Categories
89. Al-Fajr

Tafsir Surat al-Fajr Ayat-13

12. فَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا ٱلْفَسَادَ

fa akṡarụ fīhal-fasād
lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.

Tafsir Surat al-Fajr Ayat-13

Karena mereka banyak melakukan kerusakan maka Allah berikan adzab kepada mereka yaitu adzab di dunia sebelum di akherat kelak akan ditimpakan adzab lagi yang lebih berat. Allah memberi ungkapan dengan “cemeti” yang menunjukan adzab yang Allah timpakan kepada mereka adalah ringan dibandingkan dengan adzab yang akan mereka terima di akhirat. Allah hanya mengirim angin untuk memporak-porandakan kaum ‘Ad, Allah hanya mengadzab dengan suara yang menggelegar untuk kaum Tsamud, dan Allah hanya menjadikan laut menutup Fir’aun dan bala tentaranya. Ini semua adalah adzab yang mudah bagi Allah.

Firaun dan kaumnya diadzab oleh Allah dengan cara ditenggelamkan oleh Allah. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya. Dalam Al-Quran Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ

“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yag kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam)’.” (QS Thaha : 77)

Setelah Musa memukulkan tongkatnya maka terbukalah laut merah, seketika permukaan tanahnya menjadi kering sehingga mudah untuk dipijak. Disebutkan bahwa laut tersebut terbelah menjadi 12 jalur karena bani Israil ada 12 suku, dan masing-masing jalur tersebut dibatasi oleh lautan  yang naik menjulang seperti gunung akan tetapi lautan tersebut masih ada celah-celahnya seperti jarring-jaring yang berlobang sehingga setiap suku masih bisa melihat suku yang lain dan memastikan bahwa semuanya selamat. Setelah Nabi Musa berhasil melewatinya, Nabi Musa ingin memukulkan tongkatnya kembali agar lautnya tertutup. Namun Allah menegurnya, Allah berfirman:

فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ (23) وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ (24)

“(23) (Allah berfirma), ‘Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar; (24) dan biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka, bala tentara yang akan ditenggelamkan’.” (QS Ad-Dukhan : 23-24)

Nabi Musa pun tidak jadi memukulkan tongkatnya dan membiarkan lautannya tetap terbuka. Akhirnya dalam keadaan laut yang masih terbelah, Firaun pun melanjutkan pengejarannya terhadap Nabi Musa setelah sebelumnya ia ragu, namun Fir’aun terpaksa menyabarkan dirinya di hadapan para pembesarnya -ia jaga gengsi- setelah itu ia meyakinkan pasukannya untuk masuk menyeberangi lautan. Namun ketika Firaun dan pasukannya seluruhnya telah berada di tengah laut, Nabi Musa pun memukulkan tongkatnya. Laut pun tertutup kembali atas izin Allah dan Allah membinasakan mereka semua. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/254)

Allah menggunakan ibarat صَبَّ “menuangkan” sebagai kiasan seperti tertuangnya air yang terus menerus kepada seseorang yang sedang mandi dan sebagaimana air hujan yang tertuangkan ke atas muka bumi. Yang hal ini menunjukan bahwa adzab yang menimpa mereka sekali tahapan saja, cepat, dan datang dengan tiba-tiba. Kaum ‘Aad melihat angin seperti awan dan menyangka itu adalah karunia ternyata adzab. Kaum Tsamud tidak tahu adzab apa yang akan menimpa mereka ternyata suara yang sangat keras yang mencabut nyawa mereka. Fir’aun dan bala tentaranya masuk di tengah lautan yang terbuka dan tidak menduga ternyata lautan tersebut tiba-tiba menenggelamkan mereka. (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 30/322)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *