Categories
77. Al-Mursalat

Tafsir Surat al-Mursalat Ayat-27

27. وَجَعَلْنَا فِيهَا رَوَٰسِىَ شَٰمِخَٰتٍ وَأَسْقَيْنَٰكُم مَّآءً فُرَاتًا

wa ja’alnā fīhā rawāsiya syāmikhātiw wa asqainākum mā`an furātā
27. dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar?

Tafsir :

Dalam beberapa ayat, Allah ﷻ menyebutkan fungsi gunung-gunung di antaranya,

وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 15)

Perlu untuk diketahui bahwa ayat ini dijadikan bahan ejekan oleh orang-orang Nasrani. Mereka mengatakan bahwa Allah ﷻ menciptakan gunung agar bumi tidak berguncang, akan tetapi kenyataannya gunung-gunung itu adalah sebab gempa.        Adapun bantahan untuk mereka, para ulama menjelaskan bahwasanya gunung itu sebagai pasak, dan yang menjulang ke bawah itu bisa jadi lebih panjang daripada yang menjulang ke atas, sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS. An-Naba’ : 7)

Ahli Geologi menyebutkan bahwa fungsi gunung sebagai pasak tersebut untuk mengurangi getaran lempengan bumi, karena menurut mereka lempengan bumi senantiasa bergerak. Maka jika tidak ada gunung yang menahannya, maka akan sering terjadi gempa. Akan tetapi tatkala ada gunung, maka guncangan akan tertahan. Oleh karenanya tatkala terjadi gempa, yang hancur adalah lokasi yang jauh dari gunung, sementara lokasi yang berada di dekat gunung itu aman. Adapun gunung yang mengeluar lahar panas, maka pembahasannya pun berbeda, karena Allah ﷻ juga berbicara yang lain dalam hal ini.

Dan tidak ada yang menjelaskan hakikat gunung seperti Islam. Lihatlah orang-orang Yunani, mereka menganggap gunung sebagai sesuatu tempat yang mulia, sehingga mereka mengatakan bahwa dewa-dewa mereka tinggal di gunung. Demikian pula orang-orang Jepang yang mengagungkan gunung Fuji. Demikian pula orang-orang India mengagungkan gunung Himalaya, dan mereka mengatakan bahwa dewa-dewa mereka berada di gunung-gunung. Sebagaimana pula sebagian orang Indonesia yang mengagungkan gunung agung. Intinya menurut sebagian mereka gunung adalah tempat yang megah dan tempat Tuhan-Tuhan atau dewa-dewa mereka berkumpul. Adapun Islam menganggap gunung adalah makhluk Allah biasa yang diciptakan untuk menghiasi bumi dan agar bumi tidak banyak guncangan.

Adapun jika kita perhatikan dalam Injil, kita akan dapati keterangan yang kontradiksi. Dalam Injil Matius 17:22 disebutkan,

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan tak akan ada yang mustahil bagimu.” (Matius. 17.22)

Maka jika kita tanyakan kepada mereka tentang sebesar apa iman mereka sekarang, tentu mereka akan menjawab bahwa iman mereka lebih besar daripada biji sawi. Maka seharusnya mereka sekarang telah bisa memindahkan gunung hanya dengan sekali perintah. Akan tetapi siapa yang bisa mempraktikan ayat ini? Jika tidak, berarti iman mereka semuanya kacau. Dalam kitab Mazmur berbunyi,

Gunung-gunung melompat-lompat seperti domba jantan, dan bukit-bukit seperti anak domba.” (Mazmur. 114.4)

Sungguh aneh penjelasan orang-orang Nasrani. Penjelasan gunung-gunung dalam kitab mereka sungguh jauh dari kata logis dan ilmiah, berbeda dengan penjelasan Islam.

Di ayat ini pula Allah ﷻ sebutkan nikmat-nikmat yang Dia berikan kepada manusia.

Inilah dalil ketiga yang Allah ﷻ bawakan. Dalil yang Allah ﷻ bawakan ini menerangkan tentang Allah yang menjadikan bumi, matahari, bulan, gunung-gunung, air untuk diminum, dan yang lainnya. Maka jika ini semua Allah ﷻ mampu ciptakan, maka tentu membangkitkan manusia pada hari kiamat adalah hal yang lebih mudah bagi Allah ﷻ. Inilah dalil ketiga yang Allah ﷻ terangkan kepada Abu Jahal dan teman-temannya, bahwasanya hari kebangkitan adalah hal yang mungkin terjadi.

Dan dengan menjelaskan keadaan dan apa yang terjadi di bumi: Allah azza wa jalla menekankan akan keesaanNya, dan dialah satu-satunya yang berhak untuk disembah. ([1]).

___________________

Footnote :

([1])  At-Tahrir Wa At-Tanwir, 29/433

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *