Categories
83. Al-Muthaffifin

Tafsir Surat al-Muthaffifin Ayat-6

6. يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

yauma yaqụmun-nāsu lirabbil-‘ālamīn
6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Tafsir:

Hari kiamat memiliki nama-nama lain yang banyak, diantaranya yaumul qiyamah. Dinamakan yaumul qiyamah diambil dari mashdar dari قَامَ يَقُوْمُ قِيَامًا yang artinya adalah “berdiri”. Adapun al-qiyamah yaitu diambil dari القِّيَامُ yang ditambahkan dengan ة di akhirnya sebagai bentuk mubaalaghoh (hiperbola), sehingga maknanya adalah benar-benar berdiri. Hal ini dikarenakan manusia pada hari kiamat kelak akan berdiri dalam waktu yang sangat lama untuk menanti kedatangan Allah untuk menyidang mereka (Lihat Tafsir At-Thobari 24/188-192)

Hari tersebut adalah hari yang sangat mengerikan. Allah menurunkan matahari sampai berjarak 1 mil, sehingga manusia dalam keadaan yang sangat parah dan sangat kepanasan. Ditambah manusia pada hari itu dibangkitkan dalam keadaan telanjang bulat, tidak memakai alas kaki, belum disunat, dan tidak membawa apa-apa. ‘Aisyah menggambarkan peristiwa ini yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ

“Manusia akan digiring pada hari kiamat (di Padang Mahsyar) dalam keadaan tidak memakai alas kaki, telanjang, dan belum dikhitan”. Lalu ‘Aisyah berkata, ”Wahai Rasulullah, perempuan dan laki-laki semuanya? Sebagian mereka melihat sebagian lainnya?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Keadaannya lebih mengerikan dari membuat mereka berpikir demikian”. (HR Muslim no. 2859)

Bagaimana tidak, manusia dikumpulkan di atas suatu dataran yang rata, tidak ada gunung dan tidak ada lembah yang disebut dengan padang mahsyar. Ditambah matahari didekatkan hingga jarak 1 mil. Semua manusia sejak nabi Adam ‘alaihissallam sampai manusia yang terakhir hidup di bumi dikumpulkan di padang mahsyar tersebut. Mereka berdiri menunggu kehadiran Allah subhanallahu wata’ala dalam keadaan penuh ketakutan. Keringat mereka bercucuran, sampai-sampai disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bahwasanya keringat seseorang sesuai dengan imannya. Orang yang imannya tinggi maka keringatnya akan sedikit. Sebaliknya semakin buruk imannya maka semakin tinggi keringatnya. Ada yang keringatnya sampai betisnya, ada yang sampai pahanya, pinggangnya, mulutnya, kepalanya, wajahnya. Inilah bukti dahsyatnya hari kiamat.

Nabi bersabda :

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ، فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا» قَالَ: وَأَشَارَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ

“Matahari pada hari kiamat didekatkan kepada manusia, hingga jaraknya dari mereka hanya satu mil. Maka orang-orang berdasarkan amalannya dalam hal keringat. Ada diantara mereka yang keringatnya hingga dua mata kakinya, diantaranya ada yang keringatnya hingga kedua lututnya, ada yang keringatnya hingga kedua pinggangnya, dan ada yang keringatnya samapi ke mulutnya menahan mulutnya” (HR Muslim No. 2864)

 

Pada hari itu Allah membangkitkan manusia dengan bentuk yang lain. Allah membuat manusia kuat untuk menahan panasnya matahari dalam kepayahan, dan meskipun tidak ada makanan dan minuman. Oleh karena itu, meskipun manusia dalam kondisi yang sangat sulit dan kepanasan, namun mereka kuat dan tidak bisa mati. Adapun sekarang, seandainya matahari diturunkan sedikit saja, mungkin manusia sudah binasa.

Pada hari itu semua manusia menanti kapan Allah akan memulai persidangannya. Ada yang mengatakan manusia menunggu sampai 40.000 tahun, ada pula yang mengatakan 50.000 tahun, intinya manusia menunggu dalam waktu yang sangat lama.

Adapun orang-orang beriman maka mereka merasa menunggu hanya dalam waktu yang singkat. Abu Sa’id al-Khudri berkata :

قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَوْمًا  كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، مَا أَطْوَلَ هَذَا الْيَوْمَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهُ لَيُخَفَّفُ عَلَى الْمُؤْمِنِ، حَتَّى يَكُونَ أَخَفَّ عَلَيْهِ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ يُصَلِّيهَا فِي الدُّنْيَا

“Dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : Suatu hari yang ukurannya 50 ribu tahun, sungguh betapa panjang hari tersebut?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Demi Yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh diringankan bagi seorang mukmin, hingga lebih ringan dari sholat fardu yang ia kerjakan di dunia” (HR Ahmad no 11717) [1]

[1] Namun hadits ini lemah karena dari periwayatan Ibnu Lahi’ah dari Darooj Abu As-Samh dari Abul Haitsam dari Abu Sa’id al-Khudri. Dan Ibnu Lahi’ah dan Darroj keduanya adalah perawi yang dho’if. Hadits ini didho’ifkan oleh Al-Albani (dalam Al-Misykaah no 5564 dan para pentahqiq Musnad Al-Imam Ahmad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *