Categories
Bekal Zakat

Hukum Menunda Membayar Zakat

Hukum Menunda Membayar Zakat

Zakat harus ditunaikan dengan segera jika telah memasuki waktu wajib mengeluarkan zakat. Adapun jika ada uzur syar’i yang membuatnya menunda membayar zakat maka ini tidak mengapa([1]). Ini adalah pendapat mayoritas ulama.([2])

Dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya untuk bersegera membayar zakat:

Pertama: Firman Allah ﷻ,

﴿وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ﴾

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’ (QS. Al-Munafiqun:10)

Al-Qurthubi rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini,

يَدُلُّ عَلَى وُجُوبِ تَعْجِيلِ أَدَاءِ الزَّكَاةِ، وَلَا يَجُوزُ تَأْخِيرُهَا أَصْلًا

“Firman Allah ini menunjukkan wajibnya menyegerakan untuk menunaikan zakat dan pada asalnya tidak boleh diakhirkan.” ([3])

Kedua: Firman Allah ﷻ,

﴿وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ﴾

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. (Al-Baqarah:43)”

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

أَنَّ الْأَمْرَ الْمُطْلَقَ يَقْتَضِي الْفَوْرَ

“Bahwasanya perintah mutlak berkonsekuensi untuk dikerjakan dengan segera.” ([4])

Ketiga: Dari sahabat Uqbah bin al-Harits radhiallahu ‘anhu,

صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ العَصْرَ، فَأَسْرَعَ، ثُمَّ دَخَلَ البَيْتَ فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ خَرَجَ، فَقُلْتُ أَوْ قِيلَ لَهُ، فَقَالَ: كُنْتُ خَلَّفْتُ فِي البَيْتِ تِبْرًا مِنَ الصَّدَقَةِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُبَيِّتَهُ، فَقَسَمْتُهُ

“Nabi shalat Asar  bersama kami, tiba-tiba beliau dengan tergesa-gesa memasuki rumah. Tidak lama kemudian beliau keluar, dan aku bertanya atau beliau ditanya tentang ketergesaannya itu. Maka Beliau berkata, ‘Aku tinggalkan dalam rumah sebatang emas dari harta sedekah,’ dan aku tidak suka bermalam dalam keadaan harta tersebut masih bersamaku, maka aku membagi-bagikannya.” ([5])

Syekh Utsaimin rahimahullah juga berkata,

أنَّ الإنسانَ لا يَدري ما يعرِضُ له، فهو إذا أخَّرَ الواجِبَ، يكون مخاطِرًا؛ فقد يموتُ ويبقى الواجِبُ في ذِمَّتِه

“Sesungguhnya seseorang tidak tahu apa yang akan menimpa dirinya. Ketika dia mengakhirkan zakat maka ini akan membahayakan dirinya. Karena bisa saja dia mati sedangkan dia masih menanggung kewajiban membayar zakat.” ([6])

Beliau  rahimahullah juga berkata,

أنَّ تأخيرَ الواجِباتِ يلزمُ منه تراكُمُها، وحينئذٍ يُغرِيه الشَّيطانُ بالبُخلِ إذا كان الواجبُ مِنَ المالِ، أو بالتكاسُلِ إذا كان الواجِبُ مِن الأعمالِ البدنيَّةِ

“Sesungguhnya menunda membayar zakat bisa menyebabkan menumpuknya zakat yang harus dibayarkan. Maka saat itu, setan akan menggodanya dengan rasa pelit jika yang wajib tersebut berupa harta. Begitu juga setan akan menggodanya dengan rasa malas jika yang wajib tersebut berupa amalan badan.” ([7])

Permasalahan:

Seandainya seseorang mengakhirkan zakat kemudian hartanya bertambah, maka manakah yang menjadi acuan?

Syekh Utsaimin rahimahullah berkata,

لو أخَّر الزَّكاةَ عن مَوعِدِها ثم زاد مالُه؛ فإنَّ المُعتبَرَ وقتُ وُجوبِها عند تمامِ الحَوْل، فلو كانت تجِبُ في رمضانَ ومالُه عشَرةُ آلافٍ، فأخَّرَها إلى ذي الحجَّةِ، فبلَغَ مالُه عشرينَ ألفًا، فلا زكاةَ عليه إلَّا في العَشَرةِ

“Seandainya seseorang menunda zakatnya dari waktunya kemudian hartanya bertambah, maka yang menjadi acuan adalah nilai harta ketika mencapai haul. Seandainya zakat tersebut wajib dikeluarkan pada bulan Ramadan sedangkan hartanya saat itu berjumlah sepuluh ribu rial. Kemudian dia mengakhirkannya hingga bulan Zulhijah dan hartanya mencapai dua puluh ribu rial, maka yang wajib dizakatkan adalah yang sepuluh ribu rial.” ([8])

Footnote:

____________

([1]) Alasannya adalah qiyas kepada bolehnya menunda membayar utang jika ada uzur. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَلِأَنَّهُ إذَا جَازَ تَأْخِيرُ قَضَاءِ دَيْنِ الْآدَمِيِّ لِذَلِكَ، فَتَأْخِيرُ الزَّكَاةِ أَوْلَى.

“Jika boleh menunda membayar utang karena khawatir tertimpa mudarat, maka bolehnya menunda membayar zakat lebih utama.” [Lihat: Al-Mughni (2/510)].

Begitu juga jika sedekah di suatu tempat berlebih, maka boleh mengalihkannya ke daerah lainnya. Tentunya hal ini menyebabkan tertundanya pembayaran zakat. [Lihat: Majallah al-Buhuts al-Islamiyah (33/131)].

([2]) Adapun sebagian ulama mazhab Hanafi mengatakan bahwa waktu wajib mengeluarkan zakat adalah lapang [Lihat: Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab (5/335)]. Akan tetapi, yang lebih kuat adalah pendapat wajibnya untuk segera membayar zakat sebagaimana telah dijelaskan dalil-dalilnya.

([3]) Tafsir al-Qurthubi (18/130).

([4]) Al-Mughni (2/510).

([5]) HR. Bukhari No. 1430.

([6]) Syarh al-Mumti’ (6/327).

([7]) Syarh al-Mumti’ (6/327).

([8]) Syarh al-Mumti’ (6/190).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *