Categories
77. Al-Mursalat

Tafsir Surat al-Mursalat Ayat-15

15. وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn
15. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Tafsir :

Allah ﷻ mengulang ayat ini dalam surah Al-Mursalat sebanyak sepuluh kali. Dan hal ini bukanlah kebiasaan Allah ﷻ pada surah-surah yang lain. Al-Qurthubi rahimahullah menafsirkan bahwa Allah ﷻ mengulang ayat ini berkali-kali karena banyak hal yang orang-orang musyrikin Arab dustakan. Mereka mendustakan hari kiamat, mendustakan hari kebangkitan, mendustakan Nabi ﷺ, mendustakan Alquran, dan yang lainnya  ([1]). Karena saking banyaknya hal yang mereka dustakan, maka Allah ﷻ mengakatan “Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran)” berkali-kali sebanyak bentuk kedustaan mereka. Dan pengulangan ayat ini merupakan peringatan bahwasanya Allah ﷻ akan mengazab mereka sesuai kadar kedustaan mereka, karena jika Allah ﷻ telah memberikan azab maka azab tersebut akan detail. Oleh karenanya Imam Al-Quthubi rahimahullah menyebutkan bahwa pengulangan ayat bukan sekedar mengulangi penekanan, akan tetapi karena pendustaan mereka yang banyak sehingga harus diperinci satu persatu.

Adapun وَيْلٌ, terdapat dua penafsiran tentang kata ini. وَيْلٌ secara bahasa bermakna celaka. Adapun secara istilah, وَيْلٌ adalah وَادٍ فِي جَهَنَّمَ yaitu nama lembah yang ada di neraka Jahannam) ([2]), dan lembah tersebut berisi kotoran-kotoran yang terkumpul. Sebagaimana kita ketahui bahwa penghuni neraka memiliki kotoran-kotoran berupa darah, nanah, serta cairan dari kemaluan mereka. Semua kotoran busuk tersebut mengalir dan terkumpul pada suatu lembah di neraka yang bernama lembah وَيْلٌ. Akan tetapi penafsiran secara istilah ini tidak memiliki dalil yang sahih, hanya saja sebagian para salaf menyebutkan ini sebagai tafsiran dari kata وَيْلٌ.

Adapun sebagian ulama mengatakan bahwa وَيْلٌ dalam ayat ini bermakna umum yaitu ungkapan “celaka” ([3]). Adapun azab apa yang Allah ﷻ akan berikan kepada mereka itu menjadi urusan Allah ﷻ. Dan pendapat ini merupakan pendapat yang lebih benar.

___________________________

Footnote :

([1])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 19/158

([2])  Lihat: Fathul Qadir 5/431

([3])  Lihat: Tafsir As-Sa’di hal. 904

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *