka cueklah darinya dan buanglah pemikiran tersebut dari dirimu dengan serius dan semangat dalam melempar sehingga menjengkelkan syaitan.

Ketahulilah sesungguhnya engkau meskipun secara dzhohir sedang melempar kerikil ke jamarot namun pada hakikatnya engkau sedang melempar wajah syaitan, dan engkau mematahkan pundaknya. Karena tidaklah menjadikan syaitan jengkel kecuali jika engkau menjalankan perintah Allah sebagai bentuk pengagungan kepada Allah dengan menjalankan perintahNya meskipun tidak ada manfaat bagi jiwa dan tidak bisa dipahami” (Ihyaa’ Úluum ad-Diin 1/270)

Asy-Syingqithi berkata, “Seakan-akan melempar jamarot merupakan lambang dan isyarat permusuhan kepada syaitan yang Allah telah memerintahkan kita untuk memusuhinya dalam firmanNya إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا “Sesungguhnya syaitan adalah musuh kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh” (QS Fathir : 6), dan juga dalam firmanNya -yang mengingkari orang-orang yang berwala kepada syaitan- أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ “Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS al-Kahfi : 50). Dan sebagaimana diketahui bahwasanya melempar dengan batu termasuk bentuk yang paling besar yang menunjukan akan permusuhan” (Adwaaul Bayaan 4/479-480)

Hukum-hukum yang berkaitan dengan melempar jamaroot

1. Jamarot di Mina ada 3 :

  • Al-Jamrot As-Sughro, yang teletak paling dekat dengan Mina
  • Al-Jamrot al-Wushtho, yang terletak setelah al-Jamrot as-Shugro, yaitu letaknya di pertengahan
  • Al-Jamrot al-Kubro (dinamakan juga dengan Jamrot al-Áqobah), yang terletak paling jauh dari Mina, yang terakhir, yang paling dekat dengan Mekah. Dan lokasi al-Jamroh ini bukan bagian dari Mina([3]). (yang tidak termasuk dari Mina ialah areal dibalik fisik Jumrah yg ke arah Makkah, adapun bagian jumrah yg ke arah Mina maka itu termasuk mina).

2. Tatkala tanggal 10 Dzulhijjah (Hari An-Nahr) maka yang dilempar hanyalah al-Jamroh al-Kubro (Jamrot al-Áqobah) sebanyak 7 kerikil.

3. Sunnahnya melempat jamarot al-Áqobah adalah setelah matahari terbit, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu álaihi wasallam. Akan tetapi boleh bagi orang yang diizinkan keluar dari Muzdalifah lewat tengah malam untuk langsung melempar jamrot al-Áqobah sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat.

4. Jika tidak sempat melempar di siang hari maka boleh melempar di malam hari. Dan waktu melempar memanjang hingga sebelum terbit fajar (adzan subuh) esok harinya. ([4])

5. Diantara syarat melempar :

  • Yang digunakan untuk melempar harus berupa batu kerikil. Maka tidak boleh melempar dengan menggunakan tanah, logam, pasir, dan aspal
  • Harus 7 kerikil pada setiap sumur lemparan (Jamrah)
  • Lemparnya harus satu per satu, tidak boleh 7 kerikil dilemparkan sekaligus
  • Kerikilnya harus masuk ke dalam sumur. Adapun tiang/dinding yang dibuat hanyalah sebagai petunjuk, bukan tujuan. Jika lemparan terlalu kuat di pinggiran sumur sehingga kerikilnya mental keluar sumur jamarat maka tidak sah.
  • Harus niat melempar. Jika tangan seseorang tersenggol oleh orang lain sehingga kerikilnya terjatuh masuk dalam sumur jamarot maka tidak sah, karena tidak ada niat melempar.
  • Kerikilnya harus dilempar, tidak hanya sekedar diletakan.

6. Kerikil yang digunakan untuk melempar ukurannya sedang, tidak terlalu kecil dan tidak juga terlalu besar. ([5])

Ibnu Ábbas berkata :

قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ الْعَقَبَةِ، وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى رَاحِلَتِهِ: ” هَاتِ الْقُطْ لِي ” فَلَقَطْتُ لَهُ حَصَيَاتٍ هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ، فَوَضَعَهُنَّ فِي يَدِهِ، فَقَالَ: ” بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ ” مَرَّتَيْنِ، وَقَالَ بِيَدِهِ – فَأَشَارَ يَحْيَى أَنَّهُ رَفَعَهَا – وَقَالَ: ” إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ

Rasulullah shallallahu álaihi wasallam berkata kepadaku di pagi hari melempar jamrot al-Áqobah, sementara beliau menunggangi onta beliau, “Carikan buatku (kerikil)”. Maka akupun mengambil untuk beliau kerikil-kerikil yaitu kerikil ukurang untuk mengutik, lalu beliau meletakkan kerikil-kerikil tersebut di tangan beliau lalu beliau berkata sebanyak dua kali, “Seperti (ukuran) kerikil-kerikil inilah (kalian melempar)”. Dan beliau berkata -dengan mengangkat tangannya-, “Waspadalah kalian dari sikap berlebih-lebihan dalam agama. Karena sesungguhnya umat sebelum kalian dibinasakan oleh sikap berlebihan dalam agama” (HR Ibnu Majah no 3029 dan Ahmad no 1851 dan 3248)

Ini menunjukan bahwa sikap berlebih-lebihan dalam ukuran kerikil adalah terlarang. ([6])

7. Hendaknya melempar dengan tangan kanan disertai takbir setiap kali lemparan kerikil

8. Tidak mengapa kerikil diambil dari manapun, karena tetap saja namanya adalah kerikil([7]). Hanya saja para ulama khilaf dari mana lebih utama untuk diambil, apakah dari Muzdalifah ataukah dari perjalanannya dari Muzdalifah menuju Mina ([8])

9. Kerikil-kerikil tersebut tidak perlu dicuci terlebih dahulu, karena ketika Nabi memerintahkan Ibnu Ábbas mencari kerikil posisi beliau sedang berada di atas onta beliau, dan tidak diriwayatkan bahwa beliau mencuci kerikil tersebut. ([9])

10. Jika seseorang tidak mampu untuk melempar jamarot karena sakit atau udzur yang sulit diharapkan hilangnya hingga akhir waktu melempar, maka boleh baginya untuk mewakilkan lemparannya. Yang perlu diperhatikan :

  • Wakilnya yang mau melemparkan hendaknya sudah melempar untuk dirinya terlebih dahulu.
  • Jika dia hendak mengambil nafar awal, maka janganlah ia keluar dari mina kecuali setelah wakilnya tersebut melempar

11. Setelah melempar jamrot al-Áqobah -baik pada tanggal 10 Dzulhijjah maupun tanggal 11,12,dan 13 Dzulhijjah- maka tidak disunnahkan berdoa. Hanyalah disunnahkan berdoa adalah setelah melempar al-Jamrot as-Shugro dan al-Jamrot al-Wushtho pada hari-hari tasyriik (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

12. Bagi yang berudzur kuat, maka boleh menggabungkan pelemparan 2 hari dilaksanakan pada satu hari.

Footnote:

([1]) Lihat Adwaaul Bayaan, Asy-Syinqithy 4/479

([2]) HR Abu Dawud no 1888, at-Tirmidzi no 902, An-Nawawi berkata, “Sanadnya seluruhnya shahih kecuali Úbaidillah, maka kebanyakan para ulama menilainya dhoíf (lemah) dengan kelemahan yang ringan” (Al-Majmuu’ 8/56), dan hadits ini dinilai dhoíf oleh Al-Albani.

([3]) Karena Mina adalah dari wadi al-Muhassir hingga Jamrotul Áqobah. Dan telah shahih dari Umar bin Al-Khotthob, Ibnu Umar, dan Ibnu Ábbas radhiallahu ánhum dimana mereka melarang orang-orang mabit di balik Jamrotul Áqobah (Lihat At-Taudhiih Li Syarh al-Jaami’As-Shahih, Ibnul Mulaqqin 11/448)

([4]) Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Ábbas, tatkala hari An-Nahar ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam رَمَيْتُ بَعْدَ مَا أَمْسَيْتُ “Aku melempar setelah masuk waktu petang”. Nabi berkata,  لاَ حَرَجَ “Tidak mengapa” (HR Al-Bukhari no 1735).

Meskipun orang yang bertanya kepada Nabi dalam hadits ini tidak melempar di malam hari, tapi di sore hari, akan tetapi dalam Bahasa Arab المَسَاءُ mencakup malam hari.

Secara Bahasa المَسَاءُ al-Masaa’ atau الإِمْسَاءُ al-Imsaa’ ada dua pendapat di kalangan ahli bahasa:

Pertama :  dari dzuhur hingga terbenam matahari.

Kedua :  dari dzuhur hingga tengah malam.

Al-Kholil bin Ahmad Al-Farohidi (wafat 170 H) berkata :

والمساء: بعد الظُّهْر إلى صلاةِ المَغْرِب. وقال بعضٌ: إلى نِصْفِ اللَّيل

“Al-Masaa’ (petang) adalah setelah dzuhur hingga sholat magrib. Sebagian berkata : hingga tengah malam” (Al-‘Ain 7/323, hal serupa dinyatakan oleh Al-Azhari (wafat 310 H) dalam kitabnya Tahdziib al-Lughoh 13/82 dan Az-Zabiidi dalam Taajul ‘Aruus 39/530)

Sehingga pendalilan dari hadits ini -akan bolehnya melempar di malam hari- dari tiga sisi :

  • Keumuman makna al-Masaa’ dalam Bahasa Arab yang mencakup makna awal malam. Dan Nabi juga tidak merinci kepada sang penanya, apakah dia melempar di akhir hari atau di awal malam?, yang ini menunjukan perkaranya lapang (lihat Asy-Syarh al-Mumti’ 7/354)
  • Karena Nabi tidak membatasi waktu melempar hingga kapan?. Dan tatkala Nabi tidak melarang atau membatasi maka hukum asalnya adalah boleh. (Lihat Majmuu Fataawaa Ibnu Baaz 17/368)
  • Diqiaskan dengan hari Arofah, sesungguhnya hari Arofah boleh wukuf lanjut hingga malam hari hingga sebelum terbit fajar bagi yang tidak bisa wuquf di siang hari, karena malamnya mengikuti hukum siangnya. Maka demikian pula tatkala melempar jamarot (lihat Asy-Syarh al-Mumti’ 7/355)

Sebagian ulama berpendapat jika seseorang tidak sempat melempar jamrot al-Áqobah di tanggal 10 Dzulhijjah hingga matahari tenggelam maka hendaknya dia melemparnya di tanggal 11 Dzulhijjah setelah masuk waktu dzuhur. Jadi ia mulai dulu melempar buat hari kemarin, setelah itu baru ia melempar untuk yang tanggal 11 (lihat Asy-Syarh al-Kabiir, Ibnu Qudaamah 9/203). Namun yang benar tidak mengapa dia melempar meski di malam hari.

([5]) Para ulama menjelaskan tentang ukuran kerikil untuk melempar jamaroot, yaitu kira-kira seukuran kacang merah, atau seukuran ruas jari, atau biji kurma. (lihat Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 8/191, Mirqoot Al-Mafaatiih 5/1815)

([6]) Meskipun sebagian ulama menyatakan jika lebih besar atau lebih kecil tetap saja sah hanya saja menyelisihi perintah Nabi shallallahu álaihi wasallam (lihat Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 8/191)

([7]) Lihat Al-Majmuu’ Syarh al-Muhadzdzab 8/124. Al-Imam Ahmad berkata  “Ambillah kerikil dari mana saja yang kau kehendaki” (Asy-Syarh al-Kabiir, Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi 9/188)

([8]) Dzohir hadits Ibnu Ábbas menunjukan Nabi menyuruh beliau mencari kerikil adalah di perjalanan menjelang melempar jamarotul áqobah di Mina. Akan tetapi para salaf (seperti Ibnu Umar radhiallahu ánhu dan Saíd bin Jubir rahimahullah) mereka mereka mengambil kerikil dari Muzdalifah agar bersiap-siap untuk melempar. Sehingga tatkala tiba di Mina yang pertama mereka lakukan adalah melempar dan tidak sibuk lagi mencari-cari kerikil. (lihat : Asy-Syarh al-Kabiir, Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi 9/188)

([9]) Bahkan sebagian ulama berpendapat jika ternyata ia melempar jamarot dengan kerikil yang ada najisnya maka tetap sah, karena ia telah melempar kerikil. (Lihat Asy-Syarh al-Kabiir, Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi 9/190).