Categories
76. Al-Insan

Tafsir Surat Al-Insan Ayat-21

21. عَٰلِيَهُمْ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ ۖ وَحُلُّوٓا۟ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ وَسَقَىٰهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

‘āliyahum ṡiyābu sundusin khuḍruw wa istabraquw wa ḥullū asāwira min fiḍḍah, wa saqāhum rabbuhum syarāban ṭahụrā
21. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.

Tafsir :

Disebutkan oleh Syaikh Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya At-Tahrir wa At-Tanwir bahwa سُنْدُسٍ (kain sutra yang halus) adalah jenis kain yang didatangkan dari India, sedangkan وَإِسْتَبْرَقٌ (kain sutra yang tebal) adalah jenis kain yang didatangkan dari Persia.([1]) Kedua model kain sutra ini dipakai oleh penghuni surga kelak. Dan sebagaimana kita melihat para ulama di Arab Saudi, mereka biasanya mengenakan jubah putih tebal yang kemudian dilapisi dengan jubah coklat yang tipis, sehingga jika mereka berjalan tampak karismatik, hebat, dan indah. Maka di surga pun demikian, penghuni surga akan memakai kain sutra yang tebal dan tipis.

Kemudian penghuni surga juga akan memakai gelang-gelang yang dahulu di dunia laki-laki dilarang menggunakannya. Akan tetapi raja-raja dahulu seperti Fir’aun, Kisra, dan para Kaisar menggunakan gelang. Maka di akhirat kelak laki-laki yang menjadi raja akan memakai gelang yang terbuat dari perak. Bahkan dalam ayat yang lain disebutkan,

يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا

Di sana mereka diberi perhiasan gelang-gelang emas dan mutiara.” (QS. Al-Hajj : 23)

Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam surah Fathir dan Al-Kahfi. Para ulama mengatakan bahwa ini adalah dalil bahwasanya di tubuh penghuni surga terdapat gelang yang terbuat dari perak dan ada pula yang terbuat dari emas. Sehingga segala jenis kenikmatan mereka miliki.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan,

وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

Dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (dan suci).”

طَهُورًا artinya adalah bersih dan membersihkan atau suci dan menyucikan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih (dan membersihkan).” (QS. Al-Furqan : 48)

Apa maksudnya minuman yang mensucikan? Secara umum ada dua tafsiran di kalangan para ulama,

Tafsiran pertama menyebutkan bahwa maksud mensucikan adalah ketika penduduk surga minum, maka seluruh makanan tidak berubah menjadi kotoran([2]). Oleh karenanya di surga tidak ada kotoran-kotoran yang biasa keluar dari tubuh manusia. Adapun makanan tersebut tercerna menjadi keringat yang baunya seperti Kasturi karena minum air tersebut. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ فِيهَا وَيَشْرَبُونَ، وَلَا يَتْفُلُونَ وَلَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَمْتَخِطُونَ، قَالُوا: فَمَا بَالُ الطَّعَامِ؟ قَالَ: جُشَاءٌ وَرَشْحٌ كَرَشْحِ الْمِسْكِ

Sesungguhnya penghuni surga makan dan minum di dalamnya, mereka tidak meludah, tidak kencing, tidak berak dan tidak ingusan”. Mereka bertanya ‘Bagaimana dengan makanannya?’ Beliau menjawab, ‘(mereka) bersendawa dan keringat (yang baunya) seperti minyak kesturi’.”([3])

Tafsiran kedua menyebutkan bahwa maksud minuman tersebut mensucikan adalah minuman itu membersihkan segala penyakit hati para penduduk surga. Jadi tatkala mereka minum air yang mensucikan tersebut, maka hati mereka bersih dari segala penyakit iri, dengki, hasad, dan akhlak tercela lainnya. Dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Katsir rahimahullah sebagaimana beliau sebutkan dalam tafsirnya.([4]) Dan semakin mereka minum air tersebut, maka mereka akan bertambah bahagia. Karena bukankah seseorang itu tidak bahagia ketika memiliki iri, dengki, hasad, dan jengkel di hatinya? Maka penduduk di surga akan diberikan minuman yang menghilangkan kotoran-kotoran di hati sehingga menambah kebahagiaan bagi mereka.

________________________________

Footnote :

([1])  At-Tahrir wa At-Tanwir 15/313

([2]) Lihat Al-Bahrul Muhith fi Tafsir 10/368.

([3])  HR. Muslim no. 2835

([4])  Tafsir Ibnu Katsir 8/293.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *